Perhelatan Malam Transendental: Kata, Jiwa, lan Semesta akan digelar di Tuan Besar Coffee, kawasan kuliner depan SMA Negeri 1 Slawi...
PUISI karya Sudirman Said berjudul “Sajak Rakyat Semesta” dalam versi bahasa Tegalan, akan dibacakan secara khusus oleh penyair Apas Khafasi yang akrab menyebut dirinya sebagai Si Manusia Nol, pada perhelatan sastra dan spiritual bertajuk Malam Transendental: Kata, Jiwa, lan Semesta di Kabupaten Tegal.
Puisi yang akan dikutip dan dibacakan secara lengkap tersebut, merupakan hasil penerjemahan dari karya berjudul sama yang terhimpun dalam buku “Berpihak pada Kewajaran” terbitan Kompas pada tahun 2018. Puisi selengkapnya:
SAJAK RAKYAT SEMESTA
Karya Sudirman Said
Negeri kiyé dékéné rakyat semesta//dudu rézim sapriode atawané//rong priode//Apa maning saglintir oknum//sing dodolan
Negeri kiyé kudu diurus//daning tangan-tangan bersih//blas ora duwé cacat//
Pancén dudu malékat//sing beléh nyangga dosa//mung saora-orané//menungsa-menungsa jujur//lempeng, tur bisa nyambet gawé
Negeri kiyé kudu terus maju//rikat, tinuju pepesténé//karo tumindak tegap//singkiren onak, duri//lan segenap pasangkala
Siji perkara kelar//nyusul sekandang bentang masalah//kudu diudari
Butuh kinclongé ati//kosih megawé kelar//Kesabaran révolusionér//mandepé sikap bakal ngalahna//apa baé nafsu ora sebaéné
Ikhtiar ora kena magol//kosih siji turut siji kasilé//bisa dipetik
Republik Indonesia//dékéné rakyat semesta//aja kosih nglepésé//maring mafia
Mung siji//sing bisa meksa haluané://segerombolan pemiliké
Negeri kiyé dékéné rakyat semesta//kur maring rakyat kabéhané hidmat//kudu dilanggengna
Merdéka!
28 Maret 2016
Melalui larik-larik yang menegaskan bahwa negeri ini adalah milik seluruh rakyat, puisi tersebut menghadirkan suara nurani tentang kejujuran, tanggung jawab, dan keberpihakan pada kepentingan bersama.
Selasa, 16 Juni 2026, pukul 19.30 WIB hingga selesai itu, perhelatan Malam Transendental: Kata, Jiwa, lan Semesta itu akan digelar di Tuan Besar Coffee, kawasan kuliner depan SMA Negeri 1 Slawi, Jalan KH. Wahid Hasyim, Kabupaten Tegal.
Penyelenggara Komunitas Sastrawan Tegalan (KST) bekerja sama dengan Tuan Besar Coffee dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Malam yang dirancang sebagai ruang perjumpaan antara sastra, spiritualitas, dan kemanusiaan itu akan menghadirkan pembacaan puisi, tausiah, santunan anak yatim, serta diskusi sastra.
Ketua penyelenggara dari pihak Tuan Besar Coffee mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi wadah apresiasi sastra, tetapi juga sarana berbagi kepada sesama.
“Insya Allah kami akan memberikan santunan kepada anak yatim dari wilayah Slawi dan Kota Tegal,” ujarnya didampingi pengurus Komunitas Sastrawan Tegalan, Endhy Kepanjen.
Rangkaian acara akan diawali dengan penyerahan santunan kepada anak-anak yatim. Setelah itu, Apas Khafasi akan membacakan Sajak Rakyat Semesta sebagai pembuka perjalanan batin malam tersebut.
Usai pembacaan puisi karya Sudirman Said itu, panggung akan menjadi milik Abu Ma'mur MF yang akan membawakan tujuh puisi tunggal karya Lanang Setiawan yang dipetik dari novel Tegalerin Jogéd Transendental. Melalui suara, jeda, dan penghayatan yang mendalam, pembacaan itu diharapkan menghadirkan pengalaman estetik yang menghubungkan kata dengan batin, serta batin dengan semesta.
Acara kemudian dilanjutkan dengan tausiah oleh Ustadz Tsany bin Khambali dari Kota Tegal. Dalam ceramahnya, ia akan mengupas makna Tahun Baru Islam 1448 Hijriah sebagai momentum hijrah kesadaran, berpindah dari kegelapan menuju terang, dari kelalaian menuju kebijaksanaan, serta dari kegaduhan dunia menuju kejernihan jiwa.
Puncak kegiatan akan menghadirkan pemerhati sastra Muarif Essage. Ia akan mengulas berbagai aspek sastra Tegalan, termasuk teknik pembacaan puisi pendek berbahasa Tegal yang dikenal dengan nama Puisi Tegalerin 2-4-2-4.
Bentuk puisi tersebut menuntut ketepatan irama, pengaturan jeda, serta penghayatan yang mendalam agar ruh yang terkandung dalam setiap larik dapat tersampaikan secara utuh kepada pendengar.
-Tak Berheti Sebagai Bunyi
Malam Transendental bukan sekadar sebuah acara. Ia merupakan ikhtiar mempertemukan sastra, spiritualitas, dan kepedulian sosial dalam satu ruang yang sama. Ketika kata-kata tidak lagi berhenti sebagai bunyi, melainkan menjelma cahaya yang menuntun manusia untuk mengenali dirinya, bangsanya, dan semesta yang menaunginya.
Sebagai pembuka malam itu, hadirin akan diajak menyimak Sajak Rakyat Semesta, sebuah puisi yang lahir dari kegelisahan sekaligus harapan. Sebuah sajak yang mengingatkan bahwa negeri ini pada akhirnya adalah milik seluruh rakyat, dan karena itu harus dijaga dengan kejujuran, kewajaran, serta pengabdian yang tulus.
Ketika larik terakhirnya menggemakan kata “Merdéka!”, puisi tersebut sesungguhnya tidak berakhir. Ia justru memulai percakapan panjang di dalam hati setiap pendengarnya.