Minggu, 12/04/2026, 09:56:45
446 Tahun Kota Tegal: Menguji Ketangguhan di Balik Slogan "Pantang Ngangluh"
LAPORAN TAKWO HERIYANTO

PanturaNews (Tegal) - Tepat pada 12 April 2026, Kota Tegal genap berusia 446 tahun. Sebuah usia yang matang bagi kota yang dikenal sebagai "Jepangnya Indonesia". 

Tahun ini menjadi istimewa karena dirayakan di bawah nakhoda kepemimpinan baru, Dedy Yon Supriyono dan Tazkiyatul Muthmainnah, yang membawa visi besar, yaikni Tegal Berdikari dan Sejahtera.

Slogan Hari Jadi kali ini, "Tegal Tangguh Pantang Ngangluh", mencerminkan karakter wong Tegal yang keras, ulet, dan pekerja keras. Namun, di balik perayaan yang meriah, ada beberapa catatan kritis yang perlu kita renungkan bersama agar visi "Berdikari" bukan sekadar barisan kata di papan reklame.

1. Sinkronisasi Estetika dan Ekonomi Sektor Informal

Kepemimpinan Dedy Yon pada periode sebelumnya dan berlanjut saat ini dikenal sangat fokus pada revitalisasi wajah kota. Trotoar yang cantik dan lampu jalan yang ikonik memang meningkatkan kebanggaan warga.

Namun, pembangunan fisik jangan sampai meminggirkan pedagang kaki lima (PKL) yang menjadi tulang punggung ekonomi rakyat. Penataan harus bersifat inklusif, bukan eklusif. Pemerintah perlu memastikan bahwa ruang publik yang estetik juga menyediakan kantong-kantong niaga yang layak bagi UMKM agar kemandirian ekonomi benar-benar terwujud hingga lapisan terbawah.

2. Mengatasi Banjir dan Rob: Ujian "Ketangguhan" yang Sebenarnya

Slogan "Pantang Ngangluh" (Pantang Mengeluh) jangan sampai disalahartikan sebagai ajakan agar warga memaklumi masalah menahun. Masalah banjir dan rob di wilayah Tegal Barat dan Tegal Timur masih menjadi pekerjaan rumah yang besar.

Percepatan integrasi sistem drainase perkotaan dengan teknologi pompa yang modern harus menjadi prioritas dalam 100 hari kerja pertama periode ini. Ketangguhan sebuah kota diukur dari kemampuannya melindungi warga dari bencana ekologis.

3. Transformasi Digital dan Birokrasi

Sebagai kota yang ingin berdikari, digitalisasi pelayanan publik di bawah duet Dedy-Tazkiyatul harus naik kelas. Masyarakat mengharapkan birokrasi yang cepat, transparan, dan minim pungli.

Dengan latar belakang Wakil Wali Kota yang dinamis, diharapkan ada sentuhan segar dalam pemberdayaan perempuan dan pemuda melalui literasi digital. Jangan ada lagi warga yang harus antre berjam-jam hanya untuk urusan administrasi yang seharusnya bisa selesai lewat ponsel.

4. Menjaga Identitas Budaya di Tengah Modernitas

Pembangunan infrastruktur yang masif terkadang melupakan aspek heritage. Kota Tegal memiliki sejarah panjang sejak era Ki Gede Sebayu.

Revitalisasi kawasan cagar budaya jangan hanya fokus pada pengecatan ulang, tapi juga pada reaktivasi nilai-nilai lokal. Tegal harus maju tanpa kehilangan jati diri sebagai kota bahari yang agamis dan egaliter.

Selamat Hari Jadi ke-446, Kota Tegal! Kita mengapresiasi semangat Wali Kota Dedy Yon dan Wakil Wali Kota Tazkiyatul Muthmainnah. Namun, ingatlah bahwa rakyat yang "Pantang Ngangluh" bukan berarti tidak punya keluhan, melainkan mereka menaruh kepercayaan besar pada pundak pemimpinnya.

Semoga visi Tegal Berdikari dan Sejahtera bukan sekadar mimpi di siang bolong, melainkan kenyataan yang dirasakan di setiap meja makan warga Tegal.

Tegal Tangguh, Pantang Ngangluh!


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita