Jumat, 27/03/2026, 11:12:26
Banjir: Hadiah Dari Kita Untuk Kita
OLEH: MOCHAMMAD REZA PRISMAN
.

BANJIR selalu datang dengan cara yang sama, tiba-tiba, merusak, lalu menyisakan tanya. Kita sibuk menyalahkan hujan yang terlalu deras, saluran air yang tersumbat, atau pemerintah yang dianggap lambat. Tapi jarang sekali kita benar-benar menengok ke hulu, secara harfiah dan maknawi.

Di pegunungan, yang dulu menjadi benteng alami penahan air, hutan lindung perlahan berubah wajah. Pohon-pohon besar yang akarnya mencengkeram tanah digantikan oleh hamparan kebun sayur yang rapi dan produktif.

Secara ekonomi, ini tampak seperti langkah cerdas. Lahan yang “tidur” dioptimalkan, menghasilkan, memberi penghidupan. Namun di balik itu, ada harga yang tidak langsung terlihat, yaitu hilangnya kemampuan alam untuk menyerap dan menahan air.

Air yang seharusnya meresap perlahan ke dalam tanah kini mengalir deras di permukaan. Tanah yang kehilangan struktur alaminya menjadi rapuh, mudah tergerus. Dan ketika hujan turun deras, air tidak lagi punya tempat untuk “berdiam”, ia berlari, turun, dan akhirnya meluap di dataran yang lebih rendah. Di situlah banjir lahir, bukan sekadar karena hujan, tapi karena keseimbangan yang telah kita ubah.

Namun persoalan tidak berhenti di hulu. Di hilir, kita melakukan kesalahan yang tak kalah serius, bahkan sering kali lebih kasat mata. Pembangunan berjalan cepat, agresif, seolah mengejar ketertinggalan. Jalan-jalan diperlebar, diaspal, diperindah. Tapi ironi muncul ketika pembangunan itu tidak diiringi dengan sistem drainase yang memadai. Air diberi jalan untuk mengalir di atas permukaan, tapi tidak disediakan ruang untuk dialirkan dengan benar.

Saluran air yang sempit, tersumbat, atau bahkan tidak ada sama sekali menjadi pemandangan yang lumrah. Lebih parah lagi, kita melihat bangunan-bangunan liar berdiri di bantaran sungai, bahkan di atas saluran air. Ruang yang seharusnya menjadi jalur aliran justru berubah fungsi menjadi tempat tinggal atau usaha. Semua dilakukan dengan satu logika sederhana, bertahan hidup hari ini, tanpa benar-benar memikirkan konsekuensi esok hari.

Di titik ini, kita sulit untuk hanya menyalahkan satu pihak. Karena kenyataannya, pola yang terjadi di hulu dan hilir memiliki benang merah yang sama, keputusan jangka pendek yang mengorbankan keseimbangan jangka panjang.

Dan di atas semua itu, ada ironi lain yang lebih sunyi dan mungkin lebih tidak nyaman untuk diakui. Kita sering berbicara tentang pentingnya menjaga lingkungan, tentang kelestarian, tentang masa depan. Tapi jika jujur, banyak dari kita sebenarnya tidak benar-benar peduli. Kepedulian itu sering kali bersifat situasional, bahkan transaksional.

Kita mulai bersuara lantang ketika air masuk ke ruang tamu kita. Kita marah ketika kendaraan kita terendam. Kita menuntut ketika aktivitas kita terganggu. Tapi ketika banjir itu terjadi jauh dari kita, di tempat yang tidak kita kenal, pada orang-orang yang tidak kita kenal, kepedulian itu mengecil, bahkan menghilang. Kita menggulir layar, melihat sekilas, lalu lupa.

Lebih jauh lagi, kita sering kali hanya bereaksi ketika kepentingan pribadi terusik. Selama tidak ada dampak langsung pada diri sendiri, keluarga, atau wilayah kita, semuanya terasa baik-baik saja. Kita bisa tetap nyaman, tetap diam, bahkan tetap ikut dalam praktik-praktik kecil yang berkontribusi pada kerusakan itu, entah dengan pilihan konsumsi, pembiaran, atau sekadar ketidakpedulian.

Ini adalah wajah egoisme yang jarang kita akui, egoisme yang terasa wajar karena dilakukan bersama-sama. Kita membangun tanpa memikirkan aliran air, kita menutup saluran demi sedikit ruang tambahan, kita membiarkan pelanggaran karena dianggap bukan urusan kita. Semua tampak kecil jika dilakukan sendiri, tapi menjadi besar ketika dilakukan oleh banyak orang dalam waktu yang lama.

Perubahan fungsi hutan di pegunungan dan kekacauan tata kelola di hilir pada akhirnya bertemu di satu titik, banjir. Sebuah konsekuensi yang lahir bukan dari satu kesalahan, melainkan akumulasi dari banyak keputusan, yang sebagian di antaranya adalah keputusan kita sendiri.

Mungkin yang perlu kita tanyakan bukan lagi “siapa yang salah?”, tapi “sejauh mana kita benar-benar peduli?”. Apakah kita peduli karena kita sadar, atau hanya karena kita terdampak?

Karena jika kepedulian hanya lahir dari kepentingan pribadi, maka setiap bencana akan selalu terasa seperti kejutan. Padahal, bisa jadi itu hanyalah konsekuensi yang sedang menunggu giliran.

Dan pada akhirnya, pertanyaannya sederhana namun mengganggu, apakah kita benar-benar peduli pada lingkungan… atau kita hanya peduli pada diri sendiri?

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita