PanturaNews (Brebes) - Fenomena tanah gerak di perbukitan Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, masih terus mengancam keselamatan warga.
Hingga Rabu (18/2/2026), sebanyak 532 jiwa atau 175 keluarga di Dukuh Bojongsari, Desa Sridadi, terpaksa bertahan di pengungsian lantaran pergerakan tanah dilaporkan belum sepenuhnya berhenti.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Brebes menunjukkan kerusakan infrastruktur yang kian meluas.
Sedikitnya 143 rumah terdampak, dengan rincian 10 unit rusak berat dan 124 unit lainnya dalam kondisi terancam. Fasilitas publik seperti dua tempat ibadah dan dua gedung sekolah juga mengalami kerusakan.
Selain itu, akses jalan desa sepanjang 700 meter ambles, yang menghambat mobilitas warga.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi saat meninjau lokasi pengungsian di Pondok Pesantren Bahrul Qur’an Al-Munawir, Rabu, menegaskan bahwa keselamatan warga menjadi prioritas mutlak.
Kondisi lereng dengan kemiringan 45 derajat dan curah hujan tinggi membuat kawasan tersebut sangat rawan longsor susulan.
"Untuk tanah gerak ini, langkah yang paling bisa dilakukan adalah memindahkan orang dan barang," ujar Luthfi.
Rencana Relokasi
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kini tengah menyiapkan pembangunan hunian sementara (huntara) untuk merelokasi warga dari zona bahaya.
Lokasi yang direkomendasikan secara teknis oleh Badan Geologi Kementerian ESDM adalah lahan petak 34G milik KPH Perhutani Pekalongan Barat.
Luthfi meminta warga untuk tidak nekat kembali ke rumah masing-masing selama potensi pergerakan tanah ke arah barat daya masih tinggi.
Untuk mendukung operasional harian, Pemprov Jateng menyalurkan bantuan total senilai Rp 175,97 juta yang bersumber dari lintas instansi dan organisasi seperti PMI.
Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma mengapresiasi langkah cepat ini.
Menurutnya, koordinasi antarinstansi menjadi kunci agar warga tidak merasa dibiarkan dalam ketidakpastian.
"Masyarakat Brebes tidak perlu khawatir, kita gotong royong. Semua sudah disiapkan oleh dinas Provinsi Jawa Tengah," kata Paramitha.
Kebutuhan Kelompok Rentan
Di balik data statistik kerusakan, beban berat dirasakan oleh para pengungsi, terutama kelompok rentan. Susi Susanti, warga Bojongsari, harus membawa tiga anaknya, termasuk bayi berusia 10 bulan ke tempat pengungsian. Ia mencemaskan ketersediaan kebutuhan dasar bayi seperti popok dan perlengkapan mandi dalam jangka panjang.
Keresahan serupa dirasakan Tona, warga yang rumahnya berbatasan langsung dengan hutan dan sungai. Ia mengaku tak lagi bisa tidur nyenyak setiap kali hujan deras turun.
"Tanahnya cepat sekali bergerak. Kalau malam hujan deras, saya tidak bisa tenang," tuturnya.
Ia sangat berharap program relokasi permanen dapat segera terwujud agar keluarganya bisa hidup tanpa rasa waswas.
Sebagaimana diketahui, bencana ini bermula pada Rabu (28/1/2026) akibat cuaca ekstrem yang memicu pergeseran tanah di lereng tinggi Sirampog. Hingga kini, warga hanya bisa menunggu kepastian sambil berharap tanah yang mereka tinggali selama puluhan tahun itu berhenti bergerak.