PanturaNews (Brebes) - Layangan terbang tinggi mengikuti angin, namun benangnya tetap berpaut pada tangan yang memegangnya. Begitu pula manusia: sejauh apa pun merantau dan menimba pengalaman, akarnya tetap di desa.
Kembali bukan berarti mundur, melainkan pulang membawa langit, untuk membangun tanah kelahiran dengan ilmu dan pengabdian nyata.
Rupanya hal ini telah menjadi landasan penting seseorang untuk membangun tanah kelahirannya. Seperti konsep Atmo Tan Sidik dalam sebuah peluncuran buku, dengan menaruh beberapa layangan sebagai artistik panggung.
Forum Komunikasi Guru Besar dan Dosen (FKGD) Putera Puteri Brebes di bawah naungan Yayasan Rumah Cinta Brebes, menggelar bedah buku karya Assoc. Prof. Dr. H. Maufur Marghub Abdul Aziz, M.Pd bertajuk “Ketanggungan Dulu, Sekarang, dan Yang Akan Datang (1945–2026)”, Selasa Kliwon 17 Februari 2026 pukul 09.00–12.00 WIB.
Kegiatan literasi yang berlangsung di Aula Pondok Pesantren Nurul Hayah Ketanggungan, pimpinan KH. Dr. Jafar Muthoyar, tersebut dihadiri terbatas 150 peserta dari kalangan akademisi, tokoh masyarakat, santri, serta pegiat literasi daerah.
Buku karya Dr Maufur yang akrab disebut-sebut sebagai Presiden Penyair Tegalan ini, menjadi dokumentasi komprehensif perjalanan sosial, budaya, ekonomi, dan dinamika pembangunan Ketanggungan sejak 1945 hingga 2026.
Dengan pendekatan akademis yang berpadu narasi reflektif, buku ini tidak sekadar mengurai sejarah, tetapi juga menawarkan arah strategis bagi masa depan wilayah tersebut.
"Buku ini meskipun berjudul ketanggungan dahulu, sekarang dan yang akan datang (1945-2026), tidak berarti rentang waktu yang panjang tersebut diungkap atau terungkap semua," Tulis Maufur dalam prakata penulis.
Memahami "Dulu" dan membaca "Sekarang", adalah fondasi untuk merancang "Yang Akan Datang". Kemajuan tidak boleh tercerabut dari akar jati diri.
Dalam sesi pembedahan buku, Dr Maufur yang didampingi isteri menghadirkan dua tokoh akademik terkemuka sebagai narasumber, yakni Prof. Dr. KH. Imam Yahya, M.Ag dari UIN Walisongo Semarang, dan Prof. Dr. KH. Abdul Aziz, M.Ag dari UIN Syekh Nurjati Cirebon.
Dan acara dipandu oleh budayawan sekaligus sastrawan Pantura, Drs. H. Atmo Tan Sidik, yang dikenal sebagai moderator lintas budaya. Sentuhan kearifan lokal yang ia hadirkan, menjadikan forum ilmiah tersebut terasa hangat namun tetap tajam secara intelektual.
Assoc. Prof. Dr. H. Maufur Marghub Abdul Aziz, M.Pd bukan sosok baru dalam dunia akademik dan pemerintahan. Ia pernah menjabat Wakil Wali Kota Pertama Kota Tegal periode 2004–2009.
Di bidang pendidikan tinggi, ia tercatat sebagai Rektor UPS Tegal (2001–2004), kemudian memimpin Universitas Bhamada periode 2021–2025, dan kembali dipercaya menjabat Rektor Universitas Bhamada sejak 2025 hingga saat ini.
Meski menapaki karier di berbagai posisi strategis, Dr. Maufur dinilai tetap “eling desa”, tidak melupakan akar Ketanggungan sebagai tanah kelahirannya. Buku yang diluncurkan ini menjadi bukti konkret dedikasinya dalam merawat ingatan kolektif dan arah masa depan kampung halamannya.
Sebagai presiden penyair tegalan tentu isi buku juga dilengkapi dengan nuansa sastra. Terbukti ada 16 puisi Berbahasa Tegal karya Dr. Uswadin, dimana dalam sesi ini juga menghadiahkan puisi berjudul pitungpuluh. Salah satu puisi yang termuat dalam buku tersebut berjudul "Sega Stasiun"
...
Wong wong sing rantau sengaja tuku sega stasiun
Wis kaya kena hipnotis pokoke yen balik kudu tuku
Mbuh sepincuk mbuh rong pincuk, sing penting rasan
...
Serangkaian acara seni budaya menghiasi Gedung Aula Ponpes Nurul Hayah. Acara dibuka dengan pembacaan Puisi oleh Agus Tarjono SH yang akrab dipanggil Lebe Penyair, dengan puisi andalannya "Zombie Sajak Pantura" serta puisi "Luka" karya Sutardji Coulsum Bachri " ha ha". Di akhiri dengan terimakasih. Penampilan Tari oleh Sofia yang menampilkan tari topeng Kelana, membuat suasana semakin hangat.
Bedah buku ini merupakan bagian dari gerakan intelektual untuk memperkaya literasi daerah serta memperkuat kontribusi para akademisi asal Brebes terhadap pembangunan berbasis riset dan kearifan lokal.
Melalui karya ini, Ketanggungan tidak hanya dibaca sebagai ruang geografis, tetapi sebagai ruang sejarah dan gagasan yang terus bergerak menatap masa depan tanpa kehilangan identitasnya.