PADA masa-masa suram runtuhnya Majapahit, panggung kekuasaan berubah menjadi arena perebutan tahta yang sarat tipu daya. Para bangsawan saling mengintai kesempatan, menjalankan intrik politik, dan menghalalkan kekerasan demi menguasai wilayah. Rakyat kecil tak lebih dari debu yang terinjak ambisi.
Dari kegaduhan sejarah itu, lahirlah gelombang perlawanan rakyat yang tersebar di banyak penjuru, menjadi warna perjalanan menuju berdirinya kerajaan-kerajaan baru di Nusantara.
Dalam semangat menggali kembali sejarah kelam tersebut, Teater RSPD menghadirkan sebuah lakon yang mengambil inspirasi dari masa awal Mataram Islam -kisah seorang tokoh pesisir yang berani berdiri melawan kekuasaan yang congkak dan tak tersentuh: “Mangir.”
Menurut penulis sekaligus sutradara Teater RSPD Kota Tegal, Yono Daryono, lakon Mangir diramu dari berbagai rujukan sejarah dan karya sastra, termasuk karya Pramoedya Ananta Toer.
“Ini kami ambil dari banyak sumber, tidak hanya Pram,” ujar Yono.
Lakon ini menyoroti keberanian Ki Ageng Mangir, tokoh dari wilayah pesisir dan Brang Wetan, yang menolak tunduk pada kebijakan keras Panembahan Senopati, pendiri Mataram. Pada masa itu, Mataram tengah bernafsu melakukan ekspansi wilayah; siapa pun yang menolak wajib dihancurkan.
Tekad Mangir digambarkan tajam dalam puisi Tegalerin 2-4-2-4 karya Lanang Setiawan dalam novel Kidung Kemat:
DUDU SOAL MBALELO
Wilayah Sénopati mowak-mawik
awit kulon tekan wétan pojok
Sénopati penguasa pugalan
kabéh kanjeng sonder mangkiran
Ora pandang bulu Ki Ageng Mangir
kudu mbekti maring Sénopati
Ki Ageng Mangir nolak préntah
dudu lantaran maring Sénopati
Mangir dudu bagian Mataram
tanah perdikan waledan Majapahit
Sénopati ora duwé hak ngatur
nang kéné asal mulané rag-reg!
Puisi itu menegaskan sikap Mangir yang berdiri atas tanah perdikan warisan Majapahit. Ia bukan pemberontak -ia hanya mempertahankan hak yang telah diwariskan.
Namun, demi menundukkan Mangir, Senopati menggunakan siasat licik. Ia mengutus putrinya, Rara Pembayun, menyamar sebagai penari lédhék bernama Larakasih untuk memikat dan menjebaknya.
KIDUNG KEMAT
Larakasih goyang ser
Mangir puyeng digunyer
“Dhuh kangmas rupawan
sesambat kula nandang aboté tresna
Kejaba kangmas nglawongi
awor siji nganti umuré bumi”
Jogéd Larakasih saya ndengal-ndengal
jeroan Mangir sengaja diudal-udal
“Dhuh pawéstri kiriman déwa-déwi
mudun khayangan nalika rendeng
Manah kangmas ndadak semedot
ora lereb sadurungé awor siji”
Karena pesona Larakasih dan kidungnya yang memabukkan, Mangir terpikat. Cinta tumbuh, hubungan mereka berlanjut, hingga Pembayun mengandung. Pada titik inilah jebakan Senopati mengatup sempurna.
Mangir datang menghadap sebagai seorang menantu—dengan niat baik, tanpa curiga. Namun sambutan itu berubah menjadi tragedi. Kepalanya dihantamkan ke batu Gilang—sebuah adegan yang membekas dalam sejarah dan ditulis pedas dalam puisi Lanang Setiawan berikut:
WATU GILANG
Ngalah demi pawéstri
Mangir sowan ngadep Sénopati
Sowan dalem mertuwa
awak abang olos tomo
Mangir ngerti posisi mantu Senopati
sonder jinjing ageman baruklinting
Niat Mangir sembah sumkem
mbuang kesumst sing ngganjel ning dada
Mangir ndéprok sembah sungkem
watu lenggah Sénopati mrengangah geni
Pas bledég ngsmpar moni
endas Mangir digedig watu gilang
Menurut Yono, lakon Mangir direncanakan naik pentas seusai Lebaran. “Saat ini naskah memasuki tahap reading sebagai langkah awal proses kreatif sebelum penentuan pemain,” pungkasnya.
Kesimpulan: Lakon Mangir bukan sekadar cerita sejarah; ia adalah cermin tentang bagaimana kekuasaan dapat mengorbankan kebenaran, cinta, bahkan nyawa. Tiga puisi Tegalan yang diselipkan -Dudu Soal Mbalelo, Kidung Kemat, dan Watu Gilang- menjadi jantung emosional dalam naskah ini.
Dengan bahasa yang lugas dan menikam, puisi-puisi itu bukan hanya menghidupkan karakter Mangir, tetapi juga mengingatkan penonton bahwa ketidakadilan selalu memiliki harga -dan keberanian selalu membutuhkan pengorbanan.
Kisah Mangir terus relevan: ketika kekuasaan mencoba menelan suara rakyat, selalu ada seseorang yang berdiri tegak, meski akhirnya harus gugur di hadapan batu Gilang sejarah.