Rabu, 10/12/2025, 22:03:07
Mangir: Tragedi Tanah Perdikan dan Luka Kekuasaan. Arena Perebutan Tahta Sarat Tipu Daya
TEATER RSPD KOTA TEGAL
LAPORAN IWANG NIRWANA

Yono Daryono (Kedua dari kanan), sutradara Teater RSPD Kota Tegal yang akan mementaskan lakon Mangir. (Foto: Dok/Iwang)

PADA masa-masa suram runtuhnya Majapahit, panggung kekuasaan berubah menjadi arena perebutan tahta yang sarat tipu daya. Para bangsawan saling mengintai kesempatan, menjalankan intrik politik, dan menghalalkan kekerasan demi menguasai wilayah. Rakyat kecil tak lebih dari debu yang terinjak ambisi.

Dari kegaduhan sejarah itu, lahirlah gelombang perlawanan rakyat yang tersebar di banyak penjuru, menjadi warna perjalanan menuju berdirinya kerajaan-kerajaan baru di Nusantara.

Dalam semangat menggali kembali sejarah kelam tersebut, Teater RSPD menghadirkan sebuah lakon yang mengambil inspirasi dari masa awal Mataram Islam -kisah seorang tokoh pesisir yang berani berdiri melawan kekuasaan yang congkak dan tak tersentuh: “Mangir.”

Menurut penulis sekaligus sutradara Teater RSPD Kota Tegal, Yono Daryono, lakon Mangir diramu dari berbagai rujukan sejarah dan karya sastra, termasuk karya Pramoedya Ananta Toer.

“Ini kami ambil dari banyak sumber, tidak hanya Pram,” ujar Yono.

Lakon ini menyoroti keberanian Ki Ageng Mangir, tokoh dari wilayah pesisir dan Brang Wetan, yang menolak tunduk pada kebijakan keras Panembahan Senopati, pendiri Mataram. Pada masa itu, Mataram tengah bernafsu melakukan ekspansi wilayah; siapa pun yang menolak wajib dihancurkan.

Tekad Mangir digambarkan tajam dalam puisi Tegalerin 2-4-2-4 karya Lanang Setiawan dalam novel Kidung Kemat:

 

DUDU SOAL MBALELO

Wilayah Sénopati mowak-mawik

awit kulon tekan wétan pojok

 

Sénopati penguasa pugalan

kabéh kanjeng sonder mangkiran

Ora pandang bulu Ki Ageng Mangir

kudu mbekti maring Sénopati

 

Ki Ageng Mangir nolak préntah

dudu lantaran maring Sénopati

 

Mangir dudu bagian Mataram

tanah perdikan waledan Majapahit

Sénopati ora duwé hak ngatur

nang kéné asal mulané rag-reg!

 

Puisi itu menegaskan sikap Mangir yang berdiri atas tanah perdikan warisan Majapahit. Ia bukan pemberontak -ia hanya mempertahankan hak yang telah diwariskan.

Namun, demi menundukkan Mangir, Senopati menggunakan siasat licik. Ia mengutus putrinya, Rara Pembayun, menyamar sebagai penari lédhék bernama Larakasih untuk memikat dan menjebaknya.

 

KIDUNG KEMAT

 

Larakasih goyang ser

Mangir puyeng digunyer

 

“Dhuh kangmas rupawan

sesambat kula nandang aboté tresna

Kejaba kangmas nglawongi

awor siji nganti umuré bumi”

 

Jogéd Larakasih saya ndengal-ndengal

jeroan Mangir sengaja diudal-udal

 

“Dhuh pawéstri kiriman déwa-déwi

mudun khayangan nalika rendeng

Manah kangmas ndadak semedot

ora lereb sadurungé awor siji”

 

Karena pesona Larakasih dan kidungnya yang memabukkan, Mangir terpikat. Cinta tumbuh, hubungan mereka berlanjut, hingga Pembayun mengandung. Pada titik inilah jebakan Senopati mengatup sempurna.

Mangir datang menghadap sebagai seorang menantu—dengan niat baik, tanpa curiga. Namun sambutan itu berubah menjadi tragedi. Kepalanya dihantamkan ke batu Gilang—sebuah adegan yang membekas dalam sejarah dan ditulis pedas dalam puisi Lanang Setiawan berikut:

 

WATU GILANG

 

Ngalah demi pawéstri

Mangir sowan ngadep Sénopati

 

Sowan dalem mertuwa

awak abang olos tomo

Mangir ngerti posisi mantu Senopati

sonder jinjing ageman baruklinting

 

Niat Mangir sembah sumkem

mbuang kesumst sing ngganjel ning dada

 

Mangir ndéprok sembah sungkem

watu lenggah Sénopati mrengangah geni

Pas bledég ngsmpar moni

endas Mangir digedig watu gilang

 

Menurut Yono, lakon Mangir direncanakan naik pentas seusai Lebaran. “Saat ini naskah memasuki tahap reading sebagai langkah awal proses kreatif sebelum penentuan pemain,” pungkasnya.

Kesimpulan: Lakon Mangir bukan sekadar cerita sejarah; ia adalah cermin tentang bagaimana kekuasaan dapat mengorbankan kebenaran, cinta, bahkan nyawa. Tiga puisi Tegalan yang diselipkan -Dudu Soal Mbalelo, Kidung Kemat, dan Watu Gilang- menjadi jantung emosional dalam naskah ini.

Dengan bahasa yang lugas dan menikam, puisi-puisi itu bukan hanya menghidupkan karakter Mangir, tetapi juga mengingatkan penonton bahwa ketidakadilan selalu memiliki harga -dan keberanian selalu membutuhkan pengorbanan.

Kisah Mangir terus relevan: ketika kekuasaan mencoba menelan suara rakyat, selalu ada seseorang yang berdiri tegak, meski akhirnya harus gugur di hadapan batu Gilang sejarah.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita