Sabtu, 09/08/2025, 11:47:35
Purnama di Padepokan Kalisoga: Malam Penuh Cahaya, Dibalut Dzikir Dan Sholawat
PADHANG BULAN & ISTIGHOSAH
LAPORAN TIM PANTURANEWS

Acara rutin Padhang Bulan dan Istighosah di Desa Slatri, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, dibalut dzikir dan sholawat. (Foto: Dok)

PanturaNews (Brebes) - Malam itu, langit seperti selembar kain hitam yang dibentangkan Tuhan, dihiasi purnama bundar menggantung teduh. Lampu sorot panggung memecah gulita -kilau jingga mengalun dari kiri dan kanan, sementara dua sinar biru menusuk langit, berpotongan membentuk huruf “V” di antara gulungan asap tipis. Asap itu mengalir pelan, seolah napas yang tertahan, menunggu detik-detik sakral.

Di tengah panggung, drum berdiri gagah -membisu, namun seakan siap mengguncang dada jamaah dengan dentum dzikir. Di sisi kiri, gitar akustik merebah santai, menunggu sentuhan jemari pertama. Di kanan, gitar elektrik tegak menantang, bayangannya jatuh di lantai panggung yang licin berkilat. Dua mikrofon di kiri-kanan drum menunduk hormat, seperti memberi salam pada siapa saja yang datang dengan hati bersih.

Kesunyian sebelum acara dimulai bukanlah kehampaan -justru penuh janji. Siapa pun yang memandang panggung itu akan merasakan getar: sebentar lagi, lantunan doa dan sholawat akan membelah malam.

Jumat malam, 8 Agustus 2025, Desa Slatri, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, berdenyut oleh langkah kaki jamaah. Padepokan Kalisoga dipadati manusia dari berbagai penjuru: warga sekitar, rombongan dari kecamatan tetangga, hingga para sesepuh yang datang bertopang tongkat atau dipapah anak cucu.

Acara rutin Padhang Bulan & Istighosah dimulai selepas salat Isya. Suara Ustadz Sihabudin memimpin istighosah, dibalut dzikir dan sholawat bersama Ustadz Jauhari Syarif. Jamaah duduk rapat, wajah-wajah teduh menunduk, bibir komat-kamit dalam kesyahduan.

Puncak malam tiba ketika Ustadz Agil Azis Munawar, S.Pd., naik ke panggung. Suaranya tegas, namun hangat:

“Kemerdekaan itu diraih dengan pengorbanan para pahlawan, para syuhada, dengan darah dan perjuangan. Maka kita isi kemerdekaan ini dengan penuh rasa syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Sesekali, angin malam membawa aroma tanah basah dari ladang sekitar, bercampur wangi minyak kayu putih yang menenangkan.

Di tengah istighosah, Ustadz Sihabudin membacakan doa Mbah Dimyati Rois—kata-katanya melesat bak anak panah dari hati menuju langit, memohon keselamatan dan keberkahan bagi negeri.

Sebelum acara dimulai, Ketua Panitia Nuridin Alim sempat berkata:

“Pengajian ini bukan sekadar ajang doa bersama, tapi juga perekat silaturahmi. Setiap pelaksanaan selalu disambut hangat, bahkan oleh jamaah dari luar kecamatan. Semoga menjadi wasilah turunnya rahmat dan ridho Allah untuk kita semua.”

Lampu-lampu terus menyala hingga larut, namun sinar paling terang malam itu bukan datang dari sorot panggung -melainkan dari wajah-wajah jamaah yang pulang dengan hati penuh cahaya.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita