Jumat, 02/02/2024, 15:06:26
Pentingnya Pendidikan Jasmani, Olahraga Dalam Pendidikan Sekolah Dasar
Oleh: Syauqi Surya

PENDIDIKAN jasmani, olahraga, dan kesehatan merupakan bagian penting dari kurikulum sekolah yang dirancang untuk membantu siswa mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk menjadi aktif dan sehat dalam hidupnya.

Jika para siswa selalu melakukan aktivitas jasmani meskipun tidak sedang dalam pembelajaran pendidikan jasmani, maka dapat dikatakan bahwa pendidikan jasmani telah berhasil menjadikan siswa mempunyai kebiasaan hidup aktif.

Pola pembinaan peningkatan aktivitas jasmani harus merupakan bagian integral dari upaya pendidikan yang dalam pelaksanaannya melibatkan tiga pihak, yaitu sekolah, orang tua, dan masyarakat, serta didukung oleh pemerintah dalam hal pembinaan dan pendanaannya.

Pola tersebut dikemas dalam sebuah program promosi sekolah sehat (The Health Promoting Schools/HPS), atau Sekolah Sehat Paripurna (Comprehensive School Health/CSH).

Banyak manfaat yang dapat diambil dari aktivitas jasmani bagi anak-anak usia sekolah dasar. Secara jasmani dan faali, aktivitas jasmani dapat menjadikan otot lebih lentur dan kuat, tulang lebih padat, dan darah bersikulasi lebih lancar. Dampak lebih lanjut dari kondisi tersebut adalah meningkatnya kebugaran dan status kesehatan.

Secara mental, aktivitas jasmani dapat menjadikan anak lebih ceria, rilek, dan tenang sehingga terbebas stress. Secara sosial, aktivitas jasmani dapat menjadi salah satu cara untuk mengenal dunia luar lebih jauh, termasuk di dalamnya bersosialisasi dengan teman sebaya.

Dengan demikian, aktivitas jasmani dapat bermanfaat secara jasmani, mental, dan sosial sehingga berpengaruh pula terhadap kegiatan belajar, baik di dalam maupun di luar kelas.

Meskipun sudah diketahui oleh banyak orang, bahwa aktivitas jasmani sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan siswa, namun masih banyak anak yang kurang bergerak. Bahwa masih ada 50 persen lebih anak sekolah dasar dalam kategori kurang aktif; tepatnya sebanyak 9,6 persen tidak aktif dan 54,1 persen kurang aktif; artinya tingkat aktivitas jasmani para peserta didik sekolah dasar masih sangat kurang.

Data ini berasal dari laporan hasil survai dalam rangka penyusunan peta kemampuan gerak dasar siswa sekolah dasar yang dilakukan oleh Pusat pengembangan Kualitas Jasmani Kemdiknas pada tahun 2001.

Sebagai informasi tambahan, data yang lebih baru tentang kemampuan gerak siswa untuk skala nasional belum ditemukan, bahkan kemungkinan tidak akan ditemukan. Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani sebagai lembaga yang mengagendakan evaluasi kemampuan gerak siswa setiap lima tahun sekali telah dilikuidasi sebagai hasil dari reformasi birokrasi di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2010.

Hasil pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah hanya mampu memberikan efek kebugaran terhadap kurang lebih 15 persen dari keseluruhan populasi siswa. Dari sisi kesehatan, kurang gerak menyebabkan kegemukan (obesitas).

Bahwa semakin meluasnya epidemi obesitas antara lain karena pola makan yang tidak teratur dan kian terbatasnya kesempatan anak-anak dan remaja untuk melakukan aktivitas jasmani. Kondisi ini mengatakan bahwa prevalensi anak-anak yang mengalami kelebihan berat badan menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi.

Guna mengatasi masalah di atas, hanya ada satu cara yang tepat untuk diterapkan, yaitu meningkatkan aktivitas jasmani siswa sekolah dasar; sebab aktivitas jasmani yang dilakukan secara teratur berkontribusi besar mencegah munculnya penyakit degeneratif kronis, meningkatkan keseimbangan psikologis, dan keterampilan sosial anak-anak dan remaja dapat mencegah kanker dan meningkatkan kualitas hidup, seperti membangun selfesteem dan positive self-image.

Public Health Agency of Canada (PHAC), Atlantic Region (2005) menambahkan dapat memproteksi obesitas dan membantu mengendalikan berat badan, mempercepat perkembangan kesehatan otot, tulang, dan sendi, meningkatkan kekuatan dan daya tahan tubuh; SPARC BC and BC Recreation and Parks Assocation, (2006) menambahkan dapat mengembangkan aspek-aspek sosial.

Dari sisi pendidikan, kurikulum pendidikan sekolah dasar di Indonesia memiliki mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan; mata pelajaran inilah yang mempunyai peran utama dalam meningkatkan aktivitas jasmani siswa sekolah dasar. Pada pertengahan tahun 2013 telah diberlakukan kurikulum 2013, dan pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan di sekolah dasar mendapat alokasi waktu empat jam pelajaran per minggu (Kemdikbud, 2013).

Program pendidikan jasmani yang berkualitas dapat membantu dalam memelihara kondisi tubuh yang sudah positif dan lebih meningkatkan aktivitas jasmani. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pendidikan jasmani berperan dalam penanaman perilaku hidup aktif kepada para siswa dan aktivitas jasmani merupakan salah satu bentuk perilaku yang hendak dicapai dan sekaligus merupakan bentuk kegiatan yang dilakukan di dalam pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan.

Jika para siswa selalu melakukan aktivitas jasmani meskipun tidak sedang dalam pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan, maka dapat dikatakan bahwa pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan tersebut telah berhasil menjadikan siswa mempunyai kebiasaan hidup aktif.

Strategi peningkatan peran guru dalam peningkatan aktivitas jasmani dapat dilakukan melalui peningkatan:

-1) peran guru sebagai pelopor dan inovator program; 2) partisipasi guru dalam komite kesehatan di sekolah; 3) upaya guru dalam pemanfaatan sumber daya yang ada di luar sekolah; 4) penerapan program penghargaan; 5) peramuan “PR” (pekerjaan rumah) untuk menjadikan siswa lebih aktif; 6) keteladanan atau pemodelan; dan 7) membangun atau memperluas kemitraan dengan masyarakat dan para komunitas aktivitas jasmani dan kesehatan.

Guru mempunyai peran penting dan utama dalam pelaksanaan program di sekolah. Khusus untuk peningkatan aktivitas jasmani harian (Daily Physical Activity/DPA) di sekolah, guru pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan harus memiliki peran lebih dari guru lainnya, dia harus menjadi pelopor dan inovator program.

Untuk itu, peningkatan kemampuan dan kompetensi harus dilakukan agar guru memiliki kemampuan dan keyakinan yang kuat. Keyakinan yang didasari oleh kompetensi yang memadai akan menghasilkan cara pandang yang benar dan inovatif tentang pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan dan profesi sebagai guru pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan.

Keyakinan dan cara pandang yang benar perlu diramu dengan pola interaksi yang benar antara guru dengan siswa, proses belajar mengajar yang harmonis, dan pencarian serta penerapan ilmu pendukung

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Nasional (sekarang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) telah melakukan upaya peningkatan aktivitas jasmani.

Yaitu berupa penerapan konsep Sekolah Sehat Paripurna (Comprehensive School Health/CSH) melalui program UKS dan strategi peningkatan aktivitas jasmani, melalui program rintisan Model Sekolah Sehat (MSS) di 21 sekolah; perintisan secara intensif baru dilaksanakan di empat sekolah pada tahun 2009.

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita