Senin, 29/01/2024, 14:18:15
Literasi Sains Untuk Meningkatkan Minat Belajar Bagi Anak Sekolah Dasar
Oleh: Rendi Guntara

KURANGNYA minat belajar siswa khususnya pada pembelajaran sains dikarenakan penjelasan yang ada pada buku ajar siswa, terlalu rumit dan kurang adanya media dalam penggunaannya. Sehingga diperlukan pengembangan media pembelajaran untuk meningkatkan minat belajar siswa.

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan minat belajar siswa terhadap sains, dengan menggunakan media yang dapat dipahami dengan mudah dan menyenangkan bagi siswa Sekolah Dasar.

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan atau Researchand Development (R&D). Subjek penelitian ini adalah media literasi sains, sedangkan objek penelitian ini adalah minat belajar siswa.

Literasi sains atau scientific literacy didefinisikan PISA 2003 sebagai kapasitas untuk menggunakan pengetahuan ilmiah, mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan dan untuk menarik kesimpulan berdasarkan buktibukti, agar dapat memahami alam semesta dan perubahan yang terjadi karena aktivitas manusia.

Literasi sains juga dapat diartikan melalui sudut pandang bahasa. Literasi sains berasal dari dua kata yaitu literasi dan sains. Literasi diartikan sebagai pengetahuan atau keterampilan dalam bidang tertentu, atau kemampuan individu dalam mengelola informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup.

Literasi sains merupakan keterampilan penting yang perlu ditanamkan sejak dini dalam kalangan anak-anak sekolah dasar (SD). Pentingnya literasi sains tidak hanya terbatas pada pemahaman konsep-konsep ilmiah, tetapi juga berdampak positif pada minat belajar anak-anak.

Dengan memperkenalkan literasi sains sejak dini, anak-anak SD dapat mengembangkan rasa ingin tahu mereka terhadap dunia sekitar. Materi-materi sains yang disajikan secara menarik dan relevan, akan memicu keingintahuan mereka untuk mengeksplorasi fenomena alam, eksperimen sederhana, dan pertanyaanpertanyaan ilmiah.

Misalnya, kegiatan mengamati tumbuhan tumbuh atau menyelidiki sifat -sifat air dapat menjadi pengalaman yang memikat bagi anak-anak. Melalui literasi sains, anak-anak juga belajar berpikir kritis dan logis. Mereka diajak untuk mengajukan pertanyaan, merancang percobaan, dan menganalisis hasil.

Hal ini tidak hanya meningkatkan keterampilan akademis, tetapi juga membentuk pola pikir ilmiah yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, literasi sains tidak hanya menjadi bagian dari kurikulum formal, tetapi juga menciptakan suasana belajar yang mendukung perkembangan kognitif anak-anak. Penggunaan metode pembelajaran aktif, seperti eksperimen praktis dan proyek ilmiah sederhana, dapat memperkuat keterampilan literasi sains.

Guru dapat memanfaatkan teknologi dan sumber daya daring untuk menghadirkan konten sains yang interaktif dan mudah diakses. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya menjadi pemaham konsep, tetapi juga terlibat secara langsung dalam eksplorasi dunia sains.

Selain itu, literasi sains memberikan anak-anak SD keterampilan yang diperlukan untuk berpartisipasi dalam masyarakat yang semakin terkait dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka menjadi lebih siap untuk menghadapi tantangan masa depan, baik di sekolah maupun dalam karier mereka nanti.

Oleh karena itu, penting bagi sekolah dan pendidik untuk memberikan perhatian khusus pada pengembangan literasi sains sebagai bagian integral dari pendidikan anak-anak sekolah dasar.

Di Indonesia literasi sains mulai dikenalkan Pada tahun 1993 melalui UNESCO yang Direalisasikan dalam Workshop on scientific and Technological literacy for all in Asia and Pasific di Tokyo. Dan literasi sains mulai diakomodasikan Dalam KTSP 2006 dan terlihat jelas dalam Kurikulum 2013 melalui kegiatan inkuiri dan Pendekatan ilmiah.

Literasi sains dalam pengukurannya terdiri Dari 3 dimensi yaitu konten sains, proses sains Dan konteks aplikasi sains.Literasi sains Merupakan gabungan dari beberapa literasi Seperti: membaca-tulis, matematika dan digital (Teknologi Informasi). Hal ini sejalan dengan Konsep literasi yang digunakan PISA (Performan- Ce of International Student Assesment), tidak hanya terkait dengan kemampuan membaca dan menulis.

Namun bagaimana mereka menerapkan kemampuan dalam memahami prinsip dan proses mendasar, untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut PISA 2006 (Bybee, 2008) lliteras Sains dapat dicirikan sebagai terdiri Aspek yang akan diperoleh yaitu:

-1) menyadari Situasi kehidupan yang melibatkan ilmu Pengetahuan dan teknologi. Ini adalah konteks untuk unit penilaian dan barang-barang;

-2) Memahami dunia alam, termasuk teknologi, atas Dasar pengetahuan ilmiah yang meliputi Pengetahuan tentang alam dan pengetahuan Tentang ilmu itu sendiri;

-3) Kompetensi mencakup mengidentifikasi pertanyaan ilmiah, Menjelaskan fenomena ilmiah, dan menggunaKan bukti ilmiah sebagai dasar argumen Mengambil kesimpulan dan keputusan. Dalam Permendikbud No 22 tahun 2016 Yang mengisyaratkan perlunya proses pembelajaran yang dipandu dengan kaidah pendekatan Saintifik/ilmiah. Ada 5 komponen pendekatan Saintifik (istilah 5M) antaralain:

-1) Mengamati, siswa diberikan permasalahan yang nantinya harus diamati oleh siswa. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara membaca, mendengar, menyimak, atau melihat (tanpa atau dengan Alat) media pembelajaran, misalnya dengan guru. Mempersiapkan media gambar yang berhubungAn dengan materi pembelajaran.

-2) Menanya, siswa diberikan kesempatan yang seluas-Luasnya untuk mengajukan pertanyaan setelah Kegiatan mengamati. Guru dapat memberikan Pertanyaan untuk memotivasi siswa agar mereka Dapat mengajukan pertanyaan.

-3) Mencoba/ Mengumpulkan informasi, kegiatan mencoba Identik dengan melakukan eksperimen. Dalam Proses pembelajaran siswa dilatihkan untuk Mengum-pulkan berbagai macam data dari Berbagai sumber kemudian siswa diminta untuk Mencari bukti dari berbagai sumber.

-4) Menalar, Siswa diminta untuk menganalisis data-data Yang telah mereka dapat dari hasil kegiatan Mencoba/mengumpulkan informasi sehingga Nantinya mereka dapat menemukan hubungan Antar variabel atau dapat membuat kesimpulan Dengan tepat.

-5) Mengkomunikasi, siswa Diberikan kesempatan untuk mengkomunikasikan apa yang telah mereka dapatkan dari proses Pembelajaran. Hasil kegiatan tersebut dapat Disampaikan secara lisan maupun tulisan. Dalam kegiatan komunikasi, siswa harus Mampu untuk menulis dan berbicara secara Komunikatif serta efektif.

Dalam proses Pembelajaran IPA menerapkan literasi sains Tidak hanya menggunakan pendekatan saintifik 5M tetapi menggunakan literasi teknologi Informasi, matematika dan bahasa. Semua Literasi tersebut terpadu dalam sebuah paket Kegiatan belajar mengajar di kelas. Untuk SD Dalam Kurikulum 2013 menggunakan pembelAjaran tematik terpadu.

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan Bahwa pendekatan saintifik 5M, berhitung, Teknologi informasi dan baca tulis dijadikan Sebagai jembatan untuk perkembangan dan Pengembangan sikap, keterampilan dan Pengetahuan siswa. Berpikir induktif lebih Ditekankan daripada berpikir deduktif artinya Menarik kesimpulan dengan bukti-bukti spesifik Dari objek yang diamati, empiris dan terukur.

Siswa dilatihkan sejak dini untuk berpikir logis, Sistematis, dan runut yang pada akhirnya siswa Dapat berpikir tingkat tinggi. HOTS menekankan Pada keterampilan mengembangkan kapasitas Berpikir siswa yang melibatkan level kognitif Tingkat tinggi dari jenjang menganalisis, Mengevaluasi, dan mencipta.

Melalui berbagai Aktivitas siswa dilatih untuk terampil mencari Ilmu dalam penalaran induktif dan deduktif, untuk memikirkan jawaban atau mengidentifikasi dan mengeksplorasi dari fakta yang ada.

Harapan-Nya agar siswa menjadi terbiasa untuk Memecahkan permasalahan yang ditemuinya Secara hati-hati, tanggungjawab, dan jujur. Bila HOTS diperkenalkan sejak SD akan berdampak Positif di kemudian hari. Kecerdasan dalam Menganalisa bacaan, bergaul, memahami Eksistensi orang lain dan memecahkan masalah Pribadi.

Sekolah sebagai miniatur kehidupan Akan menjadi sebuah jembatan untuk melatihkan Dan mengasah HOTS dalam setiap mata Pelajaran dengan berbagai materi pelajaran yang ada dalam kurikulum dengan berbagai Pendekatan dan model pembelajaran.

Kecanggihan alat digital dan era revolusi 4.0 akan Menyebabkan disrupsi atau gangguan bukan Hanya di bidang bisnis saja melainkan pasar Tenaga kerja. Hal ini akan banyak jenis pekerjaan Yang hilang dan tergantikan oleh robot. Kemungkinan tenaga kerja akan menghadapi jenis Pekerjaan baru yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Untuk itu dituntut untuk mengembangkan Skill yang dibutuhkan dalam revolusi indutri 4.0 Seperti: mampu menyelesaikan masalah yang Kompleks, berpikir kritis, kreatif, manajemen Orang, kerja dalam tim, mengatur emosioanl,Pengambilan keputusan, keinginan untuk melayani orang sebaik mungkin, dan kemampuan Negosiasi.

Literasi sains adalah keterampilan yang dibutuhkan dalam era digital saat ini. Pentingnya literasi sains karena permasalahan berkaitan dengan pengetahuan dan teknologi.

Selain Itu literasi sains memberdayakan masyarakat untuk membuat keputusan pribadi dan berpartisipasi dalam perumusan kebijakan publik yang berdampak pada kehidupan mereka. Romance,N.R, (2001:13) guru perlu mengembangkan Keterampilan literasi sains agar:

-1) sagarmeningkat dalam pengeta-huan dan penyelidiKan Ilmu Pengetahuan Alam,

-2) siswa memiliki Kosa kata lisan dan tertulis yang diperlukan Untuk memahami danberkomu-nikasi ilmu Pengetahuan dan,

-3) siswa dapat menghubungKan antara sains, teknologi,dan masyarakat.

Kesimpulan: Literasi sains mulai diakomodasikan dalam KTSP 2006 dan terlihat jelas dalam Kurikulum 2013 melalui kegiatan inkuiri dan pendekatan Ilmiah. Literasi sains merupakan gabungan dari beberapa literasi seperti: membaca-tulis, matematika dan digital (Teknologi Informasi).

Dalam pelaksanaannya menggunakan pendekatan tematik terpadu. Dengan mengacu pada Teori dari Ward, Roden dan Hewlett (2005:17) Dalam bukunya Teaching Science in the primary Classroomyang dikompilasi sesuai Permendikbud No 22 tahun 2016 dalam Karli, Hilda (2017: 94-100) tertuang dalam Jurnal Pendidikan Penabur No 28/2017 proses belajar Mengajar melatih sejak SD untuk berpikir Induktif melalui metode ilmiah melalui Pendekatan saintifk 5M.

Siswa diajak untuk Melakukan kegiatan seperti mengamati, Menanya, mencoba, menalar dan mengkomunikasikannya secara lisan dan tertulis dalam Berbagai produk. Guru masih membimbing dan Mengarahkan siswa dalam melakukan kegiatan Dengan membagikan LKS. Di mana cara kerja Dan pertanyaan yang sifatnya menuntut siswa Untuk menalar dari hasil pengamatan dapat disimpulkan sendiri.

LKS yang dibagikan guru Disusun sesuai dengan tingkat kesukaran dan Perkembangan usia siswa SD. Siswa di 12 SD Kota Bandung dapat melakukan kegiatan KBM Menggunakan literasi sains dengan pendekatan Saintifik 5M namun perlu dilatih dan terbiasaSecara bertahap sesuai perkembangan siswa SD. Dari data ada peningkatan 9,5% untuk ulangan Tingkat HOTS pada siklus 1 ke-2. Dalam proses KBMnya keaktifan berdiskusi, komunikasi lisanDan tertulis rerata di atas 65%.

Tujuan HOTS untuk melatih cara berpikir logis, berurutan dan kreatif. Dari dimensi sikap lebih mandiri, tanggung jawab dan jujur. Dari dimensi terampil Siswa dilatih untuk terampil menggunakan alat dan bahan yang ditemui dalam kehidupan Sehari-hari. Tiga dimensi tersebut untuk membekali siswa menghadapi revolusi industri.

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita