PENTINGNYA bahasa merupakan bagian yang sangat penting untuk anak usia dini distimulasi sejak dini. Masa paling instensif bagi perkembangan bicara dan bahasa manusia adalah masa anak usia dini, tepatnya tiga tahun pertama kehidupan, saat perkembangan otak manusia cenderung matang.
Anak usia dini lebih banyak menyerap apa yang diajarkan, dilihat, didengar dan disarankan oleh inderanya. Sehingga stimulasi perkembangan Bahasa anak akan berjalan dengan baik.
Menstimulasi perkembangan bahasa sejak usia dini dapat memberikan banyak manfaat pada anak dan orang tua. Pada dasarnya stimulasi bahasa sejak dini membantu memudahkan perkembangan bahasa pada anak.
Selain itu, tentunya stimulasi yang dilakukan dapat membantu mendeteksi apakah ada permasalahan dalam perkembangan bahasanya, seperti spech delay atau permasalahan lainnya.
Stimulasi perkembangan bahasa pada dasarnya harus dilakukan oleh orang tua di rumah dan guru di sekolah. Dengan memberikan stimulasi di rumah dan sekolah aspek perkembangan bahasa anak akan meningkat dengan cepat.
Di rumah, orang tua harus menstimulasi perkembangan bahasa anak dengan berbagai metode yang sekiranya dapat membantu, misalnya berinteraksi secara aktif dengan anak (melakukan komunikasi).
Juga mengajak anak bermain dengan berbagai permainan yang dapat membantu stimulasi perkembangan bahasa seperti bermain peran, bermain kartu gambar, bercerita dongeng, dan lain sebagainya.
Ada berbagai macam metode yang dapat diterapkan dalam menstimulasi perkembangan bahasa anak usia dini. Salah satunya dengan menggunakan metode bermain peran.
Role-playing dalam pembelajaran anak usia dini merupakan salah satu cara anak mengembangkan kreatifitas dan imajinasinya, dengan berperan menjadi tokoh-tokoh yang ada disekitarnya (Inten, 2017).
Dalam metode bermain peran, anak akan banyak melakukan interaksi dan komunikasi dengan teman-temannya sehingga secara tidak langsung perkembangan bahasa anak.
Penggunaan metode bermain peran akan membuat anak senang, karena pada dasarnya belajar pada anak usia dini yaitu, bermain sambil belajar. Tidak ada paksaan dalam bermain peran ini, anak akan secara suka rela memainkan atau memerankan tokoh yang menurutnya menarik.
Guru pun dalam menerapkan metode bermain peran ini hanya sebagai pengontrol atau pengawas, bila mana ada anak yang bertengkar ataupun terjadi kesalpahaman.
Adapun strategi guru dalam menerapkan metode bermain peran dengan anak:
(a) pilih tema yang menarik: Pilih tema atau cerita yang menarik bagi anak, seperti peran sebagai superhero, dokter, atau petualang. Hal ini akan membuat anak lebih antusias dan terlibat.
(b) Gunakan kata-kata yang sesuai: Saat bermain peran, gunakan kata-kata yang sesuai dengan karakter yang sedang dimainkan. Ini membantu anak memahami penggunaan kata-kata dalam konteks yang berbeda.
(c) Bertukar peran: biarkan anak bergantian menjadi berbagai karakter dalam permainan. Hal ini memungkinkan mereka untuk menggunakan beragam kata-kata dan peran dalam percakapan.
(e) Dukungan pemahaman: jika anak kesulitan dengan kata-kata atau frasa tertentu, berikan bantuan dan jelaskan maknanya. Ini membantu mereka memahami dan mengingat kata-kata baru.
(f) Bermain bersama teman: mengundang teman-teman untuk bermain peran bersama dapat meningkatkan interaksi sosial dan membantu anak berlatih berbicara dengan orang lain.
(g) Gunakan bahan tambahan: gunakan buku cerita, mainan, atau properti terkait dengan tema permainan untuk menambahkan dimensi visual dan taktile ke dalam permainan.
(h) Jangan tekan terlalu keras: biarkan anak bermain dengan alami, tanpa memberikan tekanan berlebihan.
(i) Pertahankan kesabaran: ingatlah bahwa perkembangan bahasa pada setiap anak berbeda-beda (Inten, 2017).
Dengan menggunakan strategi ini, guru dapat membantu anak meningkatkan keterampilan bahasa mereka sambil bersenang-senang dalam prosesnya.
Peningkatan keterampilan berbahasa anak setelah diterapkannya metode bermain peran ditandai dengan meningkatnya keterampilan berbicara anak, memperkaya kosakata, mengembangkan keterampilan mendengarkan.
Mengajarkan konteks bahasa, mengembangkan kemampuan sosial, serta mendorong kreativitas anak. Hal-hal tersebut akan didapat anak apabila penerapan metode bermain peran dilakukan dengan efektif. (Sumber: https://Kompasiana.com)