Ilustrasi/Istimewa
PENDIDIKAN karakter yaitu usaha yang disengaja (sadar) untuk membantu orang lain memahami, peduli, dan menerapkan nilai-nilai etika inti.Peserta didik diharapkan memahami nilai-nilai yang ditanamkan kepadanya, seluruhnya tanpa ada kesalahpahaman sedikit pun. Integrasi pendidikan karakter sangat penting dalam mengatasi permasalahan tersebut.
Krisis moral adalah digambarkan sebagai keluaran dari sikap tidak peduli terhadap lingkungan, tidak peduli terhadap orang lain, kehilangan sopan santun, menjauhkan diri dari agama, dan segala sifat buruk lainnya yang sudah sangat akut.Pendidikan karakter adalah pembentukan karakter seseorang mulai dari tingkat dasar (PAUD, SD, SMP) hingga menengah (SMA) berupa perbuatan baik berupa moral, etika dan perubahan bentuk nilai karakter karakter yang baik.
Pendidikan karakter dapat diartikan bahwa kita menyadari semua dimensi kehidupan sekolah kita untuk memajukan pengembangan karakter yang optimal (usaha kita yang terarah dari semua dimensi kehidupan sekolah untuk berkontribusi pada pengembangan karakter yang optimal.
Oleh karena itu pendidikan karakter pada prinsipnya dapat mengintegrasikan nilai-nilai perilaku manusia dengan pendekatan intensif terhadap wadahnya yaitu sekolah, dimana guru memiliki sikap meyakinkan terhadap siswa dan sebaliknya antara siswa dengan guru, dan sedikit demi sedikit mulai dengan contoh menyediakan level terendah, yaitu.
Tingkat PAUD, SD, SMP sampai dengan tingkat tertinggi yaitu SMA dan untuk tingkat pelajar. Maka muncullah karakter unggul dan amanah. Karakter adalah jumlah dari semua kualitas yang membuat Anda menjadi diri Anda sendiri. Itu nilai-nilai Anda, pikiran Anda, kata-kata Anda, tindakan Anda.
Artinya, karakter adalah seperangkat nilai, pikiran, perkataan dan perilaku atau tindakan yang telah membentuk seseorang. Oleh karena itu, karakter dapat digambarkan sebagai identitas seseorang, yang telah dibentuk sepanjang hidup oleh beberapa nilai etika dalam bentuk pemikiran, sikap, dan perilaku.
Dan banyak sekali lembaga pendidikan yang pendidikan karakternya paling efektif dilakukan pada usia dini, karena anak pada usia tersebut mengalami perkembangan yang luar biasa (the golden age) dan belum banyak mendapat pengaruh dari pihak luar.
Krisis multidimensi bangsa ini harus segera diatasi dengan bantuan pembangunan karakter yang akan diinternalisasikan di sekolah-sekolah. Selain itu, diharapkan tujuan pendidikan kerakyatan dapat tercapai dengan bantuan pendidikan karakter.
Hal ini menjadi penting, khususnya bagi peserta didik di Indonesia pada dekade akhir-akhir ini. Akhir-akhir ini peserta didik mengalami krisis moral. Sebuah krisis yang menyerang generasi muda, khususnya pada usia sekolah. Anak muda Indonesia saat ini mengalami krisis moralitas dan intelektualitas dalam level yang mengkhawatirkan.
Kasus pembunuhan seorang mahasiswi di Jakarta yang ironisnya dilakukan oleh mantan pacar korban bersama pacar barunya adalah contoh kasus terbaru. Motif pembunuhan tersebut ternyata sangat sepele, hanya karena sakit hati. Ini mungkin contoh ekstrim yang jumlahnya kecil.
Kasus ini menggambarkan bagaimana kondisi mental anak muda kita yang sedang ‘sakit’. Mungkin berlebihan jika dikatakan demikian, tetapi bisa jadi perbuatan tersebut merupakan keluaran dari sikap tidak peduli dengan lingkungan, tidak peduli dengan orang lain, hilangnya sopan-
santun, jauh dari agama, dan segala sifat ‘tidak baik’ lainnya yang sudah sangat akut. Pendek kata, anak muda kita sedang mengalami krisis moralitas. Fakta lain bisa disebut: tawuran, penyalahgunaan narkoba, seks bebas dan sebagainya.
Sehingga, pendidikan karakter perlu diimplementasikan secara lebih maksimal supaya dapat membendung berbagai krisis moral yang terjadi tersebut. Terutama yang terjadi di sekolah, integrasi pendidikan karakter tidak boleh gagal. Guru harus mampu dan bisa mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam pembelajaran, ekstra kurikuler dan budaya sekolah supaya mampu menjadi dasar soft skill yang kedepannya akan menjadi cikal bakal.generasi emas Indonesia.
Berbicara tentang karakter berarti berbicara tentang sesuatu yang sudah dikaitkan dengan seseorang. Karakter dapat dikatakan sebagai tabiat atau kepribadian seseorang, dimana tabiat atau kepribadian dapat bersifat positif atau bahkan negatif tergantung bagaimana proses pendidikan itu disusun.
John W. Santrock menyatakan bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan yang dilaksanakan melalui akses langsung kepada siswa untuk menanamkan nilai-nilai moral dan membekali siswa dengan pengajaran pengetahuan moral untuk mencegah perilaku yang dilarang. Karena dengan pendidikan karakter dapat membimbing dan mengendalikan seseorang dari yang kurang baik menjadi lebih baik.
Pendidikan saat ini memiliki peranan yang sangat besar dalam menghadapi tantangan global untuk mempersiapkan karakter manusia. Dekadensi moral juga telah mentransformasi pendidikan menjadi potret buram dalam dunia pendidikan.
Hal ini dapat dilihat dari maraknya peredaran video porno yang diperankan oleh para pelajar, maraknya perkelahian antar pelajar, maraknya penipuan dalam ujian nasional, banyaknya kasus narkoba yang menjerat siswa, dan sebagainya.
Hal ini disebabkan oleh berbagai pengaruh nilai asing yang masuk ke wilayah Indonesia tanpa adanya proses penyaringan. Jika efek ini tidak disikapi, tentunya akan merusak moral dan etika generasi muda, khususnya pelajar.
Nah seperti yang sudah kita ketahui, orang tua merupakan faktor terpenting dalam pembentukan karakter, karena nilai-nilai agama dan dasar-dasar kehidupan pertama kali dipelajari dalam lingkungan keluarga. Ditambah fakta bahwa anak usia sekolah dasar lebih banyak menghabiskan waktu dengan orang tuanya, tingkat peniruannya masih sangat tinggi.
Namun meskipun faktor eksternal tidak boleh dilupakan, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat sampai lingkungan bermain juga bisa memengaruhi pembentukan karakter anak.
Mengingat berbagai permasalahan yang muncul di atas dalam perilaku dan akhlak siswa serta dalam pengendalian proses pembelajaran di sekolah, maka diperlukan suatu upaya untuk meningkatkan kepribadian, akhlak, dan pengetahuan siswa.
Nah, apa saja sih upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan hal tersebut?
Pertama, menyisipkan pesan moral dalam setiap pelajaran, yaitu seperti mengajari siswa untuk belajar dari setiap pelajaran yang dipelajari. Dengan cara ini, siswa dapat mengetahui bahwa ilmu yang mereka pelajari sangat penting untuk masa depan.
Kedua, mengajarkan sopan santun dengan cara mengoreksi siswa yang nakal agar siswa tahu apa yang dilakukan atau dikatakan tidak pantas. Tegurlah siswa dengan lembut dan tanpa menghakiminya.Ketiga, menanamkan sifat kepemimpinan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk membimbing temannya.
Sehubungan dengan upaya yang telah dilakukan, pengaruh dari proses tersebut tidak langsung terlihat, melainkan membutuhkan waktu dan melalui proses yang panjang. Tetapi berkat upaya tersebut, setidaknya siswa memiliki daya tahan dan daya tangkal yang lebih kuat untuk menghadapi masalah dan tantangan pada masa depan.
Selain itu, para guru dan orang tua juga bisa mengajarkan nilai-nilai moral kepada anak-anak supaya karakter yang mereka miliki semakin kuat, agar tidak mudah terpengaruh oleh budaya asing. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga semakin menggerogoti moralitas yang seharusnya menjadi pedoman perilaku.
Merriam-Webster menyatakan moral adalah mengenai atau berhubungan dengan apa yang benar dan salah dalam perilaku manusia, dianggap benar dan baik oleh kebanyakan orang sesuai dengan standar perilaku yang tepat pada kelompok atau masyarakat tersebut.
Sedangkan moralitas adalah kemauan untuk menerima dan melakukan aturan, nilai atau prinsip moral. Nilai-nilai moral tersebut seperti:
-1. Ajakan untuk berbuat baik kepada orang lain, menjaga ketertiban dan keamanan, menjaga kebersihan dan melindungi hak orang lain.
-2. Larangan mencuri, berzina, membunuh, minum dan berjudi.
Seseorang dapat disebut bermoral ketika perilakunya sesuai dengan nilai-nilai moral masyarakat.
Jadi tugas penting yang harus dikuasai adalah mempelajari apa yang diharapkan dari masyarakat dan kemudian mau membentuk perilaku seseorang sesuai dengan harapan masyarakat tanpa diarahkan, dikontrol, didorong dan dihukum seperti pada masa kanak-kanak.
Selain itu, ada 5 nilai-nilai karakter Ki Hajar Dewantara dalam penguatan pendidikan karakter yakni:
-1. Religius yaitu setiap anak diharapkan mencerminkan Ketuhanan Yang Maha Esa dengan mengamalkan ajaran agama dan kepercayaan, menghargai perbedaan agama, menjaga toleransi dan hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain.
-2. Nasionalisme yaitu dengan mengajarkan kepada anak untuk belajar mendahulukan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri sendiri dan kelompok. Sikap nasionalis itu sendiri dapat diungkapkan melalui penghargaan terhadap budaya Indonesia, perlindungan kekayaan budaya bangsa, dan rela berkorban.
-3. Gotong royong,harus diajarkan kepada anak sejak dini, salah satunya adalah problem solving. Mereka harus tahu bahwa masalah bersama selalu lebih mudah dipecahkan dengan bekerja sama atau bergandengan tangan. Agar anak juga memahami konsep persahabatan dan ikhlas menawarkan bantuan kepada teman yang membutuhkan.
-4. Integritas karakter yang satu itu menjadi sebuah nilai yang mencoba menjadikan anak-anak sebagai orang yang dapat dipercaya dalam perkataan, perbuatan dan pekerjaan. Anak-anak harus tahu bahwa mereka harus mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan dan moral serta setia.
-5. Mandiri yaitu sekolah harus mengajarkan anak untuk bergantung pada orang lain dan membantu mereka menggunakan tenaga, waktu dan pikiran untuk memenuhi keinginannya.
Nilai-nilai tersebut harus diinternalisasikan dalam pembentukan karakter agar siswa mengembangkan karakter yang baik dan menjadi pribadi yang disukai.
Dari sini pendidikan karakter adalah usaha sengaja (sadar) untuk membantu manusia memahami, peduli tentang, dan melaksanakan nilai-nilai etika inti. Harapan karakter dan kepribadian yang terbentuk dalam diri peserta didik iitulah yang merupakan impian keberhasilan pendidikan karakter.
Peserta didik diharapkan mampu memahami nilai-nilai yang ditanamkan kepada dirinya, seutuhnya tanpa ada kesalahan pemahaman sama sekali. Bahkan diharapkan peserta didik akan memahami pengembangan nilai-nilai tersebut. Integrasi pendidikan karakter merupakan aspek yang urgen dalam mengatasi masalah krisis moral.
Maka dalam implementasi integrasi pendidikan karakter di sekolah dilakukan dalam tiga wilayah, yaitu melalui pembelajaran, melalui ekstra kurikuler dan melalui budaya sekolah. Usaha yang demikian tersebut merupakan usaha sekolah untuk mengatasi krisis moral yang terjadi pada diri peserta didik, dimana pada akhir-akhir ini cukup parah.
(Naila Zahrotun Napisah adalah Mahasiswa Prodi PGSD Universitas Peradaban, Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Email: zahrotunnapisah16@gmail.com)