Ilustrasi/Istimewa
PADA Tahun 2023 Budaya literasi atau membaca menjadi faktor banyak sekali peserta didik yang tidak mencapai suksesnya dalam proses belajarnya mereka lebih cenderung memilih bermain handphone untuk bermain game atau bermain media sosial dibandingkan untuk mencari refrensi atau untuk menjadikan alat untuk mempermudah belajar sehingga budaya literasi dan budaya belajar menjadi tantangan untuk para pendidik .
Budaya merupakan suatu kesatuan yang unik dan bukan jumlah dari bagian-bagian; suatu kemampuan kreasi manusia yang immaterial, berbentuk kemampuan psikologis seperti ilmu pengetahuan, kepercayaan, seni, dan sebagainya. Budaya dapat berbentuk fisik seperti hasil seni, dapat juga berbentuk kelompok- kelompok masyarakat, atau lainnya, sebagai realitas objektif yang diperoleh dari lingkungan, dan tidak terjadi dalam kehidupan manusia terasing, melainkan dalam kehidupan suatu komunitas.
Budaya belajar adalah Merupakan strategi pembelajaran yang mendorong terjadinya proses imajinatif ,metaforik ,berpikir kreatif dan juga menumbuhkan literasi. Kemampuan siswa untuk menjelaskan dan menerapkan pengetahuannya secara kontekstual diharapkan dapat menumbuhkan prestasi. Dan juga dalam pembelajaran harus ada juga budaya literasi yaitu membaca dan memahami pelajaran yang telah dipelajari oleh Peserta didik .
Pada Era sekarang Peserta didik seringkali menyepelekan budaya belajar dan literasi padahal sangat di wajibkan dan diperuntukkan untuk peserta didik membudayakan belajar dan literasi karena keberhasilan seorang siswa dapat mencapai prestasi belajar sangat dipengaruhi oleh faktor keduanya.
Budaya belajar merupakan serangkaian kegiatan dalam melaksanakan tugas belajar yang dilakukan belajar sebagai kebiasaan, dimana jika kebiasaan itu tidak dilaksanakan , berarti melanggar suatu nilai atau patokan yang ada, dan menjadikan belajarsebagai kegemaran dan kesenangan, sehingga motivasi belajar muncul dari diri sendiri, yang akhirnya produktifitas belajar meningkat.
Efek budaya yang lebih mematikan terjadi ketika kebanyakan orang mengalami penurunan budaya. Keterbelakangan budaya disebabkan oleh sekelompok masyarakat yang tidak dapat mengubah kebiasaan dan adat istiadat yang diyakini kebenarannya.
Sekolah yang berada di tengah masyarakat secara tidak langsung mempengaruhi budaya sekolah yang ada namun pada jaman sekarang budaya belajar dan budaya literasi sering sekali dilupakan, anak jaman sekarang banyak yang lebih memilih bermain selepas pulang sekolah dibandingkan mengulang atau membaca pelajaran yang dipelajari di sekolah karena dalam pikiran mereka untuk apa membaca maupun belajar?
Di era sekarang sudah sangat apapun bisa didapatkan di internet contoh kecilnya sebuah jawaban dari soal ujian maupun latihan, sehingga membuat peserta didik merasa belajar maupun membaca sudah tidak diperlukan lagi.
Penanaman budaya belajar dan literasi memang tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan, kerja sama dari semua lapisan masyarakat menjadi hal utama dalam penanaman budaya belajar dan literasi.
Sekolah adalah salah satu sarana Pendidikan formal, sehingga Sekolah bisa dijadikan dalam membudayakan literasi, hal ini terkait pada peran guru untuk menerapkan budaya belajar terutama literasi yang dirancang Kemikbud, gerakan 15 menit membaca sebelum KBM, harus mendapat apresisasi dan dukungan dari kita semua .
Selain sekolah, peranan orang tua dalam keluarga juga menjadi pelopor penanaman budaya literasi dalam lingkup kecil. Contohnya saat penanaman literasi agama dalam keluarga, kegiatan tadarus atau pemaknaan isi kitab suci menjadi penanaman yang baik untuk anak-anak khususnya. Orang tua sekaligus menjadi cermin perilaku terhadap apa yang dilakukan anak-anaknya.
Jadi, mulailah untuk membiasakan diri menerapkan budaya belajar dan literasi . Harapan kita bersama, dengan terwujudnya budaya belajar dan literasi dapat menciptakan peserta didik yang berkreatif, berprestasi yang lebih maju dan berwawasan.