Selasa, 17/01/2023, 16:23:28
Eppy Budi Menerbitkan Buku Puisi Tegalan Demi Menjunjung Derajat Bahasa Tegal
LAPORAN SL. GAHARU

Ilustrasi Eppy Budi Prie dengan bukunya “Gincu Abang Ngalap Berkah”. (Foto Edit: Gaharu)

…kemewahan hanya dimiliki diri sendiri. Buku dapat dimiliki banyak orang…

PanturaNews (Tegal) - Mendokumentasikan karya sastra menjadi sebuah buku lebih baik, daripada menimbun barang kemewahan yang acapkali menimbulkan kesombongan dan angkuh.

Pernyataan itu diucapkan Eppy Budi Prie, seorang penyair asal Tegal yang selama ini lebih fokus menulis puisi berbasis bahasa lokal Tegal, di berbagai penerbitan buku antologi baik di daerahnya maupun merambah ke berbagai daerah lain.

“Bagi saya yang namanya kemewahan hanya dimiliki diri sendiri. Sedangkan buku dapat dimiliki oleh banyak orang dan Insya Allah dapat dipetik manfaatnya,” ujarnya saat mengikuti Lokakarya Penyusunan Antologi Puisi Terjemahan “Kluwung Dewa-Dewi”, Selasa 17 Januari 2022.

Lokakarya yang diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, di Hotel Premier, Tegal, bersama para sastrawan lima wilayah; Tegal, Slawi, Brebes, Pemalang, dan Pekalongan pada Jumat-Sabtu, 23-24 Desember 2022.

Bagi Eppy, panggilan sehari-harinya, kesukaan menulis puisi sudah didedikasikan sejak dari kecil semasa duduk di bangku Sekolah Dasar. Thema yang ia tuangkan lebih menitik beratkan pada momen yang menyentuh perasaan di dalam kehidupannya.

“Saat nenek kami meninggal, perasaan kehilangan pun saya tuangkan dalam sebuah puisi. Kangen kepada ayah dan ibu yang sudah berkalang tanah pun, saya tumpahkan dalam puisi. Pendek kata jika ada momen yang menyentuh, satu-satunya katarsis saya pada puisi.

Hanya yang sayangkan, ratusan puisi yang sudah saya tulis, tercecer dan entah sekarang di mana. Saat itu saya betul-betul tidak terpikirkan untuk terdokumentasai,” tutur Epy yang pensiunan PNS di Kota Tegal ini.

Kegilaan Eppy semakin tumbuh, diakuinya sejak bergabung pada Komunitas Sastrawan Tegalan. Hal itu menurutnya, lantaran komunitas yang ia masuki lebih fokus menjunjung tinggi derajat bahasa Tegal, di mana ia juga dilahirkan dan besar di Tegal sehingga cukup nyaman bergabung pada Komunitas Sastrawan Tegalan.

“Bergabung di Komunitas Sastrawan Tegalan, saya merasa nyaman dan cocok. Karena apa? Mereka menjunjung tinggi bahasa lokal sama artinya menghormati ayah saya yang dilahirkan di Tegal. Tidak salah jika kemudian saya memilih Komunitas Sastrawan Tegalan yang memang sejak berdirinya fokus pada basis bahasa lokal melalui khazanah budaya sastra Tegalan,” ujar lelaki yang memiliki nama asli Budi Priyanto.

Menjawab pertanyaan, alasan Eppy membukukan kumpulan puisi Tegalannya, karena mendomumentasi sebuah karya sangat penting sebagai bukti bahwa ia tidak lupa akan bahasa ibunya.  Eppy sekarang menjadi Manager Obyek Wisata Eling Bening Semarang.

“Sebagai identitas bahwa saya ini wong Tegalerin. Sekaligus untuk kenangan atau peninggalan bagi generasi penerus agar mereka tidak lupa pada budaya dan bahasanya sendiri,” tuturnya yang lebih lanjut menerangkab bahwa yang dimaksud tembung “Tegalerin” artinya “Orang yang lahir di wilayah Tegal”.

Karya-kaya puisi Tegalan Eppy yang terbukukan di antaranya termuat di buku “Republik Tegalan, Antologi Puisi” terbitan Balai Bahasa Jawa Tengah, “Wulan Ndadari” terbitan Banyumas, “Antologi KUR 267, Puisi Pendek Tegalan” terbitan Komunitas Sastrawan Tegalan, “Kota Beton” terbitan Komunitas Sastrawan Tegalan, “Abad Pesugihan” terbitan Komunitas Sastrawan Tegalan.

“Mati Rasa Mati Kuasa” terbitan Komunitas Sastrawan Tegalan, “Obituari Kang Nur, Bapak Sastrawan Tegalan” terbitan Komunitas Sastrawan Tegalan, buku Kumpulan Wangsi “Mengikat Tradisi Menguntai Puisi, Genre Baru Sastra Tegalan” terbitan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, antologi “Tegalerin 2:4:2:4” sebuah genre baru sastra Tegalan, terbitan Komunitas Sastrawan Tegalan.

Antologi Tegalerin 2:4:2:4 “Kluwung Dewa Dewi” terbitan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, dan yang terakhir karya cerita rakyatnya terhimpun dalam buku bertajuk “Padasan Emas, Crita saka Tegal Cerita dari Tegal” terbitan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah.

Terakhir, buku kumpulan KUR 267 bertajuk “Gincu Abang, Ngalap Berkah” kini menjadi buku tunggal yang diambil dari puisi KUR 267 yang tersebar di beberapa buku kumpulan KUR 267 yang sudah diterbitkan dengan editor Lanang Setiawan.

“Mudah-mudahan buku kumpulan KUR 267 yang saya terbitkan, punya manfaat bagi masyarakat pada khususnya dan umumnya masyarakat luas.

Setidaknya turut remojong menjunjung derajat bahasa Tegal yang semula dilecehkan, sejajar dengan bahasa-bahasa yang lain,” katanya seraya menuturkan buku tunggal yang diterbitkannya itu memuat lebih dari 100 karya KUR 267.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita