Selasa, 06/12/2022, 09:09:44
Lanang, Bapak Pembaharu Puisi Tegalan
LAPORAN SL. GAHARU

Peneliti: klaim genre baru itu sah-sah saja dan harus dihargai…

PanturaNews (Tegal) - Kalau berkat usahanya mengembangkan Soneta (dari Eropa)  dalam kancah sastra Jawa modern, R. Intojo kemudian dijuluki Bapak Soneta dalam sastra Jawa modern, apa salahnya jika Lanang Setiawan dijuluki “Bapak Pembaharu Puisi Tegalan?.

Karena memang, Lanang Setiawan yang besar di Kampung Kalibuntu ini, telah berinovasi dan membidani lahirnya Genre/Jenis Baru Puisi Tegalan, sekaligus sebagai pelopor?

Ungkapan itu disampaikan Peneliti Balai Bahasa DIY, Dr. Tirto Suwondo, M.Hum, saat menjadi pembicara dalam peluncuran antologi “Puisi Tegalerin 2-4-2-4” dan diskusi tentang aliran baru dalam geliat Puisi Tegalan, di aula kampus Universitas Bhamada Slawi, Kabupaten Tegal, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, kiprah Lanang sebagai pencetus Sastra Tegalan yang diusung sejak tahun 1994, agaknya telah membuat “ke-gila-an” tersendiri telah melahirkan tiga aliran baru sekaligus dalam khasanah Sastra Tegalan.

“Coba bayangkan. Kurang dari tiga tahun dari tahun 2019 sampai 2021, Lanang Setiawan yang bergulat dalam dua bahasa; Indonesia dan Jawa Tegalan, berhasil memproklamirkan tiga model yang diklaim sebagai Genre Baru Puisi Tegalan,” kata Tirto.

Pertama, Wangsi, yakni puisi hasil perpaduan antara wangsalan (cangkriman, parikan?) dan puisi; kedua Kur 267, yakni kemasan puisi pendek berbahasa Tegalan, (yang diserap dari Haiku, yang mirip-mirip dengan puisi pendek dari Jepang) yang setiap larik atau barisnya hanya 2 suku kata, 6 suku kata, dan 7 suku kata.

“Ketiga, Puisi Tegalerin, yakni puisi hasil perpaduan jenis puisi dari dua negara yang berbeda (Puisi Jawa-Tegalan-Indonesia dan Soneta-Italia) yang terdiri 4 bait, 12 baris, dan berpola 2-4-2-4,” terang Tirto. 

Menurut Tirto, apa yang dilakukan Lanang sebuah tindakan yang berani dan “gila”, bahkan boleh dibilang “terlalu berani” atau “terlalu gila” (sebagai ungkapan decak kagum).

“Saya katakan begitu karena di benak saya bertanta: sudahkah dipertimbangkan dengan matang kriteria (estetika dan ekstraestetika) yang menjadi dasar klaim, bahwa ia adalah genre baru? Tetapi saya, tahu dan sadar, era ini adalah era demokrasi, era dekonstruksi atas kemakapan, era penolakan relasi kuasa dominatif-superior, era yang menempatkan keberagaman pendapat (siapa pun) pada ruang tertinggi akal sehat,” urai Tirto.

Oleh karenanya, katanya lebih lanjut, klaim genre baru itu sah-sah saja dan harus dihargai; dan soal keberlangsungannya pasti akan teruji dan diuji oleh sejarah. Oleh sebab itu, genre baru yang dilahirkan Lanang Setiawan dan kawan-kawan sah kehadirannya di jagat Sastra Tegalan.

“Saya contohkan, ketika Serat Rijanto (R.B Soelardi 1920) diklaim sebagai genre baru novel Jawa modern, atau geguritan “Kowe Wis Lega?” (St. Iesmaniasita 1954) yang diklaim sebagai genre baru puisi Jawa yang benar-benar modern dan terbebas dari tradisi. Maka saya tegaskan, Lanang Setiawan pantas mendapat julukan sebagai “Bapak Pembaharu Puisi Tegalan?” tegasnya.

Pada acara diskusi itu, selain menghadirkan pembicara Tirto Suwondo, juga Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah Dr. Ganjar Harimansyah, dosen Universitas Pekalongan Dr. Dina Nurmalisa selaku moderator.

Hadir Rektor Universita Bhamada Slawi Dr. Maufur, Atmo Tan Sidik, Muarif Esage, penyair Apito Lahire, Dhimas Riyanto, Isti Anah, Enthieh Mudakir, Abu Ma’mur, beberapa guru, mahasiswa, para penyair, budayawan.

Termasuk puluhan para penyair yang puisinya termuat dalam antologi Puisi Tegalerin 2-4-2-4. Pada saat itu Dr. Maufur didapuk sebagai “Presiden Penyair Tegalerin” dari gagasan Lanang Setiawan.

Sekedar diketahui, Dr. Tirto Suwondo, M.Hum lahir di Grobogan, Jawa Tengah, 1962 adalah peneliti di Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sejak Januari 2007 hingga Juli 2017, menjabat Kepala Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY); sejak Agustus 2017 hingga Agustus 2020 menjabat Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah, dan saat ini kembali menjadi peneliti pada Balai Bahasa DIY.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita