Kamis, 24/11/2022, 14:06:15
Syukuran Milad Sastra Tegalan Ke-28 Menggelora. Ayo Bikin Film Tokoh Tegalan Berpengaruh
LAPORAN TIM PANTURANEWS

Presiden Penyair Tegalerin, Dr. Maufur memberi sambutan pada syukuran Milad Sastra Tegalan ke-28 tahun di Peringgitan Balaikota Tegal. (Foto: Dok/KST)

…perjuangkan bahasa Tegal lewat Sastra makin terangkat derajatnya…

PanturaNews (Tegal) - Bertempat di Peringgitan Balaikota Tegal, berlangsung acara syukuran Milad Sastra Tegalan ke-28 tahun, Rabu 23 November 2022 malam.

Syukuran dihadiri Walikota Tegal, Dedy Yon Supriyono, para seniman, budayawan, tokoh masyarakat, ustadz, guru, dosen dari empat daerah: Tegal, Slawi, Kabupaten Pemalang dan Brebes.

Sebagian jajaran dari Pemkot Tegal, malam turut meriahkan. Dalam sambutan malam itu, walikota mengucapkan rasa syukur atas usia Sastra Tegalan sudah menginjak usia ke-28 tahun.

“Usia ke 28 tahun merupakan usia yang sedang lagi seneng-senenge caper: cari perhatian. Yang saya dengar tadi umur Sastra Tegalan sudah memasuki usia 28. Ini waktu yang sudah jauh Komunitas Sastrawan Tegalan nguri-nguri Bahasa Tegalan dijadikan bahasa sastra. Yang jelas gerakan ini menjadi bukti bahwa Bahasa Tegal semakin pentol,” ujarnya mengguna bahasa Tegal.

Ditambahkan, di Indonesa ini ada 718 bahasa daerah termasuk bahasa Tegal. Hal ini agaknya bahasa daerah yang paling banyak adalah bahasa lokal yang ada di Indonesia paling banyak sedunia.

“Namun demikian, adanya bahasa lokal yang ada di Indonesia semanyak itu, generasi muda masih kurang perhatian karena mereka lebih suntuk mengenal Youtube, TV, lan media-media online. Padahal bahasa Tegal ini termasuk bahasa yang paling unik dan semua orang Indonesia pasti ngarti, kalau bahasa Tegal itu sudah banyak diketahui mereka karena ciri khasnya.”

Pada kesempatan itu, walikota mengajak para seniman dan budayawan agar ke depan Komunitas Sastrawan Tegalan membuat film Tegalan tentang tokoh yang berpengaruh.

“Pak Muhadi saya kira bisa dilibatkan sebagai pemeran utama. Karena beliau cukup fasih menggunakan bahasa Tegal,” katanya.

Lebih lanjut, walikota berharap kelak para seniman dan budayawan bisa beraksi di beberapa tempat yang menonjol di heritage, yang ada di Taman Pancasila, depan Stasiun Kereta Api. City Wolk di Jalan A. Yani Kota Tegal, atau di bawah tower PDAM.

“Monggo para seniman bereasi di tempat-tempat stategis yang sudah disediakan Pemkot Tegal,” tegasnya.

Sementara Dr. Maufur yang mendapat gelar Presiden Penyair Tegalerin menuturkan, bersyukur gerakan Sastra Tegalan yang dilahirkan sejak 26 November 1994, hingga sekarang memasuki usia 28 tahun, bukan sesuatu yang sepele.

Melainkan gerakan Komunitas Sastrawan Tegalan yang gigih memperjuangkan bahasa Tegal lewat Sastra Tegalan, semangkin terangkat derajatnya di mata masyarakat.

“Setelah Bahasa Tegal dikemas menjadi bahasa sastra sejak 26 November 1994, menghasilkan manfaat bagi masyarakat Tegal dan para peneliti Sastra Tegalan dari banyak mahasiswa. Tidak hanya untuk mahasiswa di wilayah Tegal, melainkan sudah menyebar ke lain daerah dan kota,” tandasnya.

Ada yang menarik dan baru pertamakali terjadi dalam acara kegiatan helat sastra di Tegal, di mana Walikota Dedy Yon malam itu menebar sawer jutaan rupiah untuk para seniman empat daerah: Tegal, Slawi, Pemalang, dan Kabupaten Brebes.

Peristiwa itu terjadi saat sejumlah penyair membacakan Puisi Tegalerin 2:4:2:4 yang terhimpun dalam buku antologi “Republik Tegalerin 2:4:2:4” terbitan Komunitas Sastrawan Tegalan.

Hujan sawer Walikota Tegal terjadi diawali saat Lanang Setiawan menyampaikan Pidato Kebudayaan tentang kilas balik Sastra Tegalan dari mulai tahun 1994 hingga sekarang tahun 2022 berusia 28 Tahun.

Di akhir pidatonya, Lanang meneriakan agar para pembaca puisi walikota laik diberi sawer. Empat penyair yang sekaligus membacakan puisi walikota berjudul “Taman Laut” secara geropyokan. Begitu mereka menuntaskan pembacaannya, Walikota Dedy Yon langsung merogoh kocek memberikan sawer pada mereka.

Dan ternyata malam itu pun, tidak cuma mereka yang kebagian sawer akan tetapi puluhan penyair yang membacakan puisi dari antologi tersebut, masing-masing mendapatkan sawer darinya.

“Malam ini betul-betul hujan sawer,” ujar Apito Lahire bareng, Abu Ma’mur, dan Julis Nur Hussein.

Bahkan penyair Diah Setyowati yang hanya membacakan titimangsa atau penanggalan puisi karya walikota, tak ketinggalan mendapatkan sawer juga.

Hadir pada acara syukuran Sastra Tegalan malam itu, penyair Kepala BNN Kota Tegal  Sudirman, Apito Lahire, Lanang Setiawan, Atmo Tan Sidik, Diah Setyowati, Heni Oemar, Endang Sri Witanti, Julis Nur Nuhussein, Abu Ma’mur, Muarif Esage.

Moh. Ayyub, Dyon Dyonk, Hendri Yetus Siswono Brebes, Mi’roj Adhika A.Srony Kribo, Iwang Pemalang, Nanang Qosim Brebes, Ustadz Edy Priyono, Nindra, Maufur, para guru, novelis, budayawan, dosen, jajaran Pemkot Tegal, dan puluhan undangan dari empat daerah.

Acara ini merupakan rangkaian dari Milad Sastra Tegalan yang akan berlangsung di Universitas Pancasakti Tegal pada Sabtu, 26 November 2022 pukul 09.00 WIB, dengan agenda Sarasehan dan Lomba Maca Puisi Tegal, dan Cipta Puisi Tegalan.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita