Senin, 01/08/2022, 05:36:58
Peran Energi Terbarukan dalam Ketahanan Energi Nasional Menuju Era Society 5.0
Oleh: Muhammad Zakaria & Rizki Noor Prasetyono, M.Pd

ENERGI pada saat ini merupakan salah satu kebutuhan utama bagi umat manusia. Energi juga merupakan faktor penting dalam perekonomian, kesejahteraan rakyat, juga keberlangsungan suatu negara, sehingga ketersediannya harus terus dijaga. Menurunnya produksi energi fosil terutama minyak bumi serta komitmen global dalam pengurangan emisi gas rumah kaca, mendorong Pemerintah untuk meningkatkan peran energi baru dan terbarukan secara terus menerus sebagai bagian dalam menjaga ketahanan dan kemandirian energi Nasional. Pemerintah telah menetapkan ketahanan energi sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional.

Menurut Halim Sari (2019), Perkembangan sektor energi tidak lepas dari pergerakan perekonomian masyarakat, terutama di era modern seperti saat ini. Energi tidak lagi dipandang sebagai komoditas belaka, melainkan sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. Itulah sebabnya, Pemerintah Indonesia selalu melakukan upaya yang terbaik untuk memanfaatkan kesetaraan energi bagi masyarakat serta ketahanan energi dan kelestarian lingkungan.

Energi yang dimaksud adalah suatu daya atau kekuatan yang dapat dilakukan untuk mendukung suatu kegiatan serta didapat dari suatu bahan yang tidak terikat pada bahan lain. Energi yang telah dipakai terus-menerus dari zaman dahulu hingga sekarang memunculkan kekhawatiran habisnya sumber energi tersebut. Pada akhirnya manusia berusaha untuk mencari alternatif lain sehingga timbulah suatu konsep energi terbarukan.

Energi terbarukan menurut Pennstate Extention adalah energi yang dihasilkan dari sumber daya alam seperti sinar matahari, hujan, angin maupun pasang surut serta panas bumi. Energi terbarukan juga bisa didefinisikan sebagai energi yang dihasilkan dari proses alam yang terus-menerus dapat diisi ulang atau diperbarui, sehingga dapat terus dipakai dan tidak akan habis.

Dalam roadmap pengembangan EBT, sebagian besar EBT dimanfaatkan untuk pembangkit listrik dan sisanya untuk sektor transportasi, industri, komersial dan sektor lainnya sebagai bahan baku campuran biodiesel dan bioetanol. Indonesia memiliki banyak potensi energi terbarukan (antara lain energi surya, air, bayu, biomassa, laut, dan panas bumi) yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Menurut data ESDM, dengan teknologi yang ada saat ini, potensi listrik dari energi terbarukan mencapai 432 GW, atau 7-8 kali dari total kapasitas pembangkit terpasang. Indonesia memiliki potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang cukup besar diantaranya, mini/micro hydro sebesar 450 MW, Biomassa 50 GW, energi surya 4,80 kWh/m2/hari, energi angin 3-6 m/det dan energi nuklir 3 GW.

Menurut Tri Mumpuni (2018) Untuk mengatasi ancaman defisit energi di masa depan, pengembangan energi baru dan terbarukan (renewable energy) di Indonesia menjadi sebuah keniscayaan. Apalagi, potensi yang dimiliki Indonesia sangat berlimpah. Luasnya lautan di Indonesia jangan sampai diambil alih oleh pihak luar negeri atau investor. Karenanya, perlu ditingkatkan skill masyarakat untuk mengolahnya menjadi energi. Di masa sekarang, haruslah mengedepankan kerjasama antar pihak, sebab sudah saatnya menggunakan paradigama keadilan.

Pada tahun 2016, sebuah inisiatif yang disebut “Masyarakat 5.0” atau “Society 5.0” diusulkan oleh Kabinet Jepang dalam Rencana Dasar Sains dan Teknologi ke-5, dengan visi untuk menciptakan “Masyarakat Super Cerdas” (MSC). MSC diposisikan sebagai tahap perkembangan kelima pada masyarakat manusia. Energi terbarukan dapat menjadi jawaban untuk konsep Society 5.0, di mana energi ini memiliki lebih banyak keuntungan dibandingkan dengan energi yang sebelumnya kita telah pakai. Energi ini lebih ramah lingkungan, tidak membahayakan, serta dapat terus diperbarui, sehingga lebih banyak memberikan manfaat sekaligus melibatkan hajat orang banyak. Hal tersebut sangat sejalan dengan konsep Society 5.0.

Menurut Ali dalam jurnalnya (2019) konsep Society 5.0 ini akan berpusat pada suatu individu pada tiap harinya. Sehingga alam sebagai pendukung kegiatan dan suasana memiliki peranan di dalamnya. Lingkungan yang terawat serta tidak rusak juga akan menguntungkan umat manusia di dalam setiap kehidupannya. Sehingga dari apa yang telah dijelaskan sebelumnya menunjukkan bahwa energi terbarukan memang diperlukan di dalam konsep Society 5.0.

Transisi yang sedang kita lakukan saat ini dari revolusi Industri 4.0 menuju Society 5.0, diharapkan menjadi titik baru yang lebih bermanfaat bagi seluruh aspek dan bagian di muka bumi.

(Muhamad Zakaria adalah Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Email: mzakaria3025@gmail.com & Rizki Noor Prasetyono, M.Pd adalah Dosen Kepala Program Studi Teknik Elektro di Universitas Peradaban Bumiayu)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita