Minggu, 31/07/2022, 05:12:13
Kenali Bahaya Tuberkulosis Paru
Oleh: Aenurrokhmi Hernawati

TUBERKULOSIS adalah penyakit menular yang terjadi pada sistem saluran pernafasan yang kasusnya terus meningkat. Adapun penyebabnya adalah infeksi dari bakteri mycobacterium tuberculosis (TBC) yang merupakan jenis bakeri yang kuat, sehingga dalam pengobatannya membutuhkan jenis antibiotik dalam jangka waktu yang cukup lama dan berkelanjutan. Penyakit ini menyebar saat orang yang terkena TB paru mengeluarkan bakteri pada udara seperti saat batuk dan bersin.

Menurut WHO, sebanyak 1.5 juta orang meninggal akibat penyakit TBC di tahun 2020.

Penyakit ini merupakan penyakit dengan urutan ke 13 yang paling banyak menyebabkan kematian, dan menjadi penyakit menular nomor dua yang paling mematikan setelah COVID-19.

Indonesia berada di urutan ke 3 negara dengan kasus TBC tertinggi di dunia setelah India dan Cina (Global TB Report 2021) Data tahun 2019 menunjukkan ada sekitar 845.000 penderita TBC di Indonesia, namun hanya 54% dari target 85% yang berhasil di temukan dan diobati (Kemenkes 2022).

Penyakit ini dapat berakibat fatal bagi penderitanya jika tidak segera ditangani. Meski begitu, TBC adalah penyakit yang dapat di sembuhkan dan bisa dicegah.

Tuberculosis merupakan penyakit menular yang menjadi perhatian pemerintah Indonesia, karena angka kematian yang masih tinggi. Adapun upaya pemerintah dalam mencegah penyakit ini adalah pemberian vaksin BCG (bacillus calmette-guerin) dalam program Imunisasi Dasar Lengkap untuk bayi < 1 tahun dengan tujuan dapat mengurangi resiko penularan sejak dini dan mengurangi jumlah angka kematian. Akan tetapi stigma negatif yang biasa dialami para penderita dari lingkungan menjadi catatan tersendiri dalam upaya pengendaliannya.

Adapun faktor resiko yang menyebabkan TB paru ada 2, yaitu faktor intrinsic dan faktor ekstrinsik.

Faktor resiko intrinsic:

1-Umur dan jenis kelamin, 2-Pekerjaan, 3-Pendidkan dan pengetahuan, 4-Status gizi, 5-Kebiasaan merokok.

Faktor resiko ekstrinsik:

1-Pencahayaan, 2-Ventilasi, 3-Kondisi rumah, 4-Kelembaban, 5-Kepadatan hunian, 6-Keadaan social ekonomi.

-Gejala penyakit TBC.

Seseorang yang terjangkit bakteri penyebab TBC biasanya akan mengalami beberapa gejala seperti:

1-Demam tinggi yang biasanya disertai influenza, 2-Batuk lebih dari dua minggu dan pada kasus tertentu bisa sampai batuk darah, 3-Sering merasa sesak dan sakit didada, 4-Menurunnya nafsu makan, 5-Mengalami penurunan berat badan, 6-Mudah lelah, 7-Berkeringat pada malam hari.

-Pencegahan penyakit TBC bisa diupayakan dengan:

1-Senantiasa menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan sekitar, 2-Memperhatikan pola hidup dan pola makan seperti pemenuhan makanan bergizi dan rajin berolahraga, 3-Menghindari kontak dengan penderita TBC, 4-Melaksanakan vaksin BCG sebagai upaya mengurangi resiko tertular ataupun sebagai upaya untuk meringankan efek dari setelah terjangkit.

-Pengobatan TBC dapat diperoleh dari fasiltas kesehatan seperti puskesmas ataupun rumah sakit dengan pemberian terapi OAT (Obat Anti Tuberculosis) seperti Rifampicin, Isoniazid, Ethambutol, Pyrazinamide, streptomycin, amicasin, levofloxacine. Pemberian OAT harus sesuai baik itu dosis maupun lama pemberian terapi dengan kata lain pengobatan TBC harus sampai tuntas menghindari resiko terjadinya resistensi terhadap bakteri penyebab TBC, maka dari itu membutuhkan pendampingan dan pengawasan agar tercapai kepatuhan minum obat TBC, maka dari itu dukungan dari keluarga sangat dibutuhkan agar pengobatan dapat berjalan sampai sembuh.

-Indicator dan Target

Untuk menentukan suatu keberhasilan program, maka dibutuhkan adanya indicator-indikator sebagai bahan evaluasi dan monitoring WHO menetapkan tiga indicator TBC beserta targetnya yang harus dicapai oleh negara-negara didunia, yaitu:

1-Menurunkan jumlah kematian TBC sebanyak 95% pada tahun 2035 di bandingkan kematian pada tahun 2015, 2-Menurunkan insidens TBC sebanyak 95% pada tahun 2035 dibandinkan tahun 2015, 3-Tidak ada keluarga pasien yang terbebani pembiayaan nya terkait pengobatan TBC pada tahun 2035.

-Upaya dan Pengendalian

Pencegahan dan pengendalian faktor resiko TBC dilakukan dengan cara:

-Membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat. 

-Membudayakan perilaku etika saat batu. 

-Melakukan pemeliharaan dan perbaikan kualitas perumahan dan lingkungannya sesuai dengan standar rumah sehat. -Peningkatan daya tahan tubuh

Penanganan penyakit penyerta TBC. 

-Penerapan pencegahan dan pengendalian infeksi TBC di fasilitas pelayanan kesehatan dan diluar fasilitas pelayanan kesehatan.

(Aenurrokhmi Hernawati adalah mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Tinggal di Krajan, Negaradaha, Bumiayu, Brebes)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita