Kamis, 16/06/2022, 23:24:55
Kisah Perjuangan Emak Emak Pedagang Ikan Lesehan Naik Haji Setelah Menabung Puluhan Tahun
LAPORAN TAKWO HERIYANTO

Susiah (59), pedagang ikan lesehan di Pasar Induk Brebes yang akan akan berangkat naik haji setelah menabung puluhan tahun. (Foto : Takwo Heriyanto)

PanturaNews (Brebes) - Sebagian kaum muslim sangat merindukan bisa menunaikan ibadah haji. Bukan sekadar memenuhi kewajiban, namun bagi mereka ibadah haji adalah jawaban atas panggilan spiritual. Mengingat, menunaikan ibadah haji atau yang populer disebut naik haji tidak bisa sewaktu-waktu. Selain ada momen khusus, naik haji ke Tanah Suci di Arab Saudi butuh biaya yang tidak sedikit seiring lokasinya yang jauh.

Bagi yang tidak punya materi berlebih harus menabung. Tahun ini ada calon haji asal Pedukuhan Kalikamal, Desa Kedunguter, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, yang kisah perjuangannya menggetarkan.

Adalah Susiah berusia 59 tahun, yang kesehariannya sebagai pedagang ikan lesehan di Pasar Induk Brebes. Emak emak ini salah satu contoh orang yang berjuang keras menabung dalam waktu lama untuk bisa berhaji. Meski bukan orang kaya dari sisi materi, tapi kaya hati.

Untuk memenuhi panggilan ke Tanah Suci ia pun telaten menabung. Tentu butuh waktu tidak sebentar agar bisa terkumpul biaya haji. Ia harus menabung puluhan tahun. Penantian panjang yang diimpikan terjawab tahun ini dan kerinduan ke tanah suci pun akan terobati.

(Foto : Ilustrasi/dok)

Setelah menabung selama puluhan tahun, emak emak ini akhirnya mendaftar haji plus melalui sebuah biro perjalanan haji perwakilan Kabupaten Brebes.

Ditemui di lapak dagangannya, Susiah menceritakan, jika niat berangkat haji sudah ada sejak lama. Namun baru memiliki uang cukup dari hasil menabung pada 2015 lalu.

Bersama suami, Rakhudin, ia sempat datang ke Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Brebes untuk mendaftar haji reguler. Namun, niat itu dibatalkan lantaran daftar tunggu saat 2015 mencapai 17 tahun.

Khawatir tidak dapat umur karena sudah tua dan harus menunggu lama, ia pun mencari alternatif lain agar waktu tunggu tidak terlalu lama. Pasangan suami istri ini pun akhirnya mendaftar haji plus melalui biro haji dan umrah dengan ongkos naik haji (ONH) plus.

Sesuai rencana, tahun 2020 lalu, sedianya bersama suaminya diberangkatkan ke Tanah Suci. Bahkan, berbagai persiapan sudah dilakukan termasuk latihan manasik haji, suntik meningitis dan cek kesehatan.

Akan tetapi, pandemi COVID-19 membuyarkan rencana keberangkatan Susiah. Karena pandemi, pemerintah menghentikan pengiriman jemaah calon haji pada 2020 dan 2021.

Baru pada 2022, impian Susiah untuk menunaikan ibadah haji bakal terlaksana. Namun, keberangkatan Susiah ke Arab Saudi tidak didampingi suaminya, Rakhudin. Mengingat, suaminya terganjal pembatasan umur. Pada tahun ini, umur Rakhudin genap 70 tahun, selisih 5 tahun dari yang ditetapkan pemerintah, yaitu 65 tahun.

"Tapi, bapak sama anak membolehkan saya berangkat sendirian. Semoga tahun depan pemerintah membolehkan suami saya berangkat haji," harap Susiah.

Sebagai calon haji plus, tentu biaya yang dikeluarkan lebih besar. Susiah mengaku membayar sebesar USD 13.500 per orang atau sekitar Rp190 juta.

Sementara, Rakhudin mengaku ikhlas, jika gagal berangkat haji tahun ini. Meski begitu, ia berharap, jika pandemi COVID-19 selesai, masih mendapat kesempatan berhaji sebelum meninggal.

"Mudah-mudahan sebelum saya dipanggil Allah, masih diberi kesempatan menunaikan ibadah haji," Rakhudin berharap.

Terpisah, perwakilan biro perjalanan, Syahri Thalib menjelaskan, sesuai jadwal Susiah akan diberangkatkan pada 30 Juni mendatang. Setelah transit sehari, Susiah akan terbang ke Arab Saudi pada 1 Juli.

Sebagai calon haji plus, Susiah berada di Tanah Suci selama sekitar satu bulan. Direncanakan Susiah sudah berada di tanah air pada 30 Juli.

"Susiah ini berangkat ke Jakarta dulu pada 30 Juni. Tanggal 1 Juli akan terbang ke Arab Saudi dan pulang pada 30 Juli," terang Syahri.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita