Minggu, 05/06/2022, 15:52:09
Pendidikan dI Era Distrupsi
Oleh: Ade Nur Khakim

Secara etimologi, pendidikan berasal dari kata “paedagogie” dari bahasa Yunani, terdiri dari kata “paes” artinya anak dan “agogos” artinya membimbing. Jadi paedagogie berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Dalam bahasa Romawi pendidikan berasal dari kata “educate” yang berarti mengeluarkan sesuatu yang berada dari dalam. Sedangkan dalam bahasa Inggris pendidikan diistilahkan dengan kata “to educate” yang berarti memperbaiki moral dan melatih intelektual. Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai Erziehung yang setara dengan educare, yakni: membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan atau potensi anak.

Secara umum kita memahami era disrupsi sebagai masa di mana banyak lahirnya inovasi-inovasi teknologi yang merubah tatanan sistem lama bahkan merusak eko-sistem yang sudah ada. Di Indonesia, fenomena ini sudah kita rasakan dampaknya. Sebut saja lahirnya inovasi teknologi e-commerce bidang transportasi seperti Gojek, Grab, dan Uber sebagai apps-based transportation service berdampak siginifikan terhadap turunnya omset dan performa bisnis armada taksi besar seperti Blue Bird, Express Taxi, dan lain sebagainya Fenomena ini tentu berdampak terhadap eksistensi bisnis dan komersial pusat yang mengeluhkan penurunan omset penjualannya.

Pendidikan merupakan hak setiap anak bangsa yang sudah tertera dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pada alinea ke-4 yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Sedangkan menurut kamus bahasa Indonesia pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Perkembangan dalam pendidikan terlihat dari Data Badan Pusat Statistik (BPS) contohnya di perguruan tinggi, Mayling oey-Gardiner dkk. (2017: 3) mengungkapkan bahwa Dari segi kuantitatif, pertumbuhan pendidikan tinggi cukup mengesankan. Namun, bila menyangkut mutu, perkembangannya merisaukan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memberi gambaran kuantitatif tentang perguruan tinggi di Indonesia. Pertumbuhan kuantitas ditunjukkan oleh perkembangan jumlah perguruan tinggi dan mahasiswa. Jumlah perguruan tinggi tumbuh cukup pesat, baik yang berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan maupun Kementerian Agama.

Perkembangan pendidikan di Indonesia melewati jalan yang sangat panjang, dari waktu ke waktu ada transformasi pendidikan agar arah pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik lagi. Transformasi pendidikan di Indonesia biasanya mulai dilakukan dari kurikulum yang digunakan, teknik pengajaran guru, cara mengakses pelajaran dan sebagainya. Dapat dikatakan pendidikan di Indonesia sekarang sudah lebih baik, terlebih dengan hadirnya teknologi yang semakin canggih. Dengan adanya perjuangan pendidikan pada masa dahulu untuk dijadikan contoh agar pendidikan di era distrupsi lebih selaras dengan tujuan pendidikan itu sendiri dan lebih maksimal dalam proses pembelajaran.

Era Disrupsi, merupakan era perubahan yang mendasar dan fundamental dalam tatanan hidup manusia. Perubahan yang terjadi tidak hanya pada satu aspek kehidupan, melainkan hampir pada seluruh aspek kehidupan seperti politik, sosial, budaya, bisnis, dan pendidikan. Seiring perkembangan zaman, teknologi dalam perkembangannya membawa perubahan dalam dunia pendidikan akan terus menerus mengalami perkembangan. Untuk itu bidang pendidikan harus selalu melakukan inovasi yang menyeluruh di karenakan bidang pendidikan memiliki peran penting dan menjadi factor yang menunjang keberhasilan system dalam proses belajar dan mengajar.

Digitalisasi merupakan akibat dari evolusi teknologi (terutama informasi) yang mengubah hampir semua tatanan kehidupan, termasuk tatanan dalam berusaha (bisnis) dan pendidikan. Sebagian pihak mengatakan bahwa disrupsi adalah sebuah ancaman. Namun banyak pihak pula mengatakan kondisi saat ini adalah peluang. Era disrupsi ini merupakan fenomena ketika masyarakat menggeser aktivitas-aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata, beralih ke dunia maya. Fenomena ini berkembang pada perubahan pola mulai dari dunia bisnis, perbankan, transportasi, sosial masyarakat bahkan sampai berpengaruh ke dunia Pendidikan.

Kemajuan teknologi dapat kita manfaatkan untuk menunjang sebuah kemudahan dalam mengakses materi di dunia pendidikan seperti belajar lebih mudah dengan google, E-book, Zoom dan alat atau aplikasi pembantu pembelajaran yang mudah lewat dunia digital. Peran kemajuan teknologi dalam dunia pendidikan sangatlah baik namun perkembangan teknologi dapat menjadikan sebuah ancaman bagi kita, tatkala sebuah pesatnya perkembangan teknologi bagi pemuda generasi bangsa tidak bisa menggunakannya dengan bijak gawainya dengan mengobjektifikasikan tindak kejahatan serta penggunaan gawai yang tidak semestinya untuk berkembangnya ilmu pengetahuan diri.

Lalu, apakah yang menjadi tantangan pendidik di Era Disrupsi teknologi? tantangan yang dihadapi oleh pendidikan akibat cepatnya perkembangan teknologi berdasarkan kemendikbud. kurikulum merupakan pegangan sebagai bekal kegiatan belajar anak-anak di sekolah. Oleh sebab itu kurikulum sangat diperlukan dalam proses pembelajaran. Namun, kurikulum juga merupakan tantangan bagi pendidikan. Khususnya pendidikan Indonesia kurikulum yang diberikan merupakan pengarahan dari pemerintah dan dengan peraturan yang semakin ketat. Dan Indonesia mengganti kurikulum pendidikan setiap 10 tahun sekali, sedangkan perubahan terjadi hampir setiap kali.

Solusi Mengatasi Tantangan Pendidikan di Era Disrupsi Teknologi, Bayu Rikno Pamungkas (2019) menyatakan bahwa perlu dilakukannya adalah evaluasi pendidikan yang dimana setiap para pengajar harus mengetahui hal-hal apa saja yang harus diubah dan diperhatikan di dalam perkembangan teknologi. Khususnya kurikulum yang menjadi dasar dan pegangan bagi murid haruslah diperhatikan serta metode pembelajaran yang telah dijelaskan diatas. Evaluasi pendidikan memiliki peran yang sangat penting untuk kemajuan pendidikan di era disrupsi teknologi, sehingga perlu dilakukanoleh setiap lembaga pendidikan khususnya di Indonesia.

(Ade Nur Khakim, Mahasiswa Universitas Peradaban Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia yang bertempat tinggal di Dukuh Mingkrik, Tonjong, Brebes, Jawa Tengah)

 

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita