Kamis, 10/06/2021, 10:40:08
Membumikan Sabar
Oleh: Muhamad Rifqi Rivaldi

...bahwa Ia senantiasa bersama orang-orang yang sabar...

BARANGKALI kata sabar merupakan salah satu kata yang paling banyak disebut oleh siapapun mereka, entah itu yang muda ataupun tua, baik itu pria dan sekaligus juga kaum hawa. Lebih-lebih saat orang yang sedang dirundung kesempitan, kata “sabar” begitu familiar.

Kata “sabar” sendiri secara mudahnya dapat dipahami sebagai suatu keterampilan bersikap dalam menahan emosi, keinginan, serta bertahan dalam situasi untuk tidak mengeluh. Poin utama yang harus diperhatikan disini ialah mengendalikan diri.

Dalam hal mengendalikan diri, agaknya kita sudah belajar banyak hal lewat berpuasa di bulan Ramadhan kemarin seperti menahan untuk tidak makan, menahan untuk tidak emosi dan lain sebagainya. Sehingga seharusnya kita sudah bisa lebih menyelami apa sebenarnya sabar itu.

Tentu mengendalikan diri dari hal-hal yang mengganggu diri kita tak cukup dengan hanya menampakannya secara fisik, didalam batin kita pula harus sudah merdeka dari perasaan menggerutu, mengeluh serta sikap-sikap yang menunjukan ketidak puasan. Orang yang di lisannya mengucapkan sabar sedangkan di dalam hatinya masih menggerutu, tentu tidak bisa disebut dengan sikap sabar yang benar, sederhananya hati dan perbuatan harus sinkron satu sama lain.                                                         

Yang sering kita tidak sadari, sabar ternyata bukan hanya tentang menghadapi kesempitan hidup saja. Namun ada beberapa kategori yang termasuk ke dalam sabar, seperti menurut mayoritas ulama, sabar itu dibagi 3, yakni; sabar dalam ketaatan kepada Allah SWT, sabar dalam menjauhi maksiat, serta tentu saja sabar dalam menerima musibah.

Sabar dalam ketaatan merupakan sikap sabar untuk terus melakukan ibadah kepada Allah dan melakukan perintah-perintahnya sehingga kita terus konsisten dalam ketaatan kepada-Nya. Sering kali kita alami saat akan beribadah, ada saja halangan seperti rasa malas, godaan-godaan yang melalaikan dan sejenisnya.

Maka dari itu, dibutuhkan kesabaran dalam hati, kekuatan untuk mengendalikan diri demi melawan godaan-godaan tersebut, sehingga kita bisa senantiasa menjalankan ketaatan kepada-Nya.

Kemudian tentang kesabaran dalam rangka menjauhi maksiat tentu tak kalah penting juga. Bagaimana dalam situasi kesempatan untuk melakukan dosa, berbuat yang tidak senonoh, maupun memakan atau meminum minuman haram serta berbagai macam maksiat yang lainnya, namun kita diharuskan untuk menjauhi walaupun kita diberi kemudahan untuk melakukannya tentu membutuhkan kesabaran yang ekstra dan keteguhan hati yang kuat. Namun, keberanian kita untuk meengendalikan diri, bersabar untuk tidak melakukan maksiat tersebut, akan bersanding lurus dengan pahala serta kenikmatan yang diberikan oleh Allah.

Dan yang terakhir tentang sabar dalam menghadapi cobaan, musibah maupun kesempitan. Seluruh manusia sudah pasti akan diberikan kepayahan dan kesulitan yang mencekik kehidupannya. Entah itu akibat dari hukum karma atas perbuatan yang telah dilakukan, atau bahkan diberikan langsung oleh Tuhan sebagai bagian dari cobaan untuk menguji hamba-Nya agar kita diangkat derajatnya.

Pada surat Al-Baqarah ayat 153, Allah telah menegaskan bahwa Ia senantiasa bersama orang-orang yang sabar. Maka dari itu, saat kita sabar bukan hanya hati kita menjadi lapang dan enteng dalam menjalani kehidupan, namun Allah pun akan menyertai diri kita.

Lantas tatkala Allah bersama kita bukankan hidup akan lebih mudah? Bukankah kekurangan kita akan dicukupkan? Apa yang patut dikhawatirkan jika Allah bersama kita?

(Muhamad Rifqi Rivaldi adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita