Senin, 03/05/2021, 15:12:33
Menolak Lupa: Marsinah Perempuan Sang Gagah Berani
Oleh: Aizul Istiqomah

Sejarah layaknya pohon, ia akan tumbuh rumpun bahkan berbuah, namun pohon hanya memiliki satu akar untuk menjadi penyangga ranting-ranting yang lain. Orang yang cacat secara pola pikir, adalah orang-orang yang menghapus sejarah dengan dalih ingin membuat sejarah baru.

Seperti itulah sejarah berbicara kepada manusia penikmat sejarah. Indonesia dahulu merupakan negara yang sudah mengalami jajahan dari negara-negara lain. Sistem yang dibangun saat itu, belum mendekati kata merdeka serta sejahtera, padahal secara lahiriah Indonesia sudah merdeka sejak tahun 1945.

Kita kenal dengan Marsinah, seorang perempuan yang mati terbunuh hingga tiga hari baru ditemukan. Marsinah meninggal dengan bekas luka yang sangat parah, ia mengalami berbagai tulang yang patah ketika di autopsi dua kali. Marsinah ditemukan tiga hari setelah dinyatakan hilang.

Sejarah mencatat bahwa kematian Marsinah sangatlah misterius, sebab tidak ada yang mengaku membunuhnya. Bahkan ketika dilakukan otopsi, dokter mengatakan bahwa sebelum dibunuh Marsinah direnggut keperawanannya dahulu. Dalam media rekam jejak sejarah Marsinah masih begitu hangat, dituliskan bahwa sebelum meninggal Marsinah telah menjadi garda terdepan bagi penyuaraan buruh di tempat tinggalnya saat itu.

Sebab pada saat orde baru ada sebuah ketidak adilan yang didapat oleh buruh, hingga Marsinah, sosok perempuan yang saat itu berumut 24 tahun tidak ingin membungkam mulutnya. Dengan keberaniannya, ia maju untuk meminta haknya dengan adil.

Setelah dengan berani Marsinah meminta keadilan, namun tidak didapatkan malah berita Marsinah hilang mulai disiarkan. Dari titik ini masyarakat mulai curiga terhadap para pecundang PT saat itu, sebab setelah Marsinah dinyatakan meninggal ada enam teman Marsinah yang saat itu diculik juga, dan dipaksa untuk mengaku membunuh Marsinah.

Para tokoh PT tersebut tidak ingin terlihat telah mendzolimi mayarakat yang telah berani, mereka tidak ingin terlihat kejahatannya di depan masyarakat lainnya. Marsinah begitu sosok perempuan yang tangguh, dengan keberaniannya namanya masih harum sampai saat ini.

Jika dianalogikan dengan perempuan abad 21 ini, apakah masih ada semangat Marsinah yang singgah pada tubuh perempuan saat ini? Sangat begitu disayangkan kita hanya membaca sebuah sejarahnya saja, namun tidak menjadikan Marsinah sebagai tauladan dalam kita memertahankan hak-hak sebagai perempuan dan sebagai penyandang profesi juga.

Bahkan Marsinah sampai rela mati terbunuh, hanya untuk mensejahterakan masyarakat yang mengadu akan dirinya sebagai buruh, dan kurang mendapatkan keadilan.

Kebanyakan perempuan saat ini lebih memilih untuk berdiam diri, memperindah diri dengan banyaknya perhiasan serta berlomba-lomba dalam ber-scincare. Itulah potret yang sekarang sedang terjadi.

Untuk menghibahkan dirinya menjadi seorang yang mempunyai nilai tinggi mereka enggan. Rasa semangat, rasa ingin membela, serta rasa perhatian untuk masyarakat sudah tak sedap lagi. Seketika hilang sosok Marsinah dalam perempuan Indonesia. Meskipun ada, namun itu hanya sebagai minoritas diantara jutaan perempuan Indonesia.

Mari menundukan kepala seraya merenungkan, bahwa hadirkanlah sosok Marsinah dalam tubuh kalian semua. Jiwa yang pemberani dalam berkelahi menantang ketidakadilan dan keserakahan para kaum kapitalis, serta mensejathterakan masyarakat.

(Aizul Istiqomah adalah Mahasiswi Pendidikan Matematika Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita