Senin, 03/05/2021, 15:10:32
Strategi Mempengaruhi Masyarakat Ekonomi Asean
Oleh: Siti Komariyah

Indonesia adalah salah satu negara yang masuk dalam anggota Asean. Pada tanggal 7 Oktober 2003, anggota negara Asean menyepakati untuk membentuk komunitas masyarakat Asean di tahun 2020. Tahun 2007, terjalinlah komitmen untuk mewujudkan masyarakat Asean dan mempercepat target waktunya menjadi tahun 2015.

Pada akhir tahun 2015, adalah awal dari legalitas dibukanya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), dimana dilangsungkannya kebebasan dalam hal perdagangan. Tujuan MEA tidak lain dari usahan untuk mencapai kemajuan, salah satunya di bidang ekonomi yang menuju satu Market di negara-negara Asia.

Negara yang termasuk di Asia yang membuat program MEA terdiri dari sepuluh negara yakni Indonesia, Malaysaia, Singapore, Thailand, Vietnam, Philipin, Brunaie Darussalam, Laos dan Kamboja. Melihat perjanjian atas sepuluh negara tersebut, adalah untuk membentuk satu visi untuk saling berkontribusi satu sama lain dari negara sepuluh tersebut .

Dalam hal ini, penulis fokus pada pembahasan aspek ekonomi dalam bidang ini lebih menekankan pembaca untuk intropeksi, sudah sejauh mana persiapan dalam menghadapi komunitas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Ada salah satu statment masyarakat Brebes bagian selatan yang menyatakan, bahwa sebetulnya kita belum bisa bersaing dalam MEA, karena tingkat SDM kita masih belum optimal.

Melihat fenomena seperti ini, memang bisa dikatakan wajar karena pendapat masyarakat berbed-beda. Presiden Jokowi telah memberikan semangat untuk masyarakat Indonesia untuk optimis dalam menghadapi MEA, tutur beliau setelah mengahadiri acara pertemuan sepuluh kepala negara tersebut.

Menurut penulis, bahwa kita sebagai masyarakat yang perlu ditanamkan untuk menghadapi MEA ,adalah sikap optimisme yang tinggi serta mampu berinovasi dan meningkatkan tingkat kreatifitas.

Karena sikap optimis akan selalu membawa kepada  semangat kerja keras berfikir ulet dan pandai mencari peluang. Penulis rasa MEA bukan suatu yang mengerikan ketika dihadapi dengan tenang dan berfikir cerdas dan yang harus dilakukan adalah upaya positif untuk menghadapinya serta mecari peluang yang ada.

Membahas Sumber Daya Alam (SDA) di Indonesia sudah tidak diragukan lagi karena amat kayanya alam indonesia, yang masih jadi PR kita semua adalah meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) agar lebih bermutu, sehingga mampu mengelola SDA yang ada menjadi lahan dan target untuk mengolahnya.

Menurut Penulis dibidang pertanian untuk wilayah brebes selatan masih belum optimal dalam pengelolaannya, Muhiamin salah satu petani warga Desa Gunungsumping Rt 006 Rw 008 Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes mengeluhkan atas hasil yang tidak sesuai target dari pertanian.

Obat-obatan yang masih sulit untuk didapatkan, juga harga perawatanya yang tergolong mahal. Dalam hal ini perlu adanya tindak lanjut dari pemerintah daerah untuk mencarikan solusi yang tepat, agar memudahkan operasional pertanian yang bertujuan untuk mengoptimalkan.

Mulai dari mudah dalam mendapatkan pupuk, dan pemerintah setempat mengadakan sosialisai terkiat pertanian, sehingga mampu mengelola lahan pertanian dengan efektif dan efisien dan menghasilkan panen yang optimal. Saya rasa langkah seperti ini adalah strategi yang tepat untuk menjawab permasalahan yang sering timbul dari bidang pertanian.

Dalam bidang ketenaga kerjaan, juga harus lebih diperhatikan mulai dari peningkatan kualitas pendidikan. Dan peran pemerintah dalam upaya mengoptimalkan sumber daya manusia yang ada, sehingga menciptakan tenaga-tenaga profesi yang handal dalam berbagai bidang sesuai yang diminatinya.

Kita lihat dibrebes sendiri fenomena yang sering di lihat yaitu banyak lulusan SLTA masih banyak yang menganggur, kebanyakan lulusan tersebut lebih tertarik mecari pekerjaan di ibukota jakarta dibandingkan didaerahnya sendiri karena alasan gaji yang masih rendah, fenomena ini sering kali banyak ditemukan disekitar kita, padahal kita ketahui jakarta sudah padat penduduknya dan untuk lapangan pekerjaan pun semakin ketat bersaing untuk mendapatkan.

Melihat jakarta menjadi target utama kita ada hal yang perlu dibenahi dengan seksama, secara tidak langsung asal domisili kurang menarik dan terabaikan dan itu yang membuat terbelakang. Harus ada perhatian khusus dari pemerintah berinovasi menciptakan lapangan pekerjaan, untuk menjawab tingkat pengangguran yang ada dan dari perusahaan yang ada di wilayah Brebes untuk lebih menghargai Tenaga kerja dengan memberikan upah yang sesuai.

Pemerintah daerah juga harus mengoptimalkan SDA yang terdapat di daerah komandonya, sehingga masyarakat dan pemerintah dengan mudah dapat memajuakan daerah. Juga selain memperkerjakaan masyarakatnya, dapat memberikan kemudahan untuk mencapai target kemajuan.

Jadi menurut penulis tahap awal menghadapi MEA, adalah dengan memajukan daerah-daerah sehingga tidak didapati adanya kesenjangan dalam bidang ekonomi. Dan mengilahkan rasa pesimis dengan adanya MEA, agar menumbuhkan sikap percaya diri yang tinggi sehingga adanya MEA kita bisa mensiasati dan mencari peluang yang ada.

Lalu setelah dapati permasalahan yang sudah dipaparkan diatas, kita memang harus benar-benar berbenah diri untuk dapat mensiasati adanya komunitas MEA ini. Tentu harus ada keseimbangan dari masyarakat juga pemerintahnya, agar mencapai efisiensi dan efektifitas menuju menggapai cita-cita yang sudah dirumuskan pancasila (Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia).

(Siti Komariyah adalah Mahasiswi Teknik Informatika Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita