Senin, 03/05/2021, 15:06:54
Jurnalistik Sebagai Pekerja Mulia untuk Pemuda
Oleh: Siti Komariyah

Istilah jurnalistik pada saat ini, mungkin sudah tidak asing lagi terdengar di telinga. Di era sekarang ini berbagai media informasi dan telekomunikasi sangat mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat, khususnya di perkotaan, bahkan media massa dapat mempengaruhi masyarakat sampai kepelosok-pelosok pedesaan.

Televisi dan radio bukan lagi barang yang dianggap mewah, sehingga banyak masyarakat desa yang memilikinya. Sehingga dari media massa itulah kerap sering termuat istilah jurnalistik. Karena media massa sebagai sarana penyaluran kegiatan hasil kerja jurnalistik.

Dari segi asal katanya, istilah jurnalistik berasal dari jurnalistiek (bahasa Belanda), sama halnya dengan istilah dalam bahasa Inggris yaitu Journalism yang bersumber dari perkataan jounal, yang merupakaan terjemahan dari bahasa latin diurna yang berarti "harian"atau "setiap hari", di mana segala berita yang pada hari itu termuat dalam lembaran kertas yang tercetak.

Dalam Kamus Besar Indonesia disebutkan hahwa jurnalistik adalah pekerjaan mengumpulkan, menulis, mengedit dan menerbitkan berita di surat kabar dan sebagainya, yang menyangkut kewartawanan dan persuratkabaran.

Melihat pengertian di atas, maka pada point pertama memberikan pemahaman  karena pada point pertama memberi perincian yang mendalam mulai dari proses memgumpulkan berita hingga penerbitan pada surat kabar (media cetak). Meskipun di era sekarang ini, bukan hanya media cetak tetapi juga media elektonik yang menjadi media bagian kegiatan jurnalistik.

Pada dasarnya bahwa perkembangan jurnalistik tidak dapat dipisahkan dengan sejarah penemuan huruf, sejarah penemuan alat-alat pencetak, alat-alat tulis, sejarah grafika dan penemuan-penemuan lain yang berkaitan dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih.

Sejarah jurnalistik pun tidak dapat dipisahkan dari proses perkembangan ilmu komunikasi, karena merupakan bagian yang takterpisahkan dalam proses hubungan manusia dengan manusia. Dengan adanya hubungan ini, maka manusia mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.

Begitu juga sejarah jurnalistik tidak dapat dipisahkan dari keinginan manusia untuk mengetahui segala hal yang berkaitan dengan kebutuhannya, sehingga pada akhirny manusia tidak akan puas terhadap apa yang diperolehnya dan memotivasi untuk menghasilkan alat-alat yang baru untuk memuaskan dirinya. Pengetahuan tentang jurnalistik dimulai pada tahun 2000 SM.

Saat itu, bangsa Babilonia memiliki penulis-penulis sejarah yang mencatat berbagai macam peristiwa sehari-hari untuk kepentingan negara. Peninggalan sejarah dari bangsa Babilonia ini banyak sekali, berupa tulisan-tulisan di tembok-tembok, candi-candi, tonggak, serta gambar gambar yang memiliki makna. Kesemua peninggalan tersebut merupakan pengumuman pemerintahan kerajaan yang sangat penting.

Indonesia merupakan negara yang mempunyai ruang untuk siapapun berbicara dan menulis asalkan tidak melukai hati para pemerintah elit di tataran Indonesia. Jurnalistik sangat menjadikan manusia tidak condong kepada prasangka-prasangka saja, dengan jurnalistik kita mampu menggali informasi dengan detail serta membawa sebuah perubahan, karena jurnalistik merupakan pekerjaan mulia untuk kita tetap tabayyun dalam menyelesaikan permasalahan.

(Siti Komariyah adalah Mahasiswi Teknik Informatika Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita