Sabtu, 01/05/2021, 20:43:24
SAFE Seas Project Dorong Lahirnya Serikat Buruh Awak Kapal Perikanan
LAPORAN JOHARI

Direktur SAFE Seas Project Nono Sumarsono

PanturaNews (Tegal) -  SAFE Seas Project mendorong lahirnya Serikat Buruh Awak Kapal Perikanan di Tegal yang dideklarasikan oleh Organisasi Pusat Informasi dan Layanan Awak Kapal Perikanan (PILAKP) Tegal, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional 1 Mei 2021 di Ndalem Benawa, Tegal, Jawa Tengah, Sabtu 01 Mei 2021.  

Upaya PIL AKP dan SAFE Seas Project ini merupakan bagian dari perjuangan perlindungan dan peningkatan kesejahteraan awak kapal perikanan (AKP) Indonesia yang rentan terhadap praktik kerja paksa dan perdagangan orang.

Direktur SAFE Seas Project Nono Sumarsono mengatakan pembentukan serikat buruh adalah penegasan bahwa AKP merupakan bagian dari pemangku kepentingan yang memiliki peran strategis untuk memperjuangkan perlindungan dan kesejahteraan AKP Indonesia.

“Yayasan Plan International Indonesia atau Plan Indonesia melalui SAFE Seas Project sangat mendukung, bahkan mendorong lahirnya serikat buruh ini agar ke depannya kita bisa duduk bersama secara egaliter dalam perjuangan untuk melindungi dan menyejahterakan AKP Indonesia,” kata Nono.

Hadir dalam acara deklarasi tersebut, Nono menambahkan bahwa jumlah AKP Indonesia, termasuk nelayan buruh, diperkirakan mencapai dua juta orang. Hal ini menegaskan adanya kebutuhan akan kehadiran serikat buruh yang independen seperti yang dibentuk oleh PILAKP Tegal.

“PILAKP adalah mitra strategis kami dalam SAFE Seas Project, dan kami akan memfasiitasi agar kawan-kawan dapat bergabung menjadi bagian dari Tim Nasional Perlindungan AKP dan Forum Daerah Jawa Tengah dalam rangka berjuang bersama untuk perlindungan dan peningkatan kesejahteraan AKP Indonesia,” tegas Nono.

SERIKAT BURUH AWAK KAPAL PERIKANAN INDONESIA

Serikat Buruh Awak Kapal Indonesia dibentuk untuk melindungi dan meningkatkan kesejahteraan AKP di Indonesia. Kelahiran serikat buruh ini juga untuk menguatkan pencegahan atas tindak pidana praktik eksploitasi kerja paksa dan perdagangan orang atau disebut juga forced labor and trafficking in person (FL/TIP) terhadap AKP asal Indonesia yang masih terus terjadi.

“Ini momentumnya sangat tepat, yaitu Hari Buruh Internasional. Kami mendirikan serikat buruh ini karena kami sangat membutuhkan perlindungan dan kami ini bagian dari nelayan Indonesia yang memiliki hak untuk hidup sejahtera dari samudera Indonesia,” ujar Ketua PILAKP Tegal Wanardi di sela-sela acara deklarasi.

Berdasarkan data dari Fishers Center yang dikelola oleh SAFE Seas Project per Maret 2020, terdapat laporan praktik kerja paksa dan perdanganan orang sejumlah 44 kasus, diantaranya kasus gaji tidak dibayar, kecelakaan kerja, permohonan untuk dipulangkan ke Indonesia, tidak dicover asuransi, dan lain sebagainya.

“Ada 44 kasus sampai periode Maret 2020 dan kami melihat masih ada kelemahan pada sistem perlindungan bagi AKP Indonesia, yaitu terkait regulasi dan kewenangan kementerian lembaga serta pemerintah daerah yang tumpang tindih,” kata Wanardi.

Untuk ke depannya, Serikat Buruh Awak Kapal Perikanan Indonesia akan berkonsolidasi dengan berbagai elemen masyarakat lain agar dapat mengambil bagian dalam penentuan kebijakan untuk melindungi dan menyejahterakan awak kapal perikanan secara khusus, dan nelayan Indonesia secara umum.

“Kami sangat mengharapkan dukungan dari SAFE Seas Project agar kami dapat menjadi bagian dari penentu kebijakan untuk diri kami sendiri,” tandas Wanardi.

PERINGATAN MAYDAY 1 MEI 2021: PULIH BERSAMA

Deklarasi Serikat Buruh Awak Kapal Perikanan dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional 1 Mei 2021. Pada tahun ini, pemerintah Indonesia, melalui Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah menetapkan tema “Pulih Bersama” untuk momentum peringatan itu.

“Pemerintah sangat menyadari besarnya dampak pandemi Covid-19 bagi semua pihak, terutama kelas buruh pekerja, namun kami juga memahami ajakan Pulih Bersama ini, bahwa kami tidak berjuang sendiri, melainkan bekerja bersama-sama dengan pemerintah dan pemilik kapal perikanan tangkap untuk bangkit dan pulih,” kata Wanardi.

Hal yang senada juga disampaikan Nono, “Peringatan Hari Buruh Internasional ini hendaknya dijadikan momentum untuk memperkuat perlindungan AKP.”

Di Jawa Tengah, Nono menambahkan, diperkirakan terdapat 70 persen AKP yang belum memiliki kontrak kerja yang tertulis hitam di atas putih. “Bekerja tanpa kontrak berarti bekerja tanpa pelindungan dan sangat berisiko terhadap terjadinya eksploitasi ketenagakerjaan dan pelanggaran HAM pekerja. Tentunya, hal ini akan menjadi tantangan besar bagi PILAKP untuk memperjuangkan kontrak kerja dan upah yang layak bagi AKP," tambah Nono.

DUKUNGAN WAKIL BUPATI TEGAL

Wakil Bupati Tegal, Sabilillah Ardie turut hadir secara virtual di acara deklarasi serikat buruh AKP Tegal ini. Ardie menyambut baik inisiatif yang diambil PILAKP bersama SAFE Seas Project. Ardie mengakui, masih banyak hak-hak AKP yang harus diperjuangkan dan serikat pekerja AKP bisa menjadi wadah bagi para AKP untuk mensejahterakan AKP.

"Saya menyadari, AKP kerap menghadapi banyak masalah, baik sebelum bekerja di laut, saat bekerja di laut ataupun sepulang dari bekerja. Karena itu ketika ada keinginan dari teman-teman AKP untuk mendirikan serikat AKP, saya setuju. Saya bahkan bersedia menjadi deklarator bersama teman-teman AKP untuk bisa memperjuangkan nasib AKP. Saya berharap Pemkab Tegal bisa bekerja sama PILAKP, SAFE Seas Project," ujar Ardie.

 

Tentang SAFE Seas Project

Safeguarding Against and Addressing Fishers’ Exploitation at Sea (SAFE Seas) adalah proyek perlindungan awak kapal perikanan yang dikelola oleh Plan International dan sedang dilaksanakan di Indonesia dan Filipina. SAFE Seas bertujuan untuk memerangi kerja paksa dan perdagangan orang di kapal penangkapan ikan di kedua negara. Di Indonesia, SAFE Seas dilaksanakan oleh Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia), bekerja sama dengan Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia.

Pendanaan untuk proyek ini disediakan oleh Departemen Ketenagakerjaan Amerika Serikat (USDOL) berdasarkan perjanjian kerja sama IL-31472-18-75-K. Seratus persen dari total biaya proyek dibiayai dengan dana federal, dengan total lima juta dolar Amerika Serikat. Materi tulisan ini tidak mencerminkan pandangan atau kebijakan USDOL, juga tidak menyebutkan nama dagang, produk komersial, atau organisasi yang menyiratkan dukungan oleh Pemerintah Amerika Serikat.

Tentang Yayasan International Plan Indonesia (Plan Indonesia)

Plan International telah bekerja di Indonesia sejak 1969 dan resmi menjadi Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) pada 2017.

Kami bekerja untuk memperjuangkan pemenuhan hak anak dan kesetaraan bagi anak perempuan. Plan Indonesia mengimplementasikan aktivitasnya melalui empat program, yaitu Perlindungan dan Tumbuh Kembang Anak, Kesehatan dan Agensi Remaja, Ketenagakerjaan dan Kewirausahaan Kaum Muda, serta Kesiapsiagaan Bencana dan Respons Kemanusiaan.

Kami bekerja di 7 provinsi, termasuk di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, dengan target untuk memberdayakan 1 juta anak perempuan. Selain itu, Plan Indonesia juga membina 36 ribu anak perempuan dan laki-laki di Nusa Tenggara Timur.

Informasi lebih lanjut: https://plan-international.or.id

Tentang Plan International

Plan International adalah organisasi pengembangan masyarakat dan kemanusiaan internasional yang berfokus pada pemenuhan hak anak dan kesetaraan anak perempuan. Kami memperjuangkan sebuah dunia yang adil untuk pemenuhan hak anak dan kesetaraan bagi anak perempuan, bekerja bersama anak, kaum muda, masyarakat dan mitra.

Plan International bekerja bersama anak-anak, kaum muda dan masyarakat untuk mengatasi akar masalah diskriminasi terhadap perempuan, eksklusi dan kerentanan. Dengan capaian, pengalaman dan pengetahuan, Plan International mendorong perubahan dalam praktek dan kebijakan tingkat lokal, nasional dan global.

Plan International tidak berafiliasi dengan agama, organisasi politik atau pemerintahan tertentu. Lebih dari 80 tahun, Plan International membangun kemitraan yang kuat untuk hak anak. Saat ini kami bekerja di lebih dari 70 negara.

Informasi lebih lanjut: https://plan-international.org

 


 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita