Jumat, 16/04/2021, 10:55:54
Mengawal Visi Pendidikan
Oleh: Novita Fauziyah, S.Pd

Ilustrasi

....konsekuensi ketika politik pendidikan mengikuti kapitalisme global...

DRAF Peta Jalan Pendidikan Nasional (PJPN) 2020-2035 beberapa waktu lalu menuai polemik, lantaran tak ada frasa “agama” di dalamnya.

Di dalam draf tersebut memuat visi pendidikan Indonesia 2035 yang berbunyi: Visi Pendidikan Indonesia 2035. Membangun rakyat Indonesia untuk menjadi pembelajar seumur hidup yang unggul, terus berkembang, sejahtera, dan berakhlak mulia dengan menumbuhkan nilai-nilai budaya Indonesia dan Pancasila. Berbagai kalangan pun mulai dari ormas Islam, politikus, guru, hingga orang tua siswa menolak dihilangkannya frasa “agama”.

Menanggapi hal ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim menegaskan bahwa Kemendikbud akan merevisi draf Peta Jalan Pendidikan Nasional 2020-2035, dan memastikan frasa agama akan dimuat secara eksplisit dalam Visi Pendidikan Indonesia.

Nadiem pun kaget mengapa hal tersebut menjadi polemik, bahkan berkembang opini bahwa Kemendikbud akan menghilangkan mata pelajaran agama.

Sejatinya fokus perhatian draf PJPN ini tidak hanya masalah dicantumkannya frasa agama atau tidak. Pasalnya kalaupun dimasukkan sesuai dengan apa yang disuarakan, publik juga masih perlu mengawal bagaimana penempatan agama itu sendiri.

Jangan hanya dijadikan sebagai jaminan saja, bahwa generasi itu akan tetap mendapatkan pelajaran agama. Juga bukan hanya diambil nilai-nilai moralitas atau akhlak. Namun lebih dari itu, yakni menjadikan agama sebagai tuntunan dalam kehidupan, di mana manusia terikat dengan aturan di dalamnya dalam beraktivitas.

Kita dapati hari ini ketika pelajaran agama pun masih ada, namun faktanya kerusakan generasi masih saja terjadi. Pergaulan bebas, tawuran, narkoba, dan lainnya masih menghiasi dunia pendidikan. Di sinilah kita pahami juga bahwa agama belum sepenuhnya menjadi tuntunan kehidupan. Generasi ini mestinya terikat dengan aturan agama di setiap perbuatannya.

Selain itu, arah pendidikan yang tertuang dalam PJPN pun perlu mendapat perhatian. Dalam draf PJPN disebutkan bahwa SDM dimaksud dalam visi adalah SDM yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila. Ini memperjelas bahwa titik berat SDM yang hendak dicetak adalah kompetensi dan siap memasuki pasar kerja global.

Sebagaimana yang menjadi pertimbangan dalam penyusunan PJPN yakni perubahan teknologi, sosiokultural, dan lingkungan. Arahnya mengikuti arus paradigma pendidikan sekularisme global yang kapitalistik. Tampak hanya mempertimbangkan aspek pragmatis terkait pasar dan ekonomi, bahkan agama pun terkesan diabaikan.

Jika memang dianggap penting, mestinya dari awal hal tersebut menjadi dasar dalam penentuan arah pendidikan, tidak sampai muncul polemik.

Inilah konsekuensi ketika politik pendidikan mengikuti kapitalisme global. Tak heran jika arah pendidikan menuju ke sana. SDM yang skillfull memang dibutuhkan. Namun permasalahannya adalah SDM yang dihasilkan hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar global.

Saat ini industri-industri besar dikuasai oleh para kapitalis. Alih-alih menghasilkan SDM yang bisa memperkuat terwujudnya kemandirian bangsa, yang ada justru makin dimanfaatkan oleh para kapitalis.

Pendidikan merupakan upaya sadar, terstruktur, dan sistematis dalam menanamkan dan meningkatkan pengetahuan peserta didik yang mengarah pada perubahan tingkah laku. Semuanya tergantung dari asas dan politik kebijakan yang diterapkan.

Sudah seharusnya proses pendidikan diselenggarakan untuk mensukseskan misi penciptaan manusia di bumi sebagai hamba Allah, dan menjadi khalifah di muka bumi. Semua itu tak akan terwujud jika masih menggunakan paradigma sekuler kapitalistik yang berorientasi pada materi.

Maka dari itu teruslah mengawal visi pendidikan kita agar dapat menjaga terlaksananya tujuan penciptaan manusia di bumi yakni untuk beribadah kepada Allah. Ibadah yang dimaksud adalah taat kepada Allah dan senantiasa berpegang teguh pada apa yang telah disyariatkan di dalam agama.

Selain itu, dibutuhkan upaya agar bisa terwujud sistem kehidupan yang mampu mencetak generasi unggul. Generasi tersebut tak hanya menguasai kompetensi di bidangnya, namun juga memiliki pola pikir dan pola sikap sesuai dengan Islam serta menguasai ilmu agama.

(Novita Fauziyah adalah guru asal Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, yang mengajar di Bekasi, Jawa Barat)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita