Senin, 12/04/2021, 12:22:07
Gapai Ramadhanmu.....
Oleh: Nur Sidik, S.Pd

TIDAK terasa saat-saat bahagia bulan penuh berkah akan datang lagi ditengah-tengah kehidupan kita. Marilah kita sambut kehadirannya dengan suka cita, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya:

“Barang siapa bersuka cita menyambut datangnya bulan Romadlon, Allah mengharamkan jasadnya masuk neraka.” (H.R An Nasa’i).

Tentu saja maksud dari hadits tersebut adalah kita tidak hanya bersuka cita dengan datangnya saja, tetapi kita diwajibkan berpuasa dan mengamalkan sunnah-sunnah yang ada didalamnya, seperti: Menjalankan sholat tarawih, tadarus Al Qur’an, mengikuti kajian-kajian keagamaan dan sebagainya. Disamping itu juga, kita diharuskan meninggalkan perbuatan yang nantinya akan merusak, bahkan membatalkan pahala puasa, serta puasa itu sendiri.

Tak ada kegembiraan menyamai gembiranya akan datangnya bulan Romadlon. Namun kegembiraan itu akan sia-sia dan kehilangan maknanya, manakala setelah ia datang, kita tidak mengisinya dengan berbagai ibadah dan mendekatkan diri pada Allah SWT. Ibaratnya, kita menanti seseorang yang kita rindukan, tetapi setelah ia datang, malah kita tinggal begitu saja. Betapa dustanya kerinduan itu, dan betapa kecewanya seseorang yang kedatangannya ditunggu-tunggu.

Tentunya kita tidak mau dicap seperti demikian. Kita tunjukkan bahwa kegembiraan kita tidak sebatas hanya dimulut saja. Untuk itu marilah kita isi saat-saat istimewa ini dengan berbagai ibadah dan ketaqwaan lainnya.

Karena esensi puasa adalah menjadi pribadi yang bertaqwa kepada Allah SWT, seperti pada ayat berikut: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, supaya kamu menjadi orang yang bertaqwa.” (Q.S Al Baqarah: 183)

Di bulan ini kita mempunyai momentum untuk melakukan perubahan dalam hidup, baik pada level pemikiran maupun kehidupan nyata. Ada dua dimensi makna kegembiraan  tentang Romadlon ini.

Makna yang pertama, dengan logika bahwa bergembira dengan datangnya bulan Romadlon akan mendapat balasan begitu besar dari Allah SWT dan ikhlas menjalankan ibadah puasa berikut amalan-amalan yang dianjurkan di bulan Romadlon.

Makna kedua gembira artinya cinta. Jika seseorang mengerjakan sesuatu dengan hati yang penuh kegembiraan dan cinta, maka akan sampai pada tujuan yang dicita-citakannya.

Puasa disyariatkan untuk menjadi jalan bagi yang melakukannya guna mencapai derajat manusia utama. Dengan tegas disebutkan bahwa puasa diwajibkan untuk mereka yang beriman. Orang beriman adalah orang yang mendapat pencerahan dalam kehidupan, sehingga pemikiran dan perilaku hidupnya mencerminkan kematangan dan kedewasaan dalam beragama dan bermasyarakat.

Salah satu hikmah puasa, yaitu sebagai sarana pendewasaan dan pencerahan hidup manusia, sebagaimana dinyatakan dalam sabda Nabi Muhammad SAW: “Siapa yang perutnya lapar karena berpuasa, maka pikirannya akan menjadi luas  tercerahkan dan hatinya akan bersih.”

Puasa mengajarkan banyak hal kepada kita tentang bagaimana berpegang teguh pada hakikat ajaran agama dan tetap eksis dalam kehidupan secara mulia.

Pertama, puasa mengajarkan bagaimana manusia harus membangun keseimbangan hidup dalam segala dimensi kehidupan. Puasa adalah sarana untuk menguatkan ketahanan fisik sekaligus kekuatan jiwa untuk memperkuat kepekaan sosial, kepedulian, dan meningkatkan moral-spiritualitasnya.

Kedua, puasa melatih kesabaran dan kesadaran untuk manjalani kehidupan sebagai proses panjang. Ketiga, puasa mengajarkan seseorang untuk bekerja lebih giat dan meningkatkan etos kehidupan.

Puasa dengan demikian, adalah proses humanisasi kehidupan manusia sehingga tata kehidupan menjadi lebih transformatif, berkeadilan, dan bermoral serta beretos sosial tnggi. Kita memang hidup sangat jauh dari masa Nabi Muhammad, tetapi kalau  pesan-pesan nabi bisa ditangkap secara utuh, maka kita termasuk golongan yang beruntung.

Mari kita renungkan puisi karya K.H Mushthofa Bisri (Gus Mus) berikut:

NASIHAT ROMADLON BUAT MUSTHOFA BISRI

Musthofa, jujurlah pada dirimu sendirimu.. mengapa kau selalu mengatakan Romadlon bulan ampunan...//Apakah hanya menirukan suara nabi.. atau dosa-dosamu dan harapanmu yang berlebihanlah yang menggerakkan lidahmu begitu...//Musthofa, Romadlon adalah bulan antara dirimu dan tuhanmu...

Darimu hanya untuk-Nya..dan IA sendiri tak ada yang tahu apa yang akan dianugerahkanNya kepadamu...//Semua yang khusus untuk-Nya, khusus untukmu...//Musthofa, Romadlon adalah bulannya yang IA serahkan kepadamu, dan bulan serahkanlah semata-mata pada-Nya...

Bersucilah untuk-Nya... Bersholatlah untuk-Nya...//Berpuasalah untuk-Nya... Berjuang melawan dirimu sendiri untuk-Nya...

Sucikan kelaminmu berpuasalah..//Sucikan tanganmu berpuasalah..//Sucikan mulutmu berpuasalah..//Sucikan hidungmu berpuasalah..//Sucikan wajahmu berpuasalah..

Sucikan telingamu berpuasalah..//Sucikan rambutmu berpuasalah..//Sucikan kepalamu berpuasalah..//Sucikan kakimu berpuasalah..//Sucikan tubuhmu berpuasalah..//Sucikan hatimu, sucikan pikiranmu berpuasalah..//Sucikan dirimu...

Musthofa, bukan perut yang lapar, bukan tenggorokan yang kering yang mengingatkan kedhoifan dan melembutkan rasa...//Perut yang kosong dan tenggorokan yang kering ternyata hanya penunggu atau perebut kesempatan yang tak sabar atau terpaksa...

Barangkali lebih sabar sedikit dari mata, tangan, kaki, dan kelamin...//Lebih tahan sedikit berpuasa, tapi hanya kau yang tahu hasrat dikekang untuk apa dan untuk siapa...

Puasakan kelaminmu untuk memuasi ridlo..//Puasakan tanganmu untuk menerima kurnia..//Puasakan mulutmu untuk merasai firman..//Puasakan hidungmu untuk menghirup wangi..//Puasakan wajahmu untuk menghadap keelokan..//Puasakan matamu untuk menatap cahaya..

Puasakan telingamu untuk menangkap merdu..//Puasakan rambutmu untuk menyerap belai..//Puasakan kepalamu untuk menekan sujud..//Puasakan kakimu untuk menapak shirath..//Puasakan tubuhmu untuk meresapi rahmat..//Puasakan hatimu untuk menapaki hakikat..//Puasakan pikiranmu untuk meyakini kebenaran..//Puasakan dirimu untuk menghayati hidup..//Tidak, Puasakan hasratmu hanya untuk hadirat-Nya...

Musthofa, Romadlon bulan suci katamu...//Kau menirukan ucapan nabi, atau kau telah merasakan sendiri kesuciannya melalui kesucianmu...

Tapi bukankah kau masih selalu menunda-nunda menyingkirkan kedengkian, keserakahan, ujub, riya, takabur, dan sampah-sampah lainnya yang mampat dari comberan hatimu...

Musthofa, inilah bulan baik saat baik untuk kerja bakti membersihkan hati...//Inilah bulan baik saat baik untuk merobohkan berhala dirimu yang secara terang-terangan dan sembunyi kau puja selama ini...

Atau, akan kau lewatkan lagi kesempatan ini seperti Romadlon-romadlon yang lalu...???

(demikian sajak dari KH. Musthofa Bisri yang patut kita renungkan)

Mari Gapai Romadlonmu dan jadikan lebih baik dari Romadlon-romadlon kemarin...

(Nur Sidik, S.Pd adalah Pengurus Lesbumi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Tegal, Jawa Tengah)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita