Sabtu, 14/09/2019, 14:19:21
Merindukan Garuda Bangsa: Mahasiswa
Oleh: Khoas Rizki Nur Awaliah
--None--

Arus kehidupan dalam realita tidak selalu sesuai dengan apa yang diimpikan. Kadang membawa ke dalam arus yang penuh gelombang. Kadang juga ke dalam arus yang tenang. Sebagai manusia harus mempunyai suatu cita-cita untuk menerjang arus yang ada.

Pendidikan merupakan sebuah ladang untuk mencari ilmu. Memberikan sebuah kebermanfaatan secara ikhlas tanpa pamrih. Memberikan sebuah kecerdasan dengan disiplin ilmu yang telah dimiliki. Arus pendidikan di indonesia sangat jauh dari kata mensejahterakan karena banyaknya problematika bangsa yang menyebabkan beberapa anak harus mengorbankan pendidikiannya untuk mencari sumber kehiudupan untuk keluarganya.

Pendidikan juga bukan hanya menjadi salah satu problematika yang ada di bangsa kita. Merasakah kita bahwa Indonesia semakin nyaman dengan permasalahan? Bahkan banyak rakyat yang terasingkan demi keuntungan diri sendiri. Salah satu pemicu utama permasalahan hingga tersendat segala kebutuhan adalah sebuah ekonomi. Ekonomi yang belum mapan sehingga banyak menyebabkan orang-orang tidak mefokuskan kepada dunia pendidikan melainkan memilih untuk bekerja dan bekerja.

Mahasiswa merupakan manusia spesialis yang dihadirkan bukan untuk menyombongkan dirinya. Malah dipundak mahasiswa terdapat sebuah kepastian bangsa. Mahasiswa sebuah pelopor gerakan untuk  merubah keadaan bangsa dan negaranya. Mahasiswa bukan terlahir hanya untuk memiliki intelektualitas saja. Namun, jiwa sosialitas serta kepekaan terhadap bangasanya sendiri.

Ruh mahasiswa semakin melenyap dalam jiwa mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa saat ini lebih suka kepada hal-hal yang intsan serta hegemoni. Perhalan budaya barat masuk tanpa kita ketahui. Dibandingkan dengan memikirkan nasib rakyat serta pemerintah mahasiswa lebih memilih untuk mempercantik diri, memperkaya diri sendiri, serta menecerdaskan diri sendiri.

Begitulah realita yang saat ini terjadi kawan. Pada era reformasi mahasiswa dengan kekuatannya mampu menggulingkan rezim Soeharto karna saat itu yang ada hanya penindasan. Setelah itu mahasiswa mampu memberikan sebuah gerakan baru untuk memantau rakyat. Sampai saat ini mahasiswa hanya tertidur pulas menunggu ada yang  membangunkannya.

Mahasiswa sebagai agen perubahan malah merubah dari yang berani menjadi penakut. Dari yang berjiwa sosial menjadi mental yang sangat sial. Begitulah realita kawan. Perlahan mahassiwa semakin hilang rasa beraninya, kepemimpinanya serta tanggung jawabnya. Sebagai kontrol sosial mahasiswa juga harus mampu menjadi pundak masyarakat dengan mewakili suara rakyat karena sebagai mahasiswa setidaknya memberatkan kepada rakyat. Dengan saling mendukung untuk memperbaiki keadaan bangsa.

Sebagai generasi penerus sosok mahasiswa harus mampu memebrikan sebuah jejak langkah sejarah yang mengharumkan atroma kewangian bukan araoma kebengisan. Selain itu harus mampu pula menjadi sosok yang peka terhadap permasalahan yang  ada di bangsa.

Mahasiswa memiliki jiwa kritis sehingga menelususri masalah hingg sampai akar merupakan rutinitas yang seharusnya dilakukan. Jika saja mahasiswa hanya kuliah pulang atau kuliah kantin mending puasin dulu di bangku tingkat SLTP lagi. Garuda yang melambung tinggi kini semakin melemah. Sayap-sayapnya semakin patah sehingga jiwa garuda bagi mahasiswa semakin melangka dan kini semua rkayt merindukannya.

(Khoas Rizki Nur Awaliah adalah Mahassiwa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita