Wakil Ketua Komisi X DPR RI, DR. Abdul Fikri Faqih saat sosialisasi 4 Pilar (Foto: Dok/Ali Irfan)
PanturaNews (Tegal) - Menjelang hari pencoblosan pada 17 April, komitmen untuk merawat kebhinekaan harus terus dikuatkan. Di tahun politik ini, ada upaya dari pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang sengaja ingin membuat suasana gaduh. Salah satunya melalui penyebaran berita hoax.
“Kita jangan mudah reaktif, di tahun politik ini berpikir jernih harus dikedepankan. Tidak asal sebar kabar yang sumbernya tidak jelas,” kata Wakil Ketua Komisi X DPR RI, DR. Abdul Fikri Faqih dalam sosialisasi 4 Pilar yang meliputi Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika belum lama ini.
Di hadapan sekitar 100 peserta, Fikri mengatakan agar jangan sampai event lima tahunan ini menjadi sarana perpecahan. “Justru ini harus menjadi pembuktian, di tengah keragaman kita bisa menjaga dan merawat persatuan. Inilah pentingnya merawat kebhinekaan” ungkapnya.
Menurut Fikri, beda pilihan itu sudah biasa, kalah menang juga hal biasa dalam kompetisi. Dari dulu sampai sekarang pilpres yang jadi hanya satu pasangan capres dan cawapres. Jangan sampai hanya dengan perbedaan dua kubu yang saling berkompetisi ini, kemudian menjadi ajang perpecahan,” tegasnya.
Lebih lanjut Fikri menjelaskan, Bhineka Tunggal Ika diadopsi sebagai salah satu upaya untuk memayungi keanekaragaman yang ada, serta strategi untuk mempersatukan kelompok etnik yang ada dalam suatu ikatan yang berorientasi ke masa depan. Dalam konteks pemilu, mestinya tetap dikedepankan semangat bhineka tunggal ika.
“Idealnya ketunggalikaan tidak boleh mematikan kebhinekaan,” ujar Pria kelahiran Tegal, 17 Juli 1963.
Ia menambahkan, perlu upaya memahami secara memadai makna 4 Pilar tersebut, sehingga dapat memberikan penilaian secara tepat, arif dan bijaksana, dapat menempatkan secara akurat dan proporsional dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
“Pilar adalah tiang penyangga suatu bangunan. Ia memiliki peran sentral dan menentukan, karena bila pilar ini rapuh akan berakibat robohnya bangunan yang disangganya. Demikian pula halnya dengan bangunan negara-bangsa, butuh pilar yang kokoh agar rakyat yang mendiami akan merasa nyaman, aman, tenteram dan sejahtera. Dengan pilar yang kokoh, diharapkan konflik- konflik sosial yang telah terjadi di Indonesia tidak bergejolak kembali,” tutur Fikri.