Kamis, 12/08/2010, 15:26:00
Luka Lebam, TKI Asal Brebes Diduga Dianiaya Majikan
KN-Kuntoro

Ilustrasi

PanturaNews (Brebes) - Malikhatun (25), Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Desa Dukuhturi RT 04 RW 04 Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, dipulangkan dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bumiayu, Setelah menjalani perawatan, Rabu 11 Agustus 2010 malam.

Menurut suami Malikhatun, Nurcholis (27) bahwa istrinya dirawat di rumah sakit karena luka-luka yang terdapat di tubuhnya, diantaranya dahi lebam, betis lebam, dan dada perih karena luka dalam. Luka-luka tersebut diduga akibat disiksa majikan tempatnya bekerja di Singapura. “Saya curiga kalau luka yang dialami istri saya akibat dianiaya majikannya,” ujar Nurcholis.

Kondisi Malikhatun mengenaskan sepulang dari bekerja sebagai TKI di Singapura, Selasa 03 Agustus 2010 lalu. Sejak dari Bandara Soekarno Hatta – Jakarta, dia harus diangkut dengan ambulan karena fisiknya yang lemah. Sampai saat ini, Malikhatun masih belum bisa dimintai keterangan terkait penyebab luka disekujur tubuhnya.

"Istri saya masih trauma. Kalau ditanya kenapa terjadi seperti ini, ia menjawab kalau lukanya akibat jatuh dari tangga, tapi saya tidak yakin. Ketika ia saya tanya lagi lebih jauh malah menangis," tutur Nurcholis.

Nurcholis sudah menghubungi PJTKI PT Kharisma Mandiri Semarang yang memberangkatkan Istrinya pada tanggal 09 Agustus 2009. Dia menuntut pertanggung jawaban, karena proses pemulangan Malikhatun terkesan ditelantarkan. Sementara gajinya selama satu tahun baru diterima sekitar Rp 3 juta saja. "Itu pun sudah habis kurang lebih satu juta untuk biaya ambulan," paparnya.

Sementara pemilik PT Kharisma Mandiri di Jalan S. Parman Nomor 28 RT 01/04 Semarang, Hj. Widiarti saat dihubungi via telepon, mengatakan belum ada laporan terkait masalah yang terjadi pada Malikhatun. Namun dia menyarankan kepada pihak keluarga untuk melakukan visum dan segera melaporkan ke pihaknya di Semarang.

"Kalau bisa secepatnya pihak keluarga segera melaporkan kejadian ini ke kantor saya di Semarang," pinta Widiarti.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita