Rabu, 16/06/2010, 13:33:00
TETANUS
Karno Roso
--None--

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un... "Yang bernyawa pasti akan mengalami Mati" kata ALLAH SWT.

“Menghayati kawan baruku, namanya TETANUS. Ia berlagak seperti penguasa lalim: memberangus rahang dan mulutku agar tak bicara, menggodam belulangku agar tak leluasa

gerak. Tapi ia lupa membekukan otakku dan memborgol jemariku...” (Estu Marhaento)

PAGI ini, 16 Juni 2010, ketika orang masih terlelah tidur, ALLAH SWT menurunkan rahmat dan berkah melalui Malaikat-Malaikat-Nya, yang berdoa, bersimpuh memohon ampunan atas khilaf kepada-Nya. Saat itu, tepatnya pukul 03.00, dia menghembuskan nafas terakhirnya meninggalkan kita semua. Dia pulang menghadap-Nya bersama TETANUS-nya. Semoga diberi kelapangan dalam kuburnya, dan diterima segala amal di sisi-Nya.

Kawan Tetanus

Kau menjadi kaku, kejang, tak bisa bicara, bergerak, bahkan makan dan minum, karena kau sudah menjadi kawan TETANUS. Aku tak tahu apa itu Tetanus, tapi menurut pakar kesehatan Tetanus adalah suatu toksemia akut yang disebabkan oleh neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani ditandai dengan spasme otot yang periodik dan berat. Tetanus disebabkan oleh bakteri gram positif.

Bahasa kesehatan yang asing bagiku. Yang jelas Tetanus, dijumpai pada “tinja” binatang dari kuda, bisa pada manusia dan juga pada tanah yang terkontaminasi dengan

tinja binatang tersebut.  Biasanya Tetanus mengenai ibu hamil dari tali pusat sang bayi, tapi yang aku tahu kau terkena Tetanus, karena kecelakaan di kota Kendal saat mengantar anakmu yang akan ke kampus dengan motormu. Lalai..

BUKAN aku tidak Ikhlas kau pulang, tapi karena LALAI! ya, karena LALAI!, oleh dokter

dan Rumah Sakit (RS) tetangga Kotaku. Sehingga salah satu sahabat terbaikku telah jadi korban ketidaktelitian dokter dan Rumah Sakit yang selama ini dikenal Profesional dan Bermutu di kotanya.

Aku tak menyangka, selama dua hari koma, kau tak diapa-apakan oleh dokter itu. Istrimu sedih, galau, resah, serta marah, apa yang harus dilakukan menunggu dokter yang tak menentu datangnya.

Terakhir katanya dijanjikan besok, yah besok, besok kapan? Padahal sudah menginap semalam atau dua malam di RS tersebut. Saat aku pon kaupun yang mengangkat telepon istri yang setia menunggumu. “Bapak masih koma mas, gak bisa bicara, dan kejang terus, dokternya juga belum datang sampai sekarang”ujarnya lirih.

Aku terkejut dengan jawabannya, kenapa sekelas RS yang menjadi rujukan kota aku, malah tidak

bisa memberikan pelayanan terbaiknya. Terakhir aku dengar, kata sahabatku dokternya lebih sibuk dengan pasien lain di rumah prakteknya.

Akhirnya, aku pun minta tolong pada kawanku yang bergelut di Tenaga Kerja Indonesia (TKI)

pada saat aku di Jakarta, dia tahu no-hp pak wakil penguasa RS tersebut, entah sampai atau tidak SMS kawanku itu kepada pak wakil untuk menindak tegas dokter dan Rumah Sakit yang menanganinya. Agar secepatnya ditangani pasien bernama kau sahabatku.

Malpraktek. Ini malpraktek, gumamku pada saat SMS itu diluncurkan kepada Pak Wakil. Yang tidak menerima balasan SMS waktu itu.

Aku sendiri mendegar malpraktek saat terjadi pelanggaran yang terjadi di RS kotaku, yang selalu menimpa orang miskin yang tidak mau mempersoalkan ke jalur hokum karena kebobrokan pelayanan kesehatan di kotaku. Yang selalu menjadi sapi perahan, orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Kata Malpraktek sendiri adalah kelalaian. Kelalaian dari seseorang dokter atau perawat untuk mempergunakan tingkat kepandaian dan ilmu pengetahuan dalam mengobati dan merawat pasien,

yang lazim dipergunakan terhadap pasien atau orang yang terluka menurut ukuran dilingkungan yang sama”. (Valentin v. La Society de Bienfaisance Mutuelle de Los Angelos, California, 1956).

Aku pun berharap ini tidak dilakukan oleh RS yang menangani sahabatku itu, kalau terjadi siapa yang mau dan bertanggungjawab. Jangan kau bilang ini sudah takdir, bukan. Ini kelalaian manusia.

Hidup Bukan Untuk Menyerah

KAU menulis bait terakhir yang indah yang tak akan kulupakan. Kau memberikan semangat hidup untuk pantang menyerah, dalam segala apapun keadaan manusia. Selalu berfikir dan berfikir, meskipun kau di tengah hutan, bukit yang jauh dari kota. Berjuang untuk lebih baik, karena hidup bukan untuk menyerah.

Aku diberikan semangat hidup, jangan pernah takut kepada siapapun, kecuali ALLAH SWT, dalam keadaan apapun kondisi kita, untuk berjuang kepada kaum termarginalkan, dengan segala bidang yang kita mampu dan miliki apapun itu.

Kau selalu mengingatkanku dalam bertindak. Kau selalu tidak terima jika orang lain melanggar prisip-prinsip keadilan dan kemaslahatan umat. Kau punya prinsip, idealisme yang tinggi. Karena berani melakukan perubahan meskipun sekelilingmu tidak mendukung. “Adek, sekali-kali

tengoklah anakku yang sekarang kuliah di Universitas Negeri Semarang (Unnes), “Saya bangga padanya,” lirihnya, karena keahlian anaknya yang sekarang menyukai seni, pada malam diskusi itu. GregahLoseshismind namanya.

Suatu malam kau ingin diskusi, kau menelopnku untuk cari tempat diskusi sambil moci dan ndopok. Kau mengajak membuat lembaga yang ngurusi petani penggarap, karena kau merasa terpanggil dengan kondisi petani penggarap itu. Karena menurutnya, banyak petani kita sebagai buruh tani, hanya sebagai sapi perahan pemodal (pengusaha) besar. Bawang merah termasuk, dan petani-petani di daerah selatan kotaku.

Aku pun mengajak dia menginap bersama warga kelompok tani di Pandansari, Kecamatan Brebes. Pembicaraan mengenai desa wisata kita gagas sedemikian rupa oleh kelompok tani yang sebelumnya menjadi pembicaraan kita bertiga kau, aku dan kang hadi. “Nanti, temen-temenku ada yang tertarik untuk datang ke Pandasari,”ucapnya di malam itu.

Kelompok MOGE (Motor Gede), dan Seniman se-Nusantara dan kawan-kawan dia yang dikenal ditawari untuk berwisata ke Dukuh Pandansari, yang kena Abrasi, sambil melihat keadaan alam dan akan menanam Bakau (Mangrove) sebagai penahan ganasnya ombak laut utara Jawa.

Sahabat, kau akan selalu ku kenang karya dan baktimu pada bumi pertiwi. Tenanglah bersama-Nya, semoga nilai-nilai perjuanganmu akan selalu dikenang oleh kita yang masih hidup. Untuk menjadi lebih baik dan berguna untuk masa depan lebih baik.

(Karno Roso adalah Direktur Utama Brebes School, Mahasiswa Komunikasi Strategis Pascasarjana Universitas Diponegoro (Undip) Semarang)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita