Warga dan petani Desa Sigentong melakukan aksi demo dengan memblokade proyek jalan tol Pejagan-Pemalang (Foto: Takwo Heriyanto)
PanturaNews (Brebes) - Sebagai puncak kekecewaan kepada PT Pejagan Pemalang Toll Road (PPTR), ratusan warga dan petani Desa Sigentong, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, melakukan aksi unjuk rasa dengan memblokade proyek pembangunan jalan tol Pejagan-Pemalang yang melintasi wilayahnya tersebut, Kamis 10 Maret 2016.
Massa melakukan aksi blokade jalan tol Pejagan-Pemalang yang tengah dalam proses pengerjaan itu, lantaran tuntutan pembangunan akses jalan pertanian bagi warga, tak kunjung dipenuhi olh pihak pelaksana proyek tol tersebut.
Aksi blokade jalan tol itu dilakukan dengan membuat pagar dari bambu dan membakar ban bekas. Akibat aksi penutupan jalan tol oleh petani itu, aktifitas pembangunan proyek tol menjadi terhambat. Puluhan truk pengangkut material bagi tol, terpaksa berhenti karena jalan diblokade petani.
Bahkan, para petani juga melakukan orasi di salah satu truk pengangkut material tersebut. Mereka dalam aksinya juga menggelar puluhan poster berisikan tuntutannya.
"Tuntutan kami sederhana, segera direalisasikan permintaan pembangunan akses jalan yang sebelumnya sudah ada, dan kini tertutup oleh jalan tol. Jalan yang kami minta ini yang terpenting cukup untuk lewat mobil bak pengangkut hasil panen petani, minimal lebarnya 3-4 meter," ujar Fuad, Koordinator Aksi Unjuk Rasa Petani Sigentong.
Menurut dia, jika tuntutannya itu tidak direalisasikan, massa akan terus melakukan aksi. "Tidak hanya itu, kami juga siap menyegel kantor pelaksana proyek tol ini," tegasnya.
Sementara Camat Wanasari, Nuriddin mengatakan, Pemkab Brebes sejatinya sudah sangat maksimal melakukan upaya mediasi terhadap tuntutan petani tersebut. Surat resmi juga berulangkali dilayangkan, terakhir dalam 6 bulan lalu. Pihakya juga sudah memberi masukan kepada pelaksana proyek tol atas tuntutan petani tersebut.
"Tuntutan petani ini saya nilai hal yang wajar, karena diseberang jalan tol masih ada puluhan hektar sawah warga. Akibat tidak ada akses jalan, warga terpaksa memutar jalan dengan jarak lebih jauh dan kondisinya rusak," jelasnya.
Usai dialog antara petani dengan Camat Wanasari yang disaksikan aparat kepolisian dan TNI, warga akhirnya membubarkan diri. Itu setelah ada jaminan mereka akan ditemukan langsung dengan pihak pelaksana tol.