Dilarang Masuk Liputan di Kilang Balongan, Wartawan Metro Protes
LAPORAN RESMAN S
Rabu, 07/04/2021, 21:17:17 WIB

Wartawan Metro TV, Dedy dicekal diPos Sicurity RU VI Balongan, Indramayu saat akan liputan kunjungan kerja rombongan Kabareskrim. (Foto: Dok/Istimewa)

PanturaNews (Indramayu) - Jurnalis Metro TV, Dedy Musashi protes karena dirinya dilarang masuk oleh security, saat kegiatan Kabareskrim dan rombongan di Pertamina RU VI Kilang Balongan yang kebakaran beberapa waktu lalu, Rabu 7 April 2021.

Dedy Musashi yang juga Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Indramayu, melakukan protes tertulis kepada Pertamina RU VI Kilang Balongan, dengan tembusan kepada Pemimpin Redaksi Metro TV dan Ketua PWI Jawa Barat.

“Saya diturunkan dari bus rombongan Kabareskrim dengan alasan dilarang masuk oleh pimpinan,” kata Dedy.

Dalam protesnya Dedy menulis kronologisnya, ada keinginan dari sejumlah temen-teman jurnalis yang diundang untuk meliput kegiatan Kabareskrim, mendapatkan visual dan foto di area tangki terbakar.

“Saya berinisiatif menghubungi pihak Humas Pertamina disaksikan oleh Humas Polres Indramayu. Oleh pihak Humas Pertamina, adanya kerterbatasan coverall APD yang menjadi syarat wajib untuk masuk area terbatas di kilang Balongan,” ujarnya.

Karena syaratnya Coverall, Dedy mengambil baju APD lengkap yang selalu dibawa jika liputan ke area Pertamina. “Sampai disini clear. Pihak HSE PT Pertamina RU VI Balongan, memberikan stiker untuk ditempelkan di kamera yang saya bawa untuk peliputan,” jelasnya.

Setelah mendapatkan id card VVIP untuk masuk area kilang, Dedy satu bus dangan rombongan Kabareskrim, Kapolda Jabar dan pejabat petinggi Polri lainnya.

“Tiba di gate masuk kilang, seluruh penumpang termasuk saya diminta turun. Prosedur tersebut saya ikuti. Telepon genggam saya serahkan ke security. Di pintu masuk tersebut, saya dilarang masuk oleh pihak security. Dengan suara di HT yang digenggamnya, meminta Metro TV untuk tidak diperkenankan masuk. Ada apa ini...?,” tanyanya.

Padahal, tulis Dedy, seluruh persyaratan sudah dipenuhi. Bilapun dilarang meliput, pihak Pertamina memberi tahu dari awal. Jangan dengan cara demikian, dia harus menunggu rombongan hingga 20 menit.

“Oleh security, saya diminta kembali ke gedung putih. Saya menolak karena kamera saya dibawa oleh bus yang membawa rombongan Kabareskrim. Saya baru beranjak dari pos jaga, setelah dijemput oleh Bapak Ifki Sukarya dan Kasek RU VI Balongan,  Bapak Gede.

Keduanya saya kenal waktu di PHE. Sehingga tidak terjadi ketegangan, karena alat kerja saya tidak ada. Saya pun diajak ke gedung putih oleh Bapak Ifki dan Pak Gede. Kamera yang juga alat kerja saya, baru diberikan di gedung putih oleh seorang security,” tutur Dedy dalam protes tertulisnya.

Selanjutnya yang menjadi pertanyaan Dedy, mana peran Humas Pertamina dalam memberikan informasi yang sebenar-benarnya kepada publik.