Mas Munawir, Menempuh Pendidikan Tinggi Dengan Biaya Mandiri
Laporan Tim PanturaNews
Kamis, 30/07/2020, 09:12:15 WIB

Muhammad Munawir Lasiyono

PanturaNews (Brebes) - Demi mencapai cita-citanya, Muhammad Munawir Lasiyono pemuda kelahiran Minggu pahing bulan Maret 1988 di Desa Terlangu, Jalan Sultan Agung Kabupaten Brebes, Jawa Tengah ini, menempuh pendidikan dengan biaya mandiri, alias biaya sendiri.

“Saya lahir dari keluarga sederhana,” tuturnya yang akrab disapa Mas Munawir, kemarin di rumahnya Desa Terlangu.

Anak ke 8 dari 10 bersaudra dari pasangan Abah Nuryadin yang dikenal sebagai Kyai Nur di Desa Terlangu dan Ibu Kusyati ini, menempuh pendidikan di SD Negeri Terlangu 02 Brebes. Ibunya wafat sejak dia kelas 4 SD, dan abahnya wafat saat dia menempuh pendidikan di SMK Negeri 34 Jakarta Pusat kelas 1.  

Sejak SD, Mas Munawir sudah mulai mencari penghasilan dengan jualan es mambo, bertani nanam bawang merah, timun dan cabe. Sejak kecil pula, dia sering diminta untuk adzan di masjid Desa Terlangu Wetan. Lulus SD, dia melanjutkan ke MTs Negeri Model Brebes.

“Lulus MTs saya merantau ke Jakarta ikut Mas Amir, kakak saya,” jelas Mas Munawir.

Selama menempuh pendidikan di SMK Negeri 34 Jakarta Pusat, Teknik Elektro, Teknik Instalasi Listrik, untuk memenuhi biaya hidup, Mas Munawir jualan koran, butur cuci, tukang panggul pasar dan ngamen di Jalan Rawamangun dekat dengan kampus IKIP yang sekarang menjadi UNJ.

“Setelah kelas 2, saya mendapatkan beasiswa penuh dari Ibu Hj. Wardjinem, dan saat kelas 3 mendapatkan beasiswa penuh dari Hj. Rusda,” ujar Mas Munawir.

Sebagai siswa yang berprestasi, meski masih kelas 1 Mas Munawir sudah mengikuti Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PT. Siemens Indonesia Pulomas, Jakarta. Kemudian saat duduk di kelas 2, dia diamanahkan menjadi ketua Rohis.

Sebelum Ujian Nasional (UN) dan sekolah ada undangan dari Politeknik Universitas Indonesia, dan dia diterima melalui Jalur Seleksi Prestasi/PMDK, di D3 Teknik Elektro, Teknik Listrik, Politeknik Universitas Indonesia (UI)/Politeknik Negeri Jakarta. Karena saya satu-satunya siswa yang diterima di Poltek UI, jadi harus menerima. Karena jika tidak akan di coret sekolahnya dari daftar undangan.

“Allhamdulillah, Hj. Rusda, guru matematika saya, memberikan beasiswa full untuk kuliah sampai lulus D3,” kenang Mas Munawir. 

Semasa kuliah, dia aktif mengikuti lomba seperti lomba debat, lomba orasi, menjadi juri bisnis plan di kampus IPB, sekarang U. IPB, aktif di Teater Pelangi, sempat mengikuti organisasi Himpunan Mahasiswa Elektro, menjadi Kadiv Laser di BEM, Sospol, Div. Aksi, Sekjen Maestro Muda Indonesia, dan aktif di Himpunan Mahasiswa Islam.

Lagi-lagi karena prestasinya, Mas Munawir juga mendapatkan beasiswa Sumit Cahaya dan Women's International Club. Lalu dia melanjutkan kembali S1, Teknik Elektro, Teknik Listrik di Institut Sains Dan Teknologi Nasional. Dia sempat diminta menjadi dosen di Universitas Bumiayu, tetapi diminta kuliah lagi karena masih S1. Lalu mendaftar di S2, STTPLN, Manajemen Ketenagalistrikan Dan Energi.

Pesan yang selalu diingat Mas Munawir dari Abahnya, adalah agar menjadi orang harus jujur, ngaji malem, sholat malem, selalu minta kepada Allah, jangan berharap dengan siapapun atau bahkan tergantung ke manusia, nanti kecewa, selalu meminta dan mengadu ke Allah.

Semasa hidupnya, Abahnya dikenal atau biasa dipanggil Kyai NU atau Kyai Nur di Desa Terlangu. Abah Nur adalah cucu dari seorang Ulama Mbah Amir, yang konon katanya dulu sempat di bilang salah satu Sunan. Karena rumahnya kalau hujan tidak bocor, padahal atap rumahnya banyak yang berlubang.  Orang tua Abah Nur adalah H. Aslan dan Hj. Bawon terlangu.

Saat ini, Mas Munawir, tokoh muda dari Brebes ini menginisiasi terbentuknya Forum Guru Besar dan Dosen Putera Puteri Brebes. Brebes mempunyai 20 profesor dan 239 dosen dari berbagai perguruan tinggi negeri/swasta seluruh nusantara dan di lur negeri.

Mas Munawir juga menginisiasi berdirinya Forum Pengusaha Muda Brebes, Jaringan Pengusaha Muda Brebes di 17 Kecamatan di Kabupaten Brebes yang anggotanya hampir 1000 anak muda. Termasuk menginisiasi dan membuat Yayasan Rumah Cinta Brebes yang dibina langsung oleh Prof. Dr. Ir. Darsono Wisadirana, MS. Dr. Maufur, M.Pd. dan Dr. Abdul Aziz, M.Ag.