Surutnya Tingkat Stabilitas Perekonomian Indonesia
Sabtu, 09/02/2019, 18:04:22 WIB

Berbicara tentang ekonomi merupakan hal vital yang sering diperbincangkan oleh pemerintah. Hal-hal finansial semua ada karena ekonomi. Rakyat indonesia semakin melemah dan menguat itu juga bentuk adanya ekonomi. Dalam disiplin ilmu ekonomi terbagi menjadi dua yaitu ekonomi mikro dan ekonomi makro. Ekonomi makro adalah cabang ilmu ekonomi yang memperlajari kegaiatan perekonomian secara keseluruhan.

Sedangkan ekonomi mikro adalah cabang ilmu ekonomi yang memperlajari kegiatan perekonomian hanya pada bagian kecilnya. Ekonomi negara disebut dengan teori ekonomi makro sedangkan ekonomi desa disebut dengan ekonomi mikro kurang lebihnya seperti itu.

Hubungan antara ekonomi makro dan mikro sangatlah berkaitan karena perubahan ekonomi yang secara makro (menyeluruh), tentu saja dampak/hasilnya pada perubahan ada pada individu-individu yang berjuta-juta akan merasakan dan melakukan kegiatan ekonomi. Dengan demikian, perubahan yang ada pada ekonomi makro, merupakan hasil dari perubahan yang terjadi dalam ekonomi mikro. Dari hal tersebut bahwa ekonomi makro dan mikro harus ballance tidak ada tumpang tindih.

Melihat realita yang terjadi problematika perekonomian terjadi  pada tataran mikro. Perputaran ekonomi mikro di Indonesia ternyata tidak sebaik dengan perekembangan ekonomi makro yang terjadi. Tentu hal ini menjadi sudut pandang penting bagi pemerintah. Pertumbuhan ekonomi mikro yang sangat kecil dan tidak stabil akan berdampak pada daya beli masyarakat kecil di Indonesia. Tentu hal ini menjadi tolak ukur mengapa ekonomi mikro melemah sedangkan ekonomi makro semakin meningkat.

Debat calon presiden dan wakil presiden yang akan disajikan oleh KPU diantaranya ada yang mengangkat tema ekonomi di Indonesia. Dalam hal ini tentu menjadi sebuah harapan agar para calon presiden dan wakil presiden memberikan palt form untuk perekonomian Indonesia.

Jika ditarik pada sekup yang lebih kecil, saat ini ekonomi di desa tidak sebaik dinegara. Jual beli yang terjadi didalamnya banyak barang-barang pertanian yang harganya lebih rendah padahal barang tersebut tidak sedang dalam pasaran. Misal saja, kota bumiayu adalah penghasil sayuran yang terjual dengan harga yang tidak sedikit, karena dalam kota kecil bumiayu memiliki banyak pedesaan yang memiliki hasil bumi seperti, kentang, kubis, cabe, bawang merah, bahkan petani padi bisa memanen hingga tiga kali dalam satu tahun. Tingkat jual beli pada hasil bumi tersebut melemah, pasalnya banyaknya impor yang dilakukan oleh pemerintah sehingga menyebabkan hasil dari bumi sendiri kurang menguntungkan perekonomiannya. Selain pangan, sandang pun demikian. Banyak produk-produk luar negeri yang dominan harga jual belinya lebih tinggi dibandingkan produk sendiri. Sedangkan perekonomian mikro semakin menurun.

Hal tersebut merupakan penyebab terjadinya banyak rakyat yang kelaparan dan berpenghuni tak layak. Seharunya yang diperhatikan dalam pemerintah bukan saja perekonomian makro namun memantau juga perekmbangan ekonomi mikro. Hemat penulis bahwa Indonesia adalah negara yang kaya raya akan hasil bumiya, namun pangan dan sandang serba impor.

Jangan sampai negara Indonesia menjadi sebuah negara yang baik dalam penglihatan keropos ketika ditelusurinya. karena, Indonesia bukanlah milik pemerintah saja, atau orang yang mempunyai jabatan tertinggi dalam negawanya. Namun, Indonesia milik semua rakyat yang ada di bumi ibu pertiwi. Dari hal-hal kecil mampu menjadi sebuah pembelajaran hal-hal yang besar semakin membesar. Dari ekonomi desa tentu akan membangkitkan ekonomi negara.

(Siti Zuleka adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes. Tinggal di Sindangreja, Karanggintung, Kabupaten Cilacap)