Menjadi Kartini Masa Kini
Minggu, 22/04/2018, 04:08:38 WIB

Menjadi Kartini Masa Kini, Menjadi Perempuan Asli Indonesia. Jika benar perempuan Indonesia, cintai Indonesia bukan cuma kepada tanah air, bukan cuma pada manusia yang ada didalamnya, tapi juga pada budaya asli Indonesia. Dilakukan hal itu, dalam sikap, tindakan, bahasa yang harus dijaga untuk selalu digunakan yang menjadi ciri khas bangsa, untuk menunjukan diri sebagai perempuan asli Indonesia yang bisa menjunjung tinggi dan menjaga budaya bangsanya, walau hidup di desa ataupun hidup dikota. Perempuan Indonesiakan? Mari tetap pada budaya asli kita. Jangan berkiblat ke barat. Jangan.

Saat ini Peradaban Indonesia dihela oleh doktrin kapitalisme, industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi serta didukung oleh budaya konsumerisme menghasilkan kerusakan lingkungan bangsa, termasuk lingkungan sosial dan budaya bangsa yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kondisi demikian berakar dari tumbuhnya filsafat modern.

Berkembangnya filsafat modern memunculkan abad pencerahan (enlighment) yang salah satunya ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi telah membuat dunia ini menjadi terasa kecil, manusia menjadi tak tebataskan oleh jarak dan waktu untuk bisa berkomunikasi ataupun akses informasi.

Teknologi berkontribusi menjadi motor peradaban. Manifestasi dari persinggungan tersebutlah telah membentuk karakter peradaban saat ini. Karena tempat persinggungan tersebut berada di wilayah Eropa maka budaya dan peradaban tersebut dikenal sebagai peradaban barat.

Yang berbahaya di era ini adalah ketika perempuan Indonesia tak punya lagi pegangan yang kokoh untuk menfilter setiap budaya barat yang masuk, tak mampu lagi membedakan antara benar-salah (kaidah logika), baik-buruk (kaidah norma), bijak-tidak bijak (kaidah etika), sehingga berbahaya untuk terjerumus masuk kedalamnya tanpa memandang apakah hal yang dilakukan tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah yang ada.

Kita sedang menangi jaman global, jaman yang tak terbatas, budaya-budaya dari luar negeri dapat mudah masuk ke negeri ini. Oleh karena itu, perempuan Indonesia haruslah kokoh menjadi perempuan yang cinta Indonesia tidak pada tanah airnya saja tetapi pada budaya, termasuk nilai-nilai yang ada didalamnya. Perempuan Indonesia haruslah membiasakan untuk menerapkan nilai-nilai budaya dalam diri terkait wujud perempuan asli Indonesia. Menerapkan nilai-nilai budaya artinya ketika perempuannya mau bersama untuk bersikap dalam budaya bangsa yang baik, yaitu budaya yang mencerminkan karakter kaum perempuan Indonesia.

Hari Kartini, 21 April yang merupakan tanggal lahir Raden Ajeng Kartini pada tahun 1879, tidak sekedar memperingati seorang pahlawan perempuan sebagai tokoh sejarah, namun kita perlu mencermati ataupun meneladani ide-ide yang diperjuangkannya. Pada zamannya beliau mendorong pendidikan dan kemajuan umat bangsa Indonesia tanpa membedakan laki-laki dan perempuan. Perjuangan Kartini telah telah terjawab dengan kemajuan dunia pendidikan sekarang, beberapa tokoh perempuan hebat telah menduduki jabatan di dalam masyarakat, tidak ada lagi kekangan kepada perempuan untuk tidak boleh bekerja diluar rumah.

Emansipasi perempuan telah terbuka lebar, akses pendidikan dan perkerjaan bukanlah hal yang sulit untuk diraih oleh para perempuan. Kemajuan gerakan perjuangan perempuan oleh tokoh-tokoh pahlawan perempuan tidak lepas dari dialektika perjuangan nasional. Tidak hanya Kartini, sejarah mencatat tokoh pejuang perempuan seperti: Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Tengku Fakinah, Pocut Baren, Pocut Meurah Intan, Siti Walidah, R.A. Kartini, Dewi Sartika, Rohana Kudus, Rahmah El-Yunusiyah, H.R. Rusana Said, dan Solichah A. Wahid Hasyim. Kaum perempuan yang gigih berjuang melawan penindasan bertolak dari kondisi rakyat yang sengsara dan kelaparan serta semangat untuk mengusir bangsa lain yang ingin menguasai kekayaan bangsanya.

Tentu saja perjuangan kaum perempuan tidak sama dari masa ke masa, karena pada setiap zamannya akan mengalami perubahan permasalahan atau kebutuahan. Para pejuang perempuan telah mencontohkan bahwa perempuan Indonesia harus cinta terhadap bangsanya, berjuang untuk menjaga keutuhan bangsa, serta menjunjung tinggi martabat bangsa.

Kesukaran atau persoalan perempuan modern saat ini timbul dari kenyataan bahwa kendatipun nilai-nilai budaya barat telah berhasil menerobos masuk ke bangsa ini. Dampaknya kepada perempuan, ia belum bisa berhasil menguasai dirinya dengan sempurna, karena mengekang nafsu manusia memang tidak mudah. Di sinilah letak persoalannya.

Hal-hal demikian mau tidak mau menghancurkan atau setidak-tidaknya menggoyahkan sendi-sendi nilai budaya bangsa yang ada. Apalah artinya perempuan Indonesia, jika jiwanya terpisah dari nilai nilai bangsa. Apalah artinya perempuan Indonesia jika terlepas dari kaidah norma dan kaidah etika asli bangsa.

Diakui bahwa dalam banyak hal perempuan bangsa ini telah kehilangan nilai-nilai budaya dalam diri individu perempuan tersebut, yang seharusnya nilai-nilai tersebut dijaga. Dari fashion perempuan, yang dapat dilihat secara langsung oleh indera mata. Kalau Kartini masih hidup sekarang dan melihat perempuan-perempuan Indonesia yang tidak hanya dijumpai dikota bahkan di desa sekarang yang ke-Barat-baratan dengan pakain-pakainnya, apakah Kartini akan tersenyum bangga?.

Pakaian perempuan Indonesia yang nampak indah dan anggun saat dikenakan dan nyaman untuk dipandang, kini berganti yang banyak dilihat adalah perempuan-perempuan Indonesia yang nampak aneh saat dipandang karena yang dikenakan adalah  fashion dengan gaya barat yang tidak cocok untuk dipakai oleh perempuan Indonesia, bukan hanya tidak cocok tetapi bahkan mimim dari kesopanan. Unggah-ungguh sebagai kaidah etika telah runtuh yang dilihat dan dicontohnya sikap dari orang-orang barat. Budaya barat, dengan dipersenjatai teknologi suatu sistem totaliter zaman Modern telah melakukan penindasan terhadap nilai-nilai budaya bangsa Indonesia.

Muncul berita bahwa sekelompok perempuan yang mereka adalah bersahabat telah membunuh salah satu temannya lantaran rebutan pacar di gedung kosong, berita seorang anak muda membunuh anaknya sendiri yang baru dilahirkannya karena malu jika perbuatannya bersama pacar laki-lakinya terbongkar akibat hamil diluar tali pernikahan. Bahkan berita yang sangat miris, seorang anak perempuan tega membunuh ibunya lantaran tidak memenuhi keinginannya. Teknologi sebagai motor peradaban telah membuat nilai-nilai budaya dari barat masuk ke negeri ini dan dengan sadar atau tanpa disadari diikuti dan dicontohnya. 

Apakah itu yang dikehendaki Kartini?, apakah itu yang dikehendaki oleh para tokoh pejuang perempuan Indonesia?, nilai-nilai budaya perempuan telah dihancurkan oleh etika dan sikap dari perempuan Indonesia yang gagal dalam menfilter datngangnya budaya-budaya barat.

Menjadi hal yang sangat penting bagi perempuan Indonesia untuk bersama menengok kembali kebelakang, untuk bisa melihat bahwa perempuan Indonesia sudah jauh dari nilai-nilai budayanya. Menjadi seorang Ibu adalah kesempurnaan bagi seorang perempuan. Mengingat kembali penggalan surat yang ditulis oleh Kartini kepada Ny Abendanon 21 Januari 1902 menyatakan “Perempuan itu jadi saka guru Peradaban”.

Perempuan begitu berpengaruh dalam membangun keluarga dan kehidupan masyarakat berbangsa. Pendidikan atau sekolah pertama bagi seorang anak adalah dari Ibu. Perempuan yang akan menjadi seroang ibu kini telah kehilangan nilai-nilai budaya luhurnya, sebagai seorang perempuan Indonesia yang akan menjadi guru untuk calon generasi penurus bangsa. Bahkan telah disebutkan dalam Islam dari hadits Nabi Muhammad SAW “Perempuan adalah tiang suatu negara, apabila perempuannya baik maka negaranya akan baik dan apabila perempuannya rusak maka negarapun akan rusak”. Bahwa perempuan menjadi indikator baik dan buruknya suatu negara.

Indonesia merindukan keteladanan perempuan muda bangsa dan perempuan ibu bangsa yang memegang erat nilai-nilai budaya bangsanya di zaman modern. Perempuan Indonesia, sebagai puteri puteri bangsa maka dalam menghadapi persoalan budaya barat yang dapat dilihat dan rasakan bersama  menjadi hal yang amat penting, bahkan bukan saja amat penting, tetapi merupakan persoalan hidup dan mati nilai-nilai budaya bangsa, persoalan timbul atau tenggelamnya citra perempuan asli Indonesia yang kokoh dengan nilai-nilai budaya bangsa yang tertanam dalam dirinya. Kartini masa kini, perempuan yang memegang kokoh nilai-nilai budaya bangsanya untuk selalu dijaga, tertanam dalam diri sebagai perempuan asli Indonesia.

(Wiwi Maulida adalah Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HmI) Cabang Tegal Peroide 2018-2019)