Eksistensi Mahasiswa dan Pesta Demokrasi
Sabtu, 27/01/2018, 02:53:17 WIB

Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang yang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional. (Penyair Jerman, Bertolt Brecht)

Pemilihan umum atau yang juga dikenal sebagai pesta demokrasi adalah momen penting suatu Negara yang menganut sistem demokrasi, dimana lewat momen ini lahir sosok public figure hasil filtering dari ekspresi hak dasar rakyat. Sosok publik figur yang terpilih menjadi tumpuan harapan, yang diharapkan mampu mengakomodir seluruh aspirasi dari berbagai elemen masyarakat dan membawa perubahan ke dalam kehidupan yang berdaulat dan berkeadilan social.

Namun melihat realita momen pesta demokrasi dewasa ini, hanyalah ajang pergantian kekuasaan secara teratur dan adu strategi dalam memperebutkan kekuasaan yang berbasis hukum rimba yang kuat dengan sokongan kapital yang besar adalah yang menang.

Berbagai praktek penyimpangan dalam pesta demokrasi terjadi bervariasi, seperti money politik hak suara, penggelembungan suara, pemalsuan daftar pemilih yang tidak jelas, dan sebagainya. Praktik penyimpangan ini terjadi secara sistematis dan teroganisir mulai dari tingkatan hilir hingga pada tingkatan hulu. Komisi Pemilihan Umum (KPU) selaku penanggung jawab penuh dalam momen ini tak mampu berkutik terhadap reaksi virus money politik hingga prinsip pemilu yaitu Langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil (LUBER dan JURDIL) hanya sebatas formalitas yang tertera diatas lembaran putih.

Selain itu, calon kandidat yang seharusnya menampakan diri sebagai sosok Publik figur yang kharismatik selayaknya penjelmaan dari ratu adil, malah ikut andil di belakang layar dengan memonitoring praktik yang tidak mendidik tersebut dan meracuni pikiran masyarakat dengan retorika gombal berupa program-program muluk yang hanya sebatas janji kampanye. Lembaga survey pun juga kehilangan jati diri sebagai lembaga independen dengan ikut larut dalam memperkeruh suasana dengan membius kesadaran masyarakat lewat data-data statistic yang abstrak yang menonjolkan salah satu kandidat dengan tingkat kevalidan data yang dipertanyakan.

Mahasiswa memiliki peran sebagai agen perubahan, cadangan masa depan, dan penjaga nilai. Maka, ada kewajiban moril dari dalam diri mahasiswa untuk mengawal calon pemimpin negeri ini agar tetep berjalan di dalam ‘track’ yang benar. Peran mahasiswa lain adalah mengadakan debat-debat ideologis antar mahasiswa.

Gerakan kiri, gerakan kanan, nasionalis, islam, dan sebagai macamnya dibahas dalam ruang terbuka. Mahasiswa mempelajari, membaca, menulis, berdiskusi mengenai ide gagasan ideologi bangsa ini. Diskusi asik para calon penerus bangsa ini berada di ruang-ruang perkuliahan dan di fasilitasi oleh organisasi mahasiswa.

Selain itu ada juga mahasiswa yang menyambut pesta demokrasi dengan mengadakan lomba. Seperti lomba poster dengan mengajak untuk tidak golput, lomba foto selfie dengan tema pemilu, atau lomba video untuk pencerdasan politik. Tujuannya adalah agar anak muda tetap peduli politik dan pemilu dengan cara-cara yang kreatif, unik, dan menarik.

Banyak cara kreatif serta menarik yang dilakukan mahasiswa saat ini dalam menyambut pesta demokrasi dengan tujuan yang sama yaitu meramaikan dengan kegiatan positif, mengajak masyarakat untuk mensukseskan pemilu, serta mengawal segala kegiatan pemilu agar pelaksanaannya sesuai harapan masyarakat yaitu berlangsung secara terbuka, jujur, dan adil. Semoga dalam pesta demokrasi tahun 2018 ini melahirkan sosok pemimpin yang mampu membawa arah yang bangsa yang progresif, inovatif, dan kreatif.

(Penulis adalah mahasiswa di Universitas Peradaban Bumiayu (UPB))