Merindukan Elang Muda Nusantara
Jumat, 05/01/2018, 10:42:21 WIB

(Wahyu Syaefulloh)

Akhir-akhir ini di tengah situasi krisis multidimensi yang tak kunjung pulih dari gejala konflik yang belum terselesaikan, dimulai dari letak supremasi hukum, ekonomi sosial dan panggung politik yang semakin kontras dengan kekuasaan yang mengensampingkan nilai-nilai luhur.

Sikap tersebut menghambat cita-cita bangsa yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945 yaitu mewujudkan negara yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Perlu menjadi sorotan khusus bagi seluruh elemen bangsa. Pasca reformasi, krisis kepercayaan menjadi masalah yang fundamental, sehingga sering menimbulkan perang kekuasaan dengan saling mengganyang tanpa melihat kaidah hukum dan nilai-nilai Pancasila.

Semoga semangat juang pemuda masih menjadi pendobrak, mengingat saat ini pemuda memiliki peran dan jumlah yang lebih besar dalam menjaga dan mempertahankan sejengkal tanah air Pusaka Indonesia, diharapkan pula terus mengamalkan dan menjaga nilai-nilai Pancasila yang menjadi ruh setiap warga sebagai bukti pengabdian. Sejarah mencatat semangat pemuda mampu berperan sebagai tonggak perjuangan dan penyambung lidah rakyat.

Penghargaan tertinggi pemuda adalah sebagai insan cita yang ditunggu karya dan baktinya di tengah masyarakat. Mengingat masyarakat menaruh harapan dan kepercayaan yang besar, yang menganggap pemuda memiliki peran sebagai pembawa perubahan yang lebih baik (agent of change), menganggap pemuda sebagai kaum intelektual yang dipersiapkan sebagai calon-calon pemimpin (iron stock), dan menganggap pemuda sebagai aktor politik yang terjaga independensi dan hak kritisnya dalam mengisi serta menjaga kemerdekaan (control social).

Dapat disimpulkan harapan masyarakat terhadap pemuda bukan mereka yang lebih mementingkan privat oriented, namun mereka yang terus bergerak untuk kemajuan bangsa dan negaranya.

Bicara pergerakan bukan bicara siapa yang paling benar, dalam pergerakan melainkan membicarakan seberapa besar upaya perbaikan untuk diri, masyarakat dan negara. Mengutip kata-kata dari dua tokoh dunia yaitu Edmund Burke dan Hegel “Karena Kebenaran adalah Kesatuan dari Kehendak universal dan subyektif; dan yang Universal harus ditemukan dalam Negara, dalam Hukum-hukumnya, dalam bentuk yang universal dan rasional.

Negara adalah roh Tuhan yang ada di atas Bumi” (Hegel, Philosophy of History). Bisa disimpulkan Hegel menegaskan jika ingin menemukan kebenaran maka temukan dalam hukum yang secara menyeluruh dan masuk akal, tak bisa kita bayangkan jika hukum-hukum negara yang menjadi produk politik bermuatan kepentingan.

"Dorongan untuk bertahan, dan kemampuan untuk memperbaiki diri, menjadi standar kewarganegaraan saya, yang lain semuanya adalah konsepsi yang vulgar, berbahaya untuk dilaksanakan” (Burke, Reflection on the revolution France).

Bisa disimpulkan apa yang menjadi pemikiran Edmund Burke penting untuk menjaga dan mempertahankan karakter bangsa, sebagai simbol dan jatidiri yang mampu mengerahkan dan menyatukan seluruh lapisan masyarakat menuju negara yang lebih baik.

Sudah menjadi kewajiban kita semua yang tergugah untuk bergerak, pentingnya akan sebuah negara, pentingnya akan sebuah kemajuan dan kejayaan sebagai perwujudan cita-cita sebuah negara. Di sisi lain perlu adanya gerakan spiritual, gerakan intelektual, gerakan cultural, dan gerakan struktural. untuk membuktikan bahwa semangat pemuda sebagai simbol dan jati diri bangsa, karena pada hakekatnya tidak akan ada yang menghendaki negaranya di hancurkan baik secara fisik maupun mental, mari kita lantangkan bangsa yang besar adalah bangsa yang jantan! Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menciptakan pemimpin-pemimpin muda yang gagah seperti elang matanya tajam menatap kemajuan.

Penulis: Wahyu Syaefulloh adalah Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Peradaban (UPB) Bumiayu.