Kamis, 08/04/2021, 22:10:25
Bedah Buku Tegalan Karya Maufur. Karya Sastra Non Imajinatif
Laporan Tim PanturaNews

Para pembicara membedah buku “Syukur Sanjeroné Musibah” karya Dr. Maufur yang merupakan buku ke empat dari tulisan-tulisan yang ada di kolom Moci di Suara Merdeka. (Foto: Dok)

PanturaNews (Tegal) - Komunitas Sastrawan Tegalan menggelar bedah buku kumpulan cerita Tegalan berjudul “Syukur Sanjeroné Musibah” karya Dr. Maufur. Buku ini merupakan buku ke empat dari tulisan-tulisan yang ada di kolom Moci di Suara Merdeka edisi Suara Pantura.

Acara digelar di Aula Yayasan Pendidikan Pancasakti Tegal, Kamis 8 April 2021, mengundang tiga narasumber yakni Dr. Tri Mulyono dari Universitas Pancasakti (UPS) Tegal, Dr. Mualimin, M.Hum dosen Undip Semarang, dengan moderator dipandegani Wijanarto Wijan, sejarawan asal Kabupaten Brebes.

Sebelum acara dimulai, dibuka oleh Dr. H. Imawan Sugiharto, Ketua Yayasan Pendsariidikan Pancasakti (YPP) Tegal. Dalam sambutannya, Imawan menekankan bahwa sejak awal YPP dan UPS telah mensuport dan peduli dengan bahasa, sastra, dan tembang-tembang Tegalan.

“Sejak saya menjabat sebagai Ketua Yayasan, kami peduli dan bertekat Universitas Pancasakti menjadi satu-satunya sentral bahasa, sastra, dan lagu-lagu Tegalan. Siapa lagi kalau bukan kita yang peduli?” ujar Imawan.

Sebelum bedah buku dimulai, suasana digeber dengan penampilan monologer Apito Lahire membawakan satu lakon.

Pada sesi pembukaan bedah buku berjudul “Syukur Sanjeroné Musibah” ini, Dr. Mualimin, M.Hum, dosen dari Undip Semarang ini mengungkapkan, ada thema 5 besar karya Maufur pada buku Warung Poci ke 4 ini, adalah thema besar tentang Musibah, Silaturachim, Rasa Syukut, Prestasi, dan Makanan. Namun dari 5 thema besar tersebut, Mualimin mengakui belum seluruhnya ia baca.

“Dari buku tersebut saya hanya membaca pada bagian pertama yaitu, tentang musibah. Karena musibah inilah yang banyak dikupas Pak Maufur paling tidak ada 11 tulisan dibagian pertama. Inilah yang kemudian dijadikan judul dan ini yang menarik,” katanya saat menyampaikan pembahasan buku tersebut via daring.

Dikatakan, misalnya satu contoh tentang topik yang diketengahkan Maufur pada tulisan berjudul “Dunia Ngelawan Korona”. Ia menilai bahwa adanya Pandemi Covid-19 itu telah melanda dunia secara merata. Bahkan, negara besar seperti Amerika saja, penduduknya banyak meninggal karena korona.

“Di Negara Indonesia saja korban dari koran ini jumlah ribuan. Dalm tulisan tersebut Pak Maufur berusaha menjelaskan tentang masalah yang dihadapi manusia. Tetapi, sekali lagi di dalam banyak musibah tentu ada berkah. Ini saya kira pelajaran yang sangat baik bagi kita semua, dimana kalau kita teliti dan atau mmembaca lagi tulisan-tulisannya kaitannya dengan musibah ini kita disadarkan bahwa kita ini banyak berencana hanya punya angan-angan tapi hanya Allahlah juga yang menentukan,” ujarnya.

Menyinggung pada tulisan bagian kedua, Mualimin mengupas judul tulisan “Warung Pian”, dimana Maufur mengabarkan kehidupan rakyat kecil yang juga merupakan sebuah bencana. Sering kali, katanya, mereka menjadi pihak yang tidak beruntung karena usahanya digusur dan warung-warung rakyat kecil dirobohkan oleh aparat.

“Memang mereka menggunakan lahan berdagangnya, bukan milik sendiri. Sehingga untuk mensejahterakan kehidupannya, mereka harus kucing-kucingan dengan aparat Satpol PP,” ujarnya.

Lebih jauh ia menyinggung tentang penulisan pada ejaan, hendaknya para sastrawan Tegalan memperhatikan kaidah bahasa Jawa yang benar.

“Satu contoh kecil saja, hurf “th” dan “dh” oleh para Sastrawan Tegalan hanya di tulis dengah tanpa menggunakan huruf H,” tandasnya.

Sementara itu Dr. Maufur dalam pertanggungjawaban sebagai penulis buku tersebut mengutarakan, untuk peluncuran dan bedah buku kali ini, ia lebih memprioritaskan kehadiran tamu undangan kepada para mahasiswa dan pustakawan. Menyinggung isi buku, ia menitik beratkan pada peristiwa-peristiwa keseharian yang lalu-lalang di sekitar Tegal.

“Apa saja yang lalu-lalang di sekitar, yang kami lihat, rasakan, dan kami pikirkan pada akhirnya menjadi sebuah tulisan dan buku ini,” katanya yang menambahi bahwa sejatinya, setiap musibah itu, di dalamnya ada karunia dan oleh karenanya tidak perlu ditangis tapi lebih jauh disyukuri.

Giliran Dr. Tri Mulyono, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UPS ini, dengan tandasnya menekankan, cerita-cerita yang ada dalam buku “Syukur Sanjeroné Musibah”, karya Maufur digolongkan bukan karya sastra imajinatif tapi non imajinatif.

Menurutnya, karya sastra imajinatif pertama, cerita yang dituangkan harus rekaan, bukan beneran. Kedua, ada alur yakni, rangkaian peristiwa berdasarkan hubungan sebab akibat.

“Dalam aliran formalisme Rusia alur disebut sujzet. Sedangkan cerita yang merupakan bahan mentah sujzet disebut fabula atau cerita. Syarat menjadi alur harus ada penyimpangan, pembelokan, degresi, dan penghambatan cerita atau defamiliarisasi, menjadikan sesuatu yang sudah dikenal menjadi asing atau berbeda,” ucap Tri Mulyono yang memiliki predikat kepakaran puisi Indonesia.

Ia menambahkan, dengan teori tersebut, cerita-cerita yang ada dalam buku Dr. Maufur, bukan sebuah karya sastra yang imajinatif melainkan non imajinatif. “Namun demikian karya Maufur itu mengisi kekosongan yang belum ada dalam karya sastra Tegalan,” tandas Tri Mulyono.    

Acara ditutup dengan tanya jawab dan sambutan salah satunya Lanang Setiawan, serta pembacaan puisi oleh Presiden Penyair Tegalan, Dwi Ery Santoso, dan F. Umar.


 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita