Senin, 01/02/2021, 21:36:54
Fraksi PDIP Tolak, Jalan Ahmad Yani Jadi Malioboro-nya Kota Tegal
LAPORAN JOHARI

Edy Suripno Ketua Fraksi DPI Perjuangan DPRD Kota Tegal

PanturaNews (Tegal) – Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Tegal, Edy Suripno dengan tegas menolak rencana Pemerintah Kota Tegal mengubah Jalan Ahmad Yani menjadi Malioboro-nya Kota Tegal. Pasalnya akan muncul masalah baru dengan pedagang kaki lima (PKL).

Menurut Uyip panggilan Edy Suripno, berkaca dari Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Jalan Pancasila yang tergusur akibat revitalisasi dan tidak mendapat tempat yang representatif hingga hari ini.

“Jawaban wali kota terkait dengan PKL dalam rapat paripurna yang menyebut tidak ada penggusuran PKL, yang ada hanya penataan. Fraksi PDI perjuangan menyatakan pernyataan tersebut tidak benar,” kata Uyip, di Kantor DPRD, Senin 01 Februari 2021.

Tapi faktanya, yang terjadi bukan penataan namun penggusuran. “ PKL ditempatkan di samping RM Dewi justru setelah ada penggusuran, atau penataan tidak bersamaan,” kata dia

Uyip menegaskan, yang disebut penataan seharusnya ketika akan relokasi sudah ditempatkan terlebih dahulu. Bukan ditempatkan saat terakhir atau usai adanya penggusuran.

“Dengan fakta yang ada, maka Fraksi PDI P menganggap ini sebuah penggusuran, bukan penataan. Ketika pemkot menyatakan ini adalah penataan maka jauh panggang dari api, jauh dari kenyataannya,” tegasnya..

Dikwatirkan lanjut Uyip, hal itu akan terulang pada PKL di Jalan Ahmad Yani, jika nantinya Pemkot Tegal jadi membuat kawasan “Malioboro”-nya Kota Tegal.

“Kami khawatir, apabila penataannya seperti itu, apa jadinya nanti Jalan Ahmad Yani ketika ditambah anggarannya Rp 12 M,  saya yakin akan menambah panjang penderitaan dan kesengsaraan masyarakat PKL,” kata dia.

Untuk itu, Fraksi PDI Perjuangan dengan tegas menolak pembangunan Jalan Ahmad Yani. Apalagi, rencana Pemkot yang akan menyempitkan jalan dari selebar 14 meter menjadi 5 meter dan berlaku satu arah.

“Kita bisa membayangkan bagaimana dampaknya kepada PKL, juru parkir, pedagang Pasar Pagi. Ketika arus lalu lintas yang seharusnya lancar menjadi sempit karena dibangun trotoar,” katanya.

Dia menilai, Pemkot kurang serius dalam menata keberadaan PKL. Edy mencontohkan, tempat relokasi di kawasan PPIB dan lahan di samping RM Dewi, pada akhirnya bukan tempat ramai yang bisa meningkatkan pendapatan PKL.

“Contoh di PPIB, apa fasilitas yang disiapkan pemda, jualan mereka sepi jauh dari potensi ekonomi. Tidak ada intervensi pemda nyatanya sepi. Pedagang mengeluh. Begitu juga yang di samping RM Dewi, sepi, tidak bisa berjualan,” katanya.


 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita