Selasa, 26/01/2021, 21:44:28
Berkenalan Dengan Kota Bumiayu, Kota Santri
Oleh: Arum Tri Indriyana

SIAPA sih yang tidak mengenal kota Bumiayu? Iya betul, pasti semua kalangan masyarakat mengenalnya, baik yang masyarakat pribumi maupun masyarakat transmigrasi.

Sejarah terkait kota Bumiayu ini sangat unik dan sangat menarik untuk dibicarakan turun temurun kepada anak cucu kelak. Bumiayu merupakan kota kecil dibagian selatan kabupaten Brebes, yang mana kota Bumiayu ini dijadikan sebagai pusat aktivitas masyarakat di Brebes bagian selatan seperti Tonjong, Sirampog, Bantarkawung, Paguyangan dan Salem.

Menilik sejarah mengenai asal usul pemberian nama Bumiayu yaitu pada jaman dahulu nama Bumiayu tersebut diberikan oleh seorang raja bernama Adipati Anom atau masyarakat dahulu mengenalnya seorang Amangkurat dua, yang pada saat itu melakukan pelarian hingga sampai ke Tegal.

Saat sampai di Bumiayu (sebelum diberi nama) Amangkurat dua didaerah Bumiayu bertemu dengan penduduk sekitar yang berparas cantik atau dalam bahasa Bumiayu itu berparas ayu, hingga saat itu Amangkurat dua memberi nama kota ini sebagai kota Bumiayu.

Kota Bumiayu juga disebut sebagai Kota Santri, mengapa demikian? Karena di daerah ini terdapat beberapa bangunan tempat untuk menuntut ilmu agama. Iya, pondok pesantren. Banyak sekali pondok pesantren yang berdiri di kota Bumiayu, dan menyoal pondok pesantren tertua di Bumiayu yaitu pondok pesantren Al Hikmah. Pondok pesantren Al hikmah ini terletak di desa Benda kecamatan Sirampog Brebes Jawa Tengah. Pondok pesantren ini berada di jalur Purwokerto Tegal, kurang lebih berjarak 7 Km dari kota Bumiayu.

Setiap daerah kota pasti memiliki keunikan tersendiri, begitupun dengan kota Bumiayu yang memiliki berbagai keunikan yang menjadikannya sebagai kekhasan ketika menyelami mengenai kota ini. Apa saja sih keunikan yang ada di kota Bumiayu?

(1) Dialek

Dialek, atau biasa masyarakat Bumiayu menyebutnya dengan logat. Dialek merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh masyarakat Bumiayu dan memiliki kekhasan tersendiri. Dialek yang ada di Bumiayu yaitu menggunakan bahasa Jawa ngapak.  Dialek yang dimiliki oleh daerah Bumiayu tidak berbeda jauh dengan dialek yang dimiliki oleh daerah Banyumas dan daerah Tegal. Yang membedakannya hanya saja pada pemilihan setiap kata yang diucapkannya.

Misalnya pada kata "masuk" (dalam bahasa Indonesia), ketika berada di daerah Bumiayu menjadi "manjing" dan ketika bergeser sedikit ke daerah Banyumas menjadi "mlebu". Terlihat jelas hanya berbeda pada pemilihan kata namun memiliki makna yang sama yaitu masuk.

Contoh lain ketika bahasa Indonesia beralih menjadi bahasa Jawa yang sering digunakan di daerah Bumiayu yaitu "Mau makan ngga?" Menjadi "arep mangan ora?".

(2) Kuliner

Terlepas dari dialek, Bumiayu juga memiliki berbagai jenis kuliner yang sangat melegenda dari jaman dulu hingga sampai sekarang. Kuliner merupakan sebuah inovasi makanan yang terdapat di suatu daerah, begitupun di daerah Bumiayu. Kuliner khas Bumiayu ada diantaranya yaitu seperti sogol (tauge dicampur parutan santan kelapa), petis (tempe yang ditumbuk dan dimasak lalu diberi beberapa penyedap rasa), kraca (keong yang dilumuri rempah-rempah tradisional), mendoan (tempe dan dage yang dibaluti tepung terigu), dan tegean (sayur asem khas yang dicampuri bumbu khusus).

(3) Transportasi

Menyoal transportasi yang ada di daerah ini, vital sekali untuk menunjang mobilitas perekonomian. Pasalnya masyarakat Bumiayu masih sering menggunakan transportasi umum ketika bepergian. Ada berbagai macam jenis transportasi yang ada di daerah ini dari mulai transportasi roda empat, roda dua hingga roda tiga.

Untuk transportasi roda empat ada angkutan kota atau biasa dikenal dengan angkot, angkutan kota disini memiliki berbagai tujuan dari kota hingga masuk ke desa-desa. Begitupun transportasi roda dua, ada ojek yang berjejer di beberapa pangkalan. Dan yang terakhir transportasi roda tiga, transportasi ini sangat tradisional yaitu ada becak dan ada dokar (delman).

Begitulah sedikit cerita mengenai kota kecil yang ada di bagian Brebes selatan, kota Bumiayu kota seribu kenangan dan kota seribu kekayaan. Sebagai penduduk asli kelahiran kota Bumiayu sangat bangga ketika kota ini semakin maju pesat mengikuti perkembangan zaman yang ada hingga saat ini.

Beauty of Java, Bumiayu. Bumiayu ku semoga semakin hari semakin ayu.

(Arum Tri Indriyana adalah Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Tinggal di Jatisawit, Bumiayu, Kabupaten Brebes. E-mail: Arumtriindriyana@gmail.com)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita