Minggu, 29/11/2020, 11:14:04
Ambiguitas Ketakutan Masyarakat: Wabah Atau Peraturan Pemerintah?
Oleh: Ridho Maulana

Kata COVID-19 sudah tidak terasa asing lagi bagi masyarakat di belahan dunia.Virus corona atau COVID-19 muncul di Wuhan China. Desember 2019 lalu, virus ini menyebar hampir ke seluruh belahan dunia termasuk di Indonesia, dan hampir seluruh media di belahan dunia mempublikasikan berita tentang COVID-19. Dunia yang saat ini sedang digemparkan dengan merebaknya virus corona atau COVID-19 dan hampir semua negara terkena dampaknya baik dari sektor sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain.

Pada 2 maret 2020, untuk pertama kalinya pemerintah  mengumumkan dua kasus pasien positif Covid-19 di Indonesia.Namun,Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono menyebutkan virus corona jenis SARS-CoV-2 sebagai penyebab Covid-19 itu sudah masuk ke Indonesia sejak awal januari (KOMPAS.COM).

Sejak virus corona mulai masuk ke Indonesia kita bisa lihat reaksi masyarakat pada COVID-19, banyak yang acuh pada virus ini seakan-akan virus corona tidak berdampak fatal bagi mereka. Terutama dalam segi protokol kesehatan seperti memakai masker saat beraktifitas di luar rumah, menjaga jarak dan mencuci tangan.Terbukti pada saat awal virus ini mulai menyebar di indonesia, masyarakat  masih tidak memenuhi protokol kesehatan tersebut. Hal ini tentunya sangat membuat pemerintah geram terhadap perilaku masyarakat yang menggangap biasa COVID-19.

Akhirnya pemerintahpun mulai mengambil tindakan-tindakan seperti menjalankan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Sosial distancing dan physical distancing. Upaya pemerintah dalam menangulangi COVID-19 juga masih kurang untuk menyadarkan masyarakat tentang bahaya COVID-19, kita ambil sedikit contoh seperti pasar tradisional maupun modern yang tetap ramai seperti biasanya, Tetapi ada hal menurut penulis cukup unik yaitu saat di berlakukanya razia masker di tempat-tempat keramaian yang di lakukan oleh pihak kepolisian bersama TNI. masyarakat yang awalnya tidak menggunakan masker, lalu sontak menggunakan masker saat dilakukannya operasi masker.

Tentunya hal ini menjadi sebuah pertanyaan bagi penulis, apakah masyarakat menggunakan masker karena takut pada virus yang sedang merebak ataukah masyarakat hanya takut pada peraturan, sebab jika mereka tidak memakai masker saat ada razia mereka akan di beri sanksi atau hukuman berupa denda uang atau hukuman fisik saja.

Hal ini membuktikan tingkat kesadaran masyarakat Indonesia pada COVID-19 masih sangat rendah, minimnya pemahaman yang benar akan penularan COVID-19 menyebabkan masyarakat Indonesia tidak disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan dan hanya sebatas teori tanpa aksi.

Hal yang perlu di tingkatkan dalam menangani COVID-19 di Indonesia adalah bagaimana cara mensosialisasikan dampak COVID-19 kepada masyarakat supaya mereka mengerti atau memahami akan dampak yang di timbulkan virus ini sehingga mereka bisa mematuhi protokol kesehatan dalam menjalani aktifitasnya sehari-hari. Kebingungan yang ditimpa masyarakat menjadi sumbu awal dalam ketidak selesainya virus corona tersebut. Salah satu dampak nyatanya di Indonesia.

Coba kita bandingkan dengan kondisi kota Wuhan Cina, sebagai kota pertama yang mendeteksi adanya virus corona, saat ini sudah dalam kondisi membaik dan tidak terlalu membahayakan. Hal ini di karenakan tingkat kepatuhan masyarakat yang tinggi, sehingga dengan melakukan lockdown 3 bulan wuhan mampu menekan angka kekhawatiran penyebaran COVID-19. Dan sudah seharusnya dalam menangani pandemi COVID-19 tidak hanya di lakukan oleh pemerintah saja, Karena percuma saja kalau pemerintah membuat kebijakan seperti menjalankan PSBB, sosial distancing dan physical distancing tetapi masyarakat tidak mematuhi peraturan tersebut.

Masyarakat juga harus ikut mengambil peran seperti mematuhi protokol kesehatan, jaga jarak dan tetap tinggal di rumah, karena hal itu dapat menjadi penentu keberhasilan dalam memutus rantai penyebaran COVID-19 di Indonesia.

Pesan penulis untuk semua masyarakat Indonesia mengutip dari Umar bin ‘Ash ketika tertimpa wabah Tha’un:

الوباء كالنار وأنتم وقودها تفرقوا حتى لا تجد النار ما يشعلها فتنطفئ

“wabah itu seperti api dan kalian adalah kayunya, berpencarlah sehingga api tidak menemukan bahan untuk menyala kemudian menjadi padam”

Maksud dari penyataan diatas, bahwa segala sesuatu adalah dimuali diri sendiri. Rasa takut atau panik hanya akan menambah penyakit untuk tubuh. 

(Ridho Maulana adalah Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Peradaban Bumiayu, Kanupaten Brebes, Jawa Tengah)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita