Sabtu, 19/09/2020, 10:11:00
Persekutuan Memburu Kekuasaan
Oleh: Drs. H. M Sugeng Wibowo, SH, MH, M.Si

(Sugeng Wibowo adalah Dosen Universitas Prasetiya Mulya, BSD Serpong, Tangerang Selatan. Anggota Forum Guru Besar dan Dosen Putera Puteri Brebes/Yayasan Rumah Cinta Brebes)

SYAHDAN di sebuah kawasan hutan nan lebat belantara, terjadi perseteruan hebat antara Kuda dengan Rusa. Kuda meminta bantuan Pemburu agar dapat membalas  dendam dan mengalahkan Rusa.

Pemburu setuju menolong Kuda dengan sarat: “Jika engkau ingin mengalahkan sekaligus membalas dendam kepada Rusa, kamu harus membolehkan aku untuk memasang sepotong besi di mulutmu, agar aku dapat membimbingmu dengan kekang dan kendali,” kata pemburu.

Di samping itu, kamu juga harus membolehkan aku memasang pelana di punggungmu, agar kita dengan mudah mengejar Rusa, lanjut pemburu.

Kuda pun menyetujui persaratan tersebut , dan Pemburupun memasang kendali dan pelana. Bener saja, berkat bantuan Pemburu. Kuda pun dapat mengalahkan Rusa. Setelah Kuda dapat membalas dendam dan mengalahkan Rusa, Kuda meminta agar Pemburu segera turun dan segera melepaskan benda yang ada di punggung dan mulutnya.

Kata Pemburu: Jangan buru-buru kawan, aku sekarang sudah mengendalikanmu dan lebih suka mempertahankan seperti sekarang. (Kuda, Rusa dan Pemburu: Dongeng Aesop)

AESOP adalah merupakan seorang tukang dongeng dari Yunani Kuno yang lahir pada tahun 620 SM. Ceritera tentang Kuda, Rusa dan Pemburu adalah merupakan dongeng yang dikisahkan oleh Aesop.

Dongeng Aesop, menurut para ahli seringkali di interpretasikan dengan berbagai macam unterpretasi, sesuai kebutuhan, selera suasana dan kondisi jaman bagi orang yang memberikan interpretasi.

Penulis barat Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, misalnya dalam bukunya How Dem9cracies Die (2019) menuturkan, mengisahkan dan menginterpretasikan naiknya Mussolini ke panggung politik kekuasaan di Italia (1883 - 1945) bagaikan dongeng dalam Aesop.

Mussolini di undang oleh Raja Victor Emmanuel III untuk datang ke Roma, untuk menerima jabatan sebagai Perdana Menteri serta membentuk kabinet dengan tugas utamanya adalah untuk menyelamatkan negeri dari perpecahan.

Kepercayaan yang diberikan Raja, tidak disia-siakan oleh Mussolini. Dengan memanfaatkan 35 kursi parlemen partainya dari 535 kursi yang ada, mampu memenangkan dan menenangkan keresahan rakyat.

Sehingga politisi mapan memberikan kepercayaan dan dukungan penuh, bahkan menganggap Mussolini sebagai sekutu yang berguna.

Namun sebagai mana Kuda dalam dongeng Aesop, Italia segera mendapati diri dipasangi kekang dan pelana, yang pada akhirnya Mussolini bagaikan Pemburu yang dimintai bantuan Kuda, ia menguasai panggung politik, dan Italia menjadi tunggangan politik kekuasaan Mussolini.

Ternyata menurut Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, bukan hanya Mussolini, tetapi juga Hitler pun dalam meraih kekuasaan dengan cara yang sama bersekutu dengan tokoh-tokoh politik berkuasa dan mapan dengan cara di undang.

Hitler memperoleh akses kekuasaan dengan cara bersekutu, diantaranya dengan Joseph Goebbels dengan membangun politik kebencian (anti semitisme nan rasis), merupakan sang diktator serta aktor intelektual peristiwa holocaust.

Tentu saja pada awal mulanya para politisi mapan mengundang Mussolini dan Hitler dengan maksud untuk membangun kekuatan politik, namun demikian pada akhirnya Mussolini dan Hitler menjadi penguasa .

Hal-hal semacam ini menurut Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, merupakan kekeliruan dan kesalahan fatal: menyerahkan kekuasaan kepada calon autokrat (penguasa mutlak).

Bagainana dengan Indonesia?

Dongeng memburu kekuasaan bukan semata dicermati dari kisah yang dituturkan secara menarik, namun ada ceritera yang penuh makna khususnya dalam politik kontemporer di berbagai belahan dunia ternasuk di negara Indonesia. Walaupun cara yang ditempuh untuk memburu kekuasaan berbeda, namun substansinya adalah sana.

Demokrasi sebagai agenda reformasi di Indonesia, pada awalnya berjalan pada rel yang tepat. Namun pada saat ini nampaknya sedang berbelok kearah oligarki. Oligarki merupakan bentuk pemerintahan yang kekuasaan politiknya secara efektif dipegang oleh kelompok elit kecil dari masyarakat, baik dibedakan menurut kekayaan, keluarga atau militer.

Berbeloknya demokrasi ke arah oligarki dapat dianalisis  dari perilaku politik elit dan partai politik yang bersekutu (saling mendukung) keluarga elit baik anak, menantu, ponakan dan isteri guna memperoleh kekuasaan khususnya di lembaga eksekutif seperti Bupati/Wakil  atau Wali Kota/Wakil.

Cara-cara memburu kekuasaan semacam ini oleh para ahli disebut sebagai politik dinasti dan dinasti politik. Hal demikian jelas mengingkari agenda reformasi. Dalam membangun politik dinasti dan dinasti politik, tentu akan bersekutu dengan siapa saja termasuk dengan pengusaha, dan elit partai politik dengan istilah koalisi.

Memang kekuasaan menurut cerdik cendikia, diibaratkan sebagai obat bius, maksudnya manakala dapat dimanfaatkan sesuai kadar fungsinya, obat bius dapat membantu penyembuhan suatu penyakit yang bermanfaat bagi manusia, akan tetapi jika obat bius mencapai overdosis tentu akan mendatabgkan mala petaka.

Manusia yang cerdas dan sesehat apapun  kata ahli jika sudah mencapai overdosis dengan kekuasaan cenderung akan kehilangan akal sehat . Apapun akan dilakukan termasuk mengkhianati dan menjual harga diri serta akal sehat .

Wallahu Alam bis Showab, semoga ada manfaatnya.

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita