Jumat, 11/09/2020, 10:24:09
Pakta Integritas Mahasiswa Jangan Berlawanan Dengan Tujuan Kampus Merdeka
LAPORAN SL. GAHARU

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, DR. Abdul Fikri Faqih (kanan) saat berbincang dengan Mendikbud Nadiem Makarim. (Foto: Dok)

PanturaNews (Jakarta) - Pakta Integritas bagi mahasiswa baru di kampus Universitas Indonesia (UI), sebaiknya tidak bertentangan dengan tujuan Kampus Merdeka yang digagas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI.

Hal itu dikatakan Wakil Ketua Komisi X DPR RI, DR. Abdul Fikri Faqih terkait kebijakan Mendikbud Nadiem Makarim, Jumat 11 September 2020 di Jakarta.

“Secara diksi kampus merdeka memberi kemerdekaan bagi intelektual kampus menentukan pola pembelajaran yang sesuai, termasuk kemerdekaan untuk berpendapat dan berserikat,” tegasnya.

Menurut politisi PKS dari Dapil Jawa Tengah IX yang meliputi Kota-Kabupaten Tegal dan Kabupaten Brebes ini, hal tersebut sekaligus menjadi kritik bagi kebijakan kampus merdeka yang digagas oleh Nadiem Makarim.

Fikri mengingatkan soal program kampus merdeka yang bisa disalahartikan oleh kampus, seperti yang dilakukan UI terhadap mahasiswa barunya.

Kebijakan kampus merdeka, lanjut Fikri, secara esensi tidak hanya mengatur bagaimana kampus merdeka dalam menaikkan level akreditasinya, tapi juga memberi keleluasaan bagi civitas academisi dalam mengembangkan potensi dan kualitas sumber daya manusianya.

“Pakta Integritas yang harus diteken mahasiswa baru UI itu malah berpotensi mendistorsi kreatifitas dalam berpendapat, dan mengembangkan potensi skill di luar akademisnya,” ujarnya.

Fikri yang mantan aktifis Pelajar Islam Indonesia (PII) ini, merujuk pada poin 10 dan 11 dalam pakta integritas tersebut yang berbunyi (10) ‘Tidak terlibat dalam politik praktis yang mengganggu tatanan akademik dan bernegara’, dan (11) ‘Tidak melaksanakan dan/atau mengikuti kegiatan yang bersifat kaderisasi/orientasi studi/latihan/pertemuan yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa atau organisasi kemahasiswaan yang tidak mendapat izin resmi dari pimpinan fakultas dan/atau pimpinan universitas Indonesia’.

Karenanya, Fikri mempertanyakan poin 10 tersebut, yang secara tidak langsung menyebut politik sebagai bukan kegiatan ilmiah dan bukan aktifitas bernegara.   “Memisahkan politik dari akademis dan kehdupan bernegara, bukanlah tujuan kampus merdeka, malah sebuah ironi,” ucapnya.

Lebih lanjut Fikri menyatakan, justru politik harus dibangun dengan pendekatan ilmiah, agar demokrasi mampu berdiri secara kokoh dan rasional. Ketika bangsa ini sudah rasional, maka akan mudah melahirkan sosok pemimpin-pemimpin yang kuat, yang mampu membawa negara ini untuk mensejahterakan seluruh rakyatnya, bukan dengan politik uang, politik dinasti.

“Juga bukan bentuk penyimpangan lain yang kita lihat sekarang ini,” tandas Fikri.

Ditambahkan, rezim Perencanaan Pembangunan Nasional di Indonesia masih menganut lima pendekatan, yakni politik, teknokratik, partisipatif, atas-bawah (top-down), dan bawah-atas (bottom-up). 

“Tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kalaupun ada pandangan apolitis atau memisahkan politik dari sistem ini, sebaiknya belajar lagi,” tuturnya.

Secara ide, Fikri sepakat dengan diksi kampus merdeka, dimana tujuannya adalah mempercepat inovasi di Pendidikan tinggi. Tetapi jangan lupa, inovasi itu akan muncul dalam kondisi alam pikiran yang merdeka, bukan dalam pengekangan intelektual, seperti yang sedang dipraktekan dalam pakta integritas tersebut.

Karenanya, poin keempat dalam kebijakan kampus merdeka ala Nadiem Makariem, yakni memberi kebebasan bagi mahasiswa belajar lintas prodi dan di luar kampus, perlu dijabarkan lagi secara teknis. 

“Agar kampus-kampus mampu menerjemahkannya dalam bentuk peraturan kampus yang tidak mengekang kebebasan mahasiswa untuk berpendapat,” pungkas Fikri.


 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita