Kamis, 20/08/2020, 19:02:04
Politik Gerontokrasi Dalam Partai Politik Kita
Oleh: Drs. H. M Sugeng Wibowo, SH, MH, M.Si

(H. M Sugeng Wibowo adalah Dosen Universitas Prasetiya Mulya, BSD Serpong, Tangerang Selatan. Anggota Forum Guru Besar dan Dosen Putera Puteri Brebes/Yayasan Rumah Cinta Brebes)

BERSANDAR pada pemikiran para analis politik, termasuk diskursus di lingkungan akademisi yang sering diperbincangkan tentang makna pentingnya suksesi dan kaderisasi kepemimpinan. Oleh karena suksesi dan kaderisasi merupakan suatu keniscayaan, baik di lingkungan organisasi politik seperti partai politik (Parpol) maupun di lingkungan lembaga pemerintahan.

Dalam perspektif sistem politik demokratis, menurut para analis politik berpandangan bahwa salah satu indikator untuk mengukur apakah suatu sistem demokrasi dapat dilaksanakan secara berkesinambungan atau tidak, dapat dicermati dari proses suksesi dan kaderisasi kepemimpinan

Semakin terarur dan damai dalam proses suksesi dan kaderisasi kepemimpinan, maka dapat dinyatakan bahwa sistem demokrasi sudah dilsksanakan secara baik dan berkesinambungan terjamin. Namun demikian, jika suksesi dan kaderisasi dijumpai adanya kecenderungan tersumbat serta diwarnai dengan gejolak, maka terlihat ada masalah yang serius dalam kepemimpinan.

Jika sudah demikian kondisinya, maka demokrasi sedang menghadapi kendala dan sangat mungkin adanya kesenjangan antara nilai idealitas dengan realitas dalam kehidupan.

Dan sudah barang tentu , demokrasi menjadi semu,  karena suksesi dan kaderisasi dalam tataran struktur politik hanya bersifat prosedural  hanya memenuhi konstitusi partai politik yang terdapat dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangganya .

Nampaknya manakala dicermati ada fenomena yang ganjil dalam suksesi dan kaderisasi kepemimpinan di lingkungan partai politik. Nuansa status quo dalam suksesi dan kaderisasi kepemimpinan  partai politik masih terasa sangat kental.

Lihat saja suksesi kepemimpinan Gerindra sebagai Partai Politik, yang beberapa hari lalu membaiat kembali Prabowo Subianto dalam Kongres Luar Biasa (KLB), untuk kembali menjabat sebagai Ketua Umum masa bhakti 2020- 2025. Begitu pula Partai Politik penguasa PDI Perjuangan yang beberapa periode, terus saja membaiat Megawati Sukarno Puteri sebagai Ketua Umum.

Dalam Partai Politik papan tengan semisal Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan yang dalam memilih Ketua Umum beberapa bulan lalu, terjadi kegaduhan bahkan saling lempar kursi, karena masalah status quo. Padahal PAN sedang merintis jalan kearah konvensi yakni Ketua Umum hanya untuk satu periode.

Nampaknya Partai Demokrat (PD) yang pembentukannya di inisiasi oleh Susilo Bambang Yudhoyono, menyadari akan makna pentingnya suksesi dan kaderisasi di lingkungan Partai Demokrat kepada orang yang lebih muda.

Jika fenomena keengganan untuk menyerahkan suksesi kepemimpinan partai politik kepada orang- orang muda sebagai mana dicontohkan di atas, maka kita sedang menuju ke arah Politik Gerontokrasi, yakni kekuasaan yang di pegang dan di kendalikan oleh orang-orang tua di negeri kita tercinta.

Sementara itu secara demografi di negeri ini menunjukkan semakin meningkat jumlah kelompok usia muda, dengan demikian semakin penting regenerasi dalam partai politik, karena dalam perspektif sistem demokrasi modern partai politik berada pada posisi yang strategis.

Dalam hal usia, Muhammad AS Hikam berpandangan bahwa usia bukan segalanya, soal usia tidak bisa dijadikan sebagai ukuran mutlak dalam hal kapabilitas  serta pengalaman. Hanya saja kita sebagai bangsa yang sedang berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain tentu saja memerlukan energi yang lebih besar dan keberanian yang lebih untuk  mencari alternatif dalam persaingan global yang sangat cepat berubah.

Ada beberapa hal yang menjadi bahan pertimbangan agar para tokoh partai politik sepuh legowo untuk menyerahkan suksesi dan kaderisasi  kepemimpinan kepada orang-orang muda. Mereka harus diberikan panggung politik yang memadai agar pada suatu waktu dapat memimpin bangsa dan negara.

Pertama, bahwa tidak dapat disangkal bahwa  kelompok pemuda di Indonesia dan dunia menempati jumlah penduduk mayoritas. Agar dapat mengambil momentum abad ke 21, sebagai abad perubahan,  perlu di dorong agar dapat memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara Indonesia pada masa kini dan masa yang akan datang.

Kedua, bahwa secara lahiriah pemuda memiliki idealisme yang tinggi , belum banyak terkontampinasi oleh hal - hal yang buruk. Posisi semacam ini semata- mata diperlukan dalam rangka melakukan  perubahan besar

Ketiga, bahwa pemuda di manapun berada baik yang berada di Indonesia, maupun di dunia  belahan senantiasa dituntut untuk memiliki kesegaran energi dan kreativitas yang tinggi. Karena semuanya dimaksudkan untuk dapat berkompetisi  di abad ke 21. Dan diyakini bahwa pemuda Indonesia senantiasa mengikuti perkembangan yang terjadi di manapun.

Keempat, bahwa para pemuda relatif tidak memiliki beban sejarah masa lampau, sehingga derap langkahnya masih lurus tanpa bimbang dalam berjalan.

Tentu saja pemuda yang dimaksud adalah  pemuda yang menjunjung tinggi Pancasila di mana akan meletakkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai landasan moral dan spiritualnya, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab sebagai landasan etikanya, Persatuan Indonesia sebagai acuan sosialnya, Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan sebagai landasan politiknya, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia sebagai tujuan dan goalnya.

Namun celakanya, pada saat ini babyak para pemimpin partai politik , berlomba - lomba untuk dapat mempertahankan kekuasaan dengan menumpahkan segala jurus termasuk trik- trik culas, kalau perlu harus berani keluar uang banyak demi sebuah jabatan Ketua Umum Partai Politik.

Wallahu 'Alam bis Showab. Semoga ada manfaatnya.

Selanjutnya penghargaan dan terima kasih di tujukan kepada: 1. Muhammad AS Hikam (Demokrasi Indonesia: Antara Asa dan Realita), 2. Masdar F Mas'udi (Syarah Konstitusi UUD 1945), 3. J. Syahban Yasasusastra (Astra Brata)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita