Senin, 06/07/2020, 20:38:04
Nasib Para Santri di Tengah Masa Transisi Pandemi Covid-19
Oleh: Andien Sidkin Allya

MEWABAHNYA virus yang disebut sebut  mematikan ini merugikan banyak instansi, ataupun lembaga dan kegiatan masyarakat untuk melakukan kegiatan sehari harinya seperti bekerja dan mencari ilmu.

Pada kondisi ini masyarakat dilarang keluar rumah (lockdown), karena ada himbauan dari pemerintah, masyaraat untuk sosial distanching atau menjaga jarak antar manusia, agar memutus rantai penyebaran corona virus yang sedang melanda dunia termasuk Indonesia. 

Banyak instansii atau lembaga yang menutup kegiatanya seperti sekolah sekolah, karena himbauan dari pemerintah dan dari mentri pendidikan untuk meliburkan. Sama halnya dengan Pondok Pesantren yang ada di Indonesia, untuk memulangkan para santrinya karena ada corona virus yang menyebar. 

Corona virus menyerang siapa saja, dan corona virus menyerang system imunitas pada manusia. Corona menyerang imunitas yang lemah pada manusia, seperti balita dan lansia yang bisa dibilang imunitasnya kecil. Karena anak balita baru membentuk imunitas dan belum terlalu kebal, dan lansia sudah berumur dan system imunitas tubuh menurun dan gampang terkena penyakit lain selain corona.

Pada dasarnya corona virus menyebar melalui udara, didalam pondok pesantren pasti banyak santri dan tidak di terapkanya sosial dixtanching, karna dunia pondok pesantren bebeda dengan sekolah pada umumnya. Sebagai santri segala halnya pasti berbarengan atau bergantian dan sealu beramai ramai, pada saat mengantri mandi pasti usek-usekan (bahasa santri), atau lebih tepatnya desak desakan.

Hal itu melanggar himbauan pemerintah yang menyarankan untuk sosial distanching atau jaga jarak masing masing antar manusia, untuk memutuskan rantai penyebaran virus corona. Ini agar pademi cepatlah berakhir agar masyarakat dapat melakukan kegiatan seperti biasanya dan normal kembali.

Pada masa ini pemerintah sudah mau menerapkan new normal untuk indonnesia tetap sesuai dengan protocol kesehatan yang ditetapkan oleh dunia dan Indonesia. Pada saat ini Indonesia sudah memasuki masa transisi dari PSBB ke masa NEW NORMAL. Pada masa transisi ini sudah banyak lembaga dan instansi, mulai membuka kegiatanya seperti biasanya sama halnya dengan pondok pesantren membuka penerimaan santri baru untuk memulai kegitanya untuk menyebarkan ilmu agama kepada para santrinya.

Santri nya pun merindukan akan teman sepondok nya dan ilmu yang diberikan oleh ustadz dan pakk kyainya. Bagi para tahfizul qur’an ( penghafal Al-qur’an ) pasti merindukan setoran hafalannya dan muroja’ahnya. Di beberapa daerah  sudah banyak pondok pesantren yang mulai membuka penerimaan santriwan dan santriwati baru untuk menyebarkan ilmu agama, dan tetap menggunakan protocol yang ditetapkan pemerintah.

Pada masa transisi ini mayarakat harus waspada karna belum seratus persen wabah virus corona ini hilang dri bumi ini. Wabah corona virus ini belum ada peangkalnya ataupun vaksin yang tepat untuk melawan corona ini, kapan wabah ini berakhir tidak ada yang tau kita hanya bisa berdoa dan ikhtiar untuk menghindari virus ini agar terhindar dari virus ini.

Pendidikan umum pun mulai membuka sekolahnya untuk kegiatan belajar mengajar kembali pada masa transisi ini dan tetap dalam protocol kesehatan menggunakan masker dan sosial distanching. Dan memuli tahun ajaran baru pada masanya. Para santri pun menyiapkan dirinya untuk melewati masa transisi ini  agar sesuai dengan peraturan yang ditetapkan pemerintah, dan menyiapkan diir untu menjaga kesehatan masing masing karna keadaan didunia kesehatan sedang kacau karna adanya virus corona ini.

Pada masa transisi atau bisa dibilaang masa dimana pecobaan untuk memulai kegiatan seperti biasanya ditengah pandemic corona ini masyaraat dan para santri harus jaga jaga atau hati hati, apalagi santri yang bisa dibilang setiap hari setiap waktu selalu bersama sama dan selalu mengumpul , bisa dibilng itu resiko besar untuk tertular , tapi bagi santri insyaaloh alloh melindungi hambanya yang taat kepadanya.

Santri identik dengan seorang yang meninggalkan kampung halaman untuk pergi menimba ilmu agama di sebuah lemabaga pendidikan non formal atau pesantern. Di dalam pondok pesantren, santri hidup secara bersama-sama.

Bahkan dalam melakukan aktivitas sehari-hari pun dilakukan bersamaan. Mulai dari makan, mengaji, belajar, tidur, mencuci, dan kegiatan lain. Di sisi lain, jauh dari kampung halaman harus membuat santri hidup mandiri tanpa orang tua. Santri  juga dituntu untuk belajar agama dengan intens. Dalam proses kehidupan santri, ternyata terdapat beberpa hal yang patut diteladani lho. Berikut lima kehidupan santri yang patut kita teladani

Dalam masa pandemic ini atau masa transisi ini banyak orang tua yang  masih ragu untuk memberangkatkan anaknya untuk  enimba ilmu atau mencari ilmu agama di luar kota atau di daerahnya karna masih mewabahnya corona virud ini yang bisa dibilang membuat para orang tua khawatir akan anaknya yang jauh dari kampong halaman dan jauh dari mereka.

Disisi lain banyak anak yang ingin bertemu dengan kawan dan kyai dan para teman sepondokny untuk sama sama menimba ilmu dan mencari pengaaman hidup yang jauh dari orang tua. Dan ada pula santri yang ingin dirumah bermalas malasan tapi orang tua membolehkan untuk berangkat lagi menimba ilmu di pesanten

Jadi  dari permasalahan yang dialami santri kita menunggu dari pemerintah bagaimana kebijakannya untuk masalah yang kita hadapi saat ini agar kita dapat hidup normal dan tanpa menyambung rantai coroa virus ini untuk berlanjut tapi kita  bisa memutus rantai penyebaran corona. 

(Andien sidkin allya adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesi Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.  Tinggal di Desa Paguyangan RT: 01 RW: 03, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes.  E-mail: allyaandien8@gmail.com)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita