Sabtu, 04/07/2020, 17:14:07
Menyelami Dunia Kedoketeran Melalui Perikardia
Resensi Buku Oleh: Nurul Inayah

Judul Buku: Perikardia. Penulis: dr. Gia Pratama. Penerbit: Mizania. Tahun Terbit: Cetakan 1, November 2019. Tebal Halaman: 336 Halaman. ISBN: 978-602-418-194-9.

“SAYA tidak akan pernah bisa mengingat seluruh buku yang pernah saya baca, seperti saya yang tidak bisa mengingat seluruh makanan yang pernah saya makan. Namun, keduanyalah yang membuat dan membentuk diri saya sekarang ini.” (halaman 135)

“Kita semua tahu bahwa seluruh organ dalam memiliki baju. Bajunya otak kita disebut dengan meningen, bajunya paru-paru kita sebut dengan pleura, dan bajunya organ-organ dalam perut kita sebut dengan peritoneum. Nah, enam tahun terakhir ini adalah bajunya jantung kita, yang kita sebut Perikardia.” Saya berhenti sejenak, sambil menepuk-nepuk dada kiri, perlahan saya melanjutkan kembali, “Singkatan dari Perjalanan indah untuk dikenang, ribet untuk diulang!” Seluruh wisudawan tertawa, lalu bertepuk tangan. (halaman 322)

Sinopsis Buku

Gia tidak pernah menyuntik, membius, menjahit luka, apalagi menyembuhkan orang. Gia tidak pernah membayangkan itu semua. Cita-citanya waktu kecil menjadi seorang astronaut. Diinspirasi Papanya yang seorang penerbang. Dia ingin melihat hamparan bumi yang indah dari kejauhan. Impian yang terus memenuhi kepalanya lebih dari dua decade.

Semua berubah saat Gia masuk Fakultas Kedokteran. Menjadi dokter? Pikirnya berulang-ulang. Saat koas, Gia ditempatkan di kota yang tidak dia kenal seumur hidupnya. Garut. Kesempatan itu membuat pikirannya semakin terbuka.

Kehidupan yang nyaman, serbakecukupan, praktis, dan nyaris tidak terbayang susahnya hidup, saat koas semuanya berubah. Gia yang awalnya terpaksa melakukan pengabdian masyarakat, mendapat pelajaran berharga dan menakjubkan. Bersama teman-temannya, mereka bahu-membahu, membantu siapa pun yang membutuhkan pertolongan.

Saling mendukung, menggali kenyataan tentang tubuh  manusia yang indah tiada dua, dan mengingat tentang tanggung jawab untuk menjaganya. Semua yang dialaminya akan mempersiapkan dirinya untuk ujian sesungguhnya, “ Ujian Tingkat Dewa”.

Perikardia merupakan singkatan dari Perjalanan Indah untuk Dikenang Ribet untuk Diulang. Judul ini memang sesuai dengan isi dari buku. Terlebih lagi cerita ini merupakan kisah nyata dari penulis, mengenai perjalanannya selama menjadi seorang koas di salah satu rumah sakit di Bogor.

Dr Gia berjuang bersama teman-temannya untuk melayani pasien dengan sebaik mungkin. Berbagai kejadian unik dan menarik pun dialami olehnya, mulai dari datangnya seorang pasien yang rahimnya terlepas karena ditarik oleh dukun bayi, hingga suasana malam ketika di ruang mayat.

Buku ini juga sangat mengedukasi bagi kita yang tidak tahu menahu mengenai dunia kedokteran. Namun, tenang saja disetiap istilah kedokteran yang disebutkan dalam cerita, penulis selalu menyertakan footnote, sehingga membuat pembaca memahami. Selama saya membaca buku ini banyak sekali pengetahuan baru yang saya dapatkan.

Banyak hal-hal baru bagi saya yang sebelumnya tidak saya ketahui, seperti menangani ibu yang sulit melahrikan, mengenai kulit, hingga operasi. Menariknya, penulis juga menceritakan kisah cintanya di dalam buku ini, seperti salah satu pengalamannya yang hampir dicium oleh seorang perempuan di ruang koas hingga selalu ada nasi pecel lele di depan kamar kosnya, kira-kira siapa ya yang memberikannya?

Gaya bahasanya pun ringan dan mudah dipahami, bahasanya yang komunikatif juga menambah kenyamanan tersendiri bagi pembaca. Penulis juga kerap kali menyelipkan kata-kata atau kalimat yang indah dan tersusun. Seperti salah satu kalimat yang selalu saja saya ingat,

Bagian tersulit menjadi dokter itu adalah saat kita dianggap ‘Dewa’ oleh banyak orang, tapi di titik tertentu tidak mampu dan tidak berdaya sama sekali untuk mencegah penderitaan, kesakitan, dan kematian. Sekalipun itu terjadi kepada orang yang saya kasihi. Itulah yang menjadi kepedihan yang liar biasa bagi seorang dokter, dan itu diperparah oleh kenyataan bahwa orang yang saya kasihi jumlahnya banyak.

Termasuk siapa pun yang membaca buku ini. Oleh karena itu, Sayangi dirimu, Sayangi dirimu, Sayangi dirimu (Halaman 325)

Tentunya setiap kalimat yang diucapkan mengandung nasihat yang baik dan bermanfaat. Selain dari dokter gia (penulis), banyak dokter-dokter lain yang juga memberikan nasihat yang baik, seperti halnya dokter Johari serta tak kalah menarik nasihat dari orang tua dokter Gia untuk rumah tangganya dengan Fira.

Selain itu, gambar yang mendukung suasana cerita pun menjadi hal menarik lainnya. Penyajiannya pun unik dan tidak terkesan lebay. Gambar dalam cerita ini menambah suasana bagi pembaca, adanya gambar juga menjadikan cerita tidak terkesan monoton dan kosong.

Pentingnya dalam buku ini adalah sebuah kenyamanan pembaca yang terus merasa tertagih untuk membaca, genrenya yang tidak hanya satu membuat pembaca terbawa suasana dalam cerita. Sehingga menjadikan kepuasan tersendiri bagi pembaca.

(Nurul Inayah adalah mahasiswa Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes. Lahir di Purbalingga Mei 2000 di sebuah dusun kecil di lereng Gunung Slamet. Aktif menulis cerita anak, opini dan lainnya di berbagai media. WA: 0877-2810-0020. E-mail: inayahnurul259@gmail.com)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita