Sabtu, 04/07/2020, 10:55:03
Merenda Rasa Lewat Bait Doa
Resensi Buku Oleh: Maya Ulfa Alfianingsih

Judul Buku: Aku Mencintaimu dalam Diam. Penulis: penakecil_id. Tahun terbit: 2016. Halaman: 224 halaman. Penerbit: TransMedia Pustaka, Jakarta. ISBN: 978-602-1036-45-7.

“DOA itu jembatan cinta, penghubung terbaik antara Tuhan dan kita” (hlm. 25), bunyi salah satu kutipan dalam buku Aku Mencintaimu dalam Diam karya penakecil_id yang merefleksikan kekuatan sebuah doa.

Doa adalah hal sederhana sekaligus menakjubkan, sebab sejauh apa pun doa dilantunkan, ia akan tetap sampai. Pun meski dilantunkan secara sembunyi-sembunyi, sebuah doa akan tetap menguar dalam bentuk kebaikan.

Aku Mencintaimu dalam Diam merupakan sebuah buku berisi catatan-catatan mengenai keteguhan dan kesabaran hati seorang manusia dalam sebuah penantian. Senantiasa memanjatkan doa serta menggantungkan harap hanya kepada Tuhan menjadi poin utama dalam buku ini.

Memilih bertahan dalam diam meski hati sangat mencintai, sebab faham bahwa yang baik akan didatangkan pada tempat dan waktu yang tepat. Senantiasa menjaga hati sebab tahu bahwa cinta itu suci dan pantas untuk dijaga.

Kemelut rasa cinta yang mesti disembunyikan diam-diam direpresentasikan dengan begitu mendalam oleh sang penulis. Perihal keyakinan, kerinduan, keikhlasan, serta keteguhan hati begitu lekat terbaca dari buku ini. Sebab tak semua perasaan harus diungkapkan, ada beberapa yang hanya perlu disimpan lantas dibicarakan baik-baik dengan Tuhan, itu bagian dari menjaga.

“Sepasang tulang rusuk meski dipisahkan jarak yang begitu jauhnya pun – jika berjodoh, semesta akan tetap mengembalikannya, bukan?” (hlm. 218), kutipan manis sebagai pengingat diri yang terlalu mengkhawatirkan soal jodoh dan pasangan. Buku ini seolah mengingatkan bahwa Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan.

Maka jika saat ini kau masih sendiri padahal usiamu sudah terlampau matang, jangan lekas bersedih, bisa jadi Tuhan hanya sedang menundanya sebentar lagi, lantas akan mengirimkannya padamu pada waktu yang sangat tepat.

Melalui buku ini, penulis seolah membawa pembaca untuk merasakan bagaimana rasanya mencintai seseorang dalam diam. Melantunkan doa setiap waktu sembari menunggu Tuhan dan semesta memberikan restu. Menikmati setiap debar dalam penantian. Berdiskusi bersama Tuhan serta melangitkan harapan dengan mengatasnamakan satu insan yang sangat diidam-idamkan.

Buku bersampul putih yang berisi catatan-catatan perihal rasa cinta dalam diam ini dikemas dengan bahasa yang sangat manis dan puitis. Setiap kalimatnya memiliki makna yang sangat mendalam. Sang penulis, penakecil_id begitu apik dalam memainkan kosakata sehingga makna yang terkandung dalam buku ini sampai kepada para pembaca. Ya, buku Aku Mencintaimu dalam Diam ini begitu sarat makna. Banyak pesan-pesan kehidupan yang dapat dipetik setelah membaca buku ini.

Selain mengajarkan soal keteguhan dan kesabaran, buku ini juga mengajarkan soal pentingnya berdamai dengan masa lalu. Seburuk apa pun masa lalu, ia tidak perlu dilupakan, hanya perlu diajak berdamai. Sebab Tuhan tidak pernah salah, tidak pernah bahkan saat menempatkan kita pada keadaan yang sangat buruk sekalipun. Selalu ada alasan dan pelajaran yang akan kita dapatkan setelahnya.

Buku yang berisi 56 catatan soal mencintai dalam diam ini tidak pernah bosan untuk dibaca. Sang penulis menyajikan seluruh ceritanya dalam format yang tidak terlalu panjang, sehingga tidak mengundang kebosanan. Potongan-potongan kalimat puitis berhuruf latin diselipkan oleh sang penulis dalam setiap catatannya. Hal tersebut menambah daya tarik bentuk penulisan dalam buku ini.

“Melangitkan doa untuk cinta adalah sebaik-baik mencintai dengan cara yang baik. Aku mencintaimu dalam diamku. Meski diam, bukan berarti aku tidak memperjuangkan.”

“Untukmu, seseorang yang akan menjadi pelengkap takdirku. Meski, untuk sementara kita terpisah jarak, waktu, dan ruang semesta. Semoga kita selalu dipeluk oleh doa yang sama.”

“Aku tidak mengkhawatirkan kita yang saat ini belum jumpa. Karena aku tahu, setiap hal baik akan datang tepat sesuai waktu. Saat waktunya tiba, semoga aku tidak melewatkanmu, begitu pula dengan kamu kepadaku. Sampai jumpa pada pertemuan kita yang akan direstui oleh siapa saja.”

Begitulah rangkaian kalimat yang penulis suguhkan pada sampul belakang buku sederhana yang memiliki isi luar biasa ini. Menggantungkan segala harap hanya kepada Tuhan merupakan pesan yang seolah-olah ingin disampaikan penulis melalui buku ini. Mencintai dengan cara yang baik akan mendatangkan cinta yang baik pula. Senantiasa melantunkan bait doa, sebab hanya Tuhan-lah sebaik-baiknya tempat berpasrah. Selamat merenda rasa lewat bait doa. Selamat membaca.

(Maya Ulfa Alfianingsih adalah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Peradaban Bumiayu (UPB) Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, sekaligus sebagai petugas Rekam Medis dan Pendaftaran di RSU Siti Asiyah Bumiayu, Kabupaten Brebes. E-mail: mayaulfaa597@gmail.com)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita