Jumat, 03/07/2020, 12:12:37
Nyimak Talijiwo Karya Sujiwo Tejo
Resensi Buku Oleh: Ismi Jabah

Judul Buku: Talijiwo. Penulis: Sujiwo Tejo. Halaman: VIII + 176 hlm; 20,5 cm. Tahun Terbit: Cetakan ke 6, 2018. Penerbit: Bentang Pustaka. ISBN: 978-602-291-455-6.

BUKU ini berisi 35 kumpulan cerita pendek (Cerpen) yang terbagi menjadi 5 bagian: Negeri yang Kekurangan Senja, Cinta Bukan tentang Kata, (Bukan) Penjara Kasih Sayang, Tak Sesuci Mereka yang Kena OTT, dan Bertahan dengan Harapan.

Masing-masing bagian terdiri dari 6-8 cerita pendek. Sampul buku ini terlihat sederhana, namun isi buku ini sangat bagus, karena menggunakan kata-kata yang indah dan maknanya sampai kepada pembaca.

Buku ini tidak hanya dipenuhi dengan tulisan, tapi juga ilustrasi artistik. Gambar itu menarik dengan aksen monokrom yang unik. Garis-garis dalam lukisan yang terlihat jelas, seolah menambahkan kesan elok dalam berbagai potret kehidupan yang sedang berusaha digambarkan oleh Sujiwo Tejo.

Secara garis besar, buku ini bercerita tentang peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan dengan diperankan oleh dua tokoh utama bernama Sastro dan Jendro. Berperan menjadi apa saja dalam masing-masing cerita itu. Kadang sebagai teman di salah satu cerita, sepasang kekasih di cerita lainnya, sepasang suami istri, guru dan murid, ibu dan anak, kakek dan cucu, atau tetangga.

Meski setiap cerita memiliki isi dan substansi yang berbeda, Sastro dan Jendro selalu menjadi tokoh tetap yang senantiasa berbagi pendapat tentang kebobrokan negeri ini. Peristiwa yang diangkat dalam cerita yaitu peristiwa-peristiwa kenyataan yang dialami oleh lingkungan sekitar kita. Termasuk isu-isu dalam pemerintahan di negara kita.

Salah satu yang menjadi daya tarik untuk membaca buku ini, di contohkan satu judul di bab pertama. Negeri yang Kekurangan Senja, seolah menjadi sindiran bagi Indonesia yang memang masih memiliki banyak kekurangan, bukan hanya senja.

Dimulai dari kisah sang penghibur jalanan, Sarimin yang kabarnya suka pergi ke pasar hingga kisah pasangan yang gagal lamaran karena abu vulkanik di Gunung Agung. Semua detail cerita menggambarkan permasalahan baik sosial, ekonomi maupun budaya yang terus menggerus Indonesia.

Dalam masing-masing cerita pendek terdapat qoute-quote yang ditulis dengan huruf miring seperti berlatin dan tebal. Beberapa contoh quotes di dalam buku ini yang pasti membuat para pembaca luluh hatinya:

“Bahwa menikah itu nasib, mencintai itu takdir, kau bisa berencana dengan siapa, tapi tak bisa kau rencanakan cintamu untuk siapa...” (Mak Nyuss, 61).

“Senja kukenang pada keningmu, kekasih. Kala kau rebah di antara tangis dan cakrawala” (Sadap, 79).

“Kekasih, bagaimana dapat kita satukan tawa kita sebelum kamu menjadi bagian yang sah dari tangisku?” (Habib, 89).

“Segunung apa pun diamku merenung, tak mungkin aku sampai pada pemahaman mengapa aku mencintaimu, kekasih...” (Tongkol, 102).

“Kekasih, hanya gerai rambutmu yang kubiarkan menjadi tirai dariku ke langit senja...” (Lilin, 140).

“Hanya penantian yang mengenal kadaluwarsa. Dan yang paling sanggup menerjemahkan cinta hanyalah penantian, kekasih...” (Bangkai kadaluwarsa, 167).

Jangan heran dengan kata Kekasih yang sering muncul di gunakan pada quote Talijiwo dan bahasa yang bercampur dengan bahasa jawa, itu yang menjadi ciri khas tersendiri dan menjadi daya tarik bagi pembaca.

Kekurangan pada buku ini secara konten tidak ada. Ide atau gagasan dan pesan yang disampaikan begitu ringan dan mengena. Nilai-nilai yang coba didiskusikan oleh Sujiwo Tejo digambarkan dengan sederhana lewat berbagai kegiatan sehari-hari.

Bagian yang tak kalah menarik mata untuk membaca buku ini ada pada sampul belakang buku yang terdapat sinopsis:

Sudah berapa lama kau terjebak dengan beragam kesibukan yang tak habis-habis itu? Berhentilah berbusa-busa tentang kemerdekaan bila ternyata kau sendiri tak punya waktu luang.

Padahal, hanya di dalam waktu luang manusia bisa berpikir dan merenung tentang bagaimana seyogianya mengisi kemerdekaan hidup.

Maka, waktu luang itu jangan dimampatkan lagi dengan melulu main gadget. Berbincanglah bersamaku. Duduklah di sampingku dan buka ruang imajinasimu. Bersama-sama kita akan larut dalam suara-suara Talijiwo. Mungkin kau akan semakin gelisah, marah, atau justru lupa pada beban dunia. Mari bersama-sama merdeka. Meski kita tetap tak bisa merdeka dari kenangan. Heuheuheuheu ....

Inilah yang membuat menarik dari buku talijiwo, memberikan gambaran tentang kejadian nyata pada negeri ini. Membuat sindiran dengan kata-kata indah yang dapat mengena pada pembaca, memberikan quote-quote yang menyentuh hati setiap membacanya.

(Ismi Jabah adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes. Tinggal di Dukuh Tajur Manis, Desa Buniwah, RT 01/03 Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes. CP: 085727644029)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita