Jumat, 03/07/2020, 08:48:16
Keluarga Yang di Tinggalkan Demi Mencari Ilmu
Resensi Buku Oleh: M. Akhsanul Fikri

Judul  Buku: “Cemburu di Hati Penjara Suci”. Penulis: Ma’mun Affany. Tahun Terbit: 2017 (Cetakan ketiga). Penerbit: Affany. Jumlah: 345 Halaman. ISBN: 978-979-16999-6-9.

SAYYIDATINA dan Azmi dipertemukan oleh pamannya sewaktu usia mereka masih terlalu muda. Kala itu keduanya tidak tahu apa maksudnya, tapi ada firasat pertemuan itu terlahir sebagai awal dari hubungan suci restu ilahi, sebagai awal perjodohan meski belum pasti.

Sayyidatina sebagai santriwati mengagumi seketika, Azmi pun memiliki kesamaan rasa tapi harus disimpan sampai waktu yang ditentukan. Keduanya kemudian tumbuh menjadi mahasiswa di pesantren yang sama meski letaknya berbeda. Sayyi di pondok putri, dan Azmi di pondok putra. Sayyi juga sebagai seorang wanita biasa tak kuat terlalu lama ada dalam ketergantungan rasa dilema cinta.

Malang, Sayyi sudah berada pada pelukan orang selanjutnya tahu bahwa sesungguhnya orang yang benar-benar sayang padanya adalah Azmi hingga tersepuh cemburu pada seorang yang hendak Azmi nikahi. Cerita yang diurai pelan tapi menarik hati perlahan. Sebuah cerita yang mengartikan bahwa cinta tak bisa bertepuk sebelah tangan dan harus diberikan jawaban.

Cerah pagi tetap menyelimuti, mentari muncul di ufuk timur menyembul secuil tebarkan hangat dari pendar cahaya yang ia punya. Tanah tampak basah, sisa gerimis malam terasa sejuk bersepuh embun. Kucing di teras hanya duduk termangu sendirian, pot-pot bunga dihinggapi satu kupu kuning yang silih berganti singgah di kuncup bunga matahari.

Nampak satu rumah terbuka semua jendela serta pintunya, terlihat bapak berkacamata memanaskan motor, ibu menyapu halaman, serta empat anaknya yang bertebar di setiap penjuru rumah. Yang paling kecil Hudri, masih kelas dua SD nampak ia mencari sepeda di gudang ingin menuju pantai bersama teman sekolahnya, kakaknya Nina, ia sibuk berhias depan cermin walau masih kelas dua SMP, Kakaknya lagi Nisa, ia sedang merapikan kamarnya sembari mengganti sprei dan sarung bantal, sedangkan anak pertama hanya duduk tersipu sibuk menjahit jubah putihnya.

Terlihat Hudri lesu dan lunglai, sepedanya dibiarkan terjatuh, Nina yang rambutnya masih terselubung handuk mendirikan sepeda kecil hudri, ia geleng kepala sendiri melihat tingkah adiknya, padahal jam sudah menunjukan angka tujuh, tapi dari pagi entah kenapa hudri belum makan. Nisa melenguh nafas panjang sembari duduk dekat dengan kakaknya, “Hudri belum makan tapi mau main ke pantai “.

Sayyidatina sekadar tersenyum, “ suruh dia makan dulu!”.Sayyidatina hanyalah seorang gadis seolah tak tersentuh, terlanjur dihormati dalam sebuah keluarga menjadi panutan yang dirujuk dan didoakan. Dari dua adik perempuannya ia lah yang memiliki kulit yang putih, matanya paling sipit, pipinya paling bersih,bibirnya tampak merah tipis dan basah, walau kedipnya tak lentik namun tetap menarik.

Sayyidatina, satu-satunya gadis yang hidup di pesantren di antara keluarga yang lain, sudah hampir lima tahun mengalami hidup di wilayah pesantren, hias suci pesantren melekat di hatinya, pelajaran agama menjadi nafas di dadanya, berkerudung, serta berpakaian menutup hampir seluruh badan, tapi kadang saat waktunya pulang menggunakan celana jeans agar bagian pinggulnya menyembul jadi bisa dilihat dari belakang.

Sayyidatina terdiam sejenak, melamun diam, jubah yang dipangku, “Apa Mba selama ini salah Nisa?” Nisa menggeleng, “Tidak Mba, mba tidak salah hanya pesan jangan lupa jika mba punya tiga adik disini, jangan lupa juga, mba sebagai panutan kami, jangan lupa kalau mba sayyi selalu didoakan oleh satu keluarga ini.” Sayyidatina diam, diam di balik kesunyian mendengar celoteh adiknya. Ia kadang egois walau sedikit, ia kadang lupa siapa didekatnya hanya karena memikirkan dirinya , ia terkadang tidak tahu bagaimana sifatnya sendiri.

Sayyidatina tak menyadari akan kesalahannya, ia peluk adiknya dari samping, ia belai ubun adiknya, ia kecup keningnya sembari mengingat hidup yang dialami di pesantren setiap harinya. Berdua bersama di satu ranjang, yang satu terjatuh di pundak kakaknya, tangan yang satu membelainya. Perlahan matahari telah meninggi, sengatan cahaya terasa tak akrab, sepoi angin dari laut terasa tapi hawa yang terbawa gersang  tak memberikan rasa sejuk.

Hudri dan Nina tinggalkan TV bergerak cepat ke dekat nisa, seperti itik mengejar induknya. Mata Hudri melotot, tangannya ingin mencomot, seketika nampan diletakan di meja, Nina dan Hudri pertama kali menjemput gelas. Setelah paman datang sayyi pergi ke kamar.

Di dalam kamar sayyi tak banyak mendengar kecuali hanya bahak tawa yang menggelora, sayyi sedang menengok kedepan cermn almari, mencoba jubah putih yang dijahitnya sendiri, dua tangannya menjinjing, kandang membentang bagian pinggang, sesekali memutar tubuh panjangnya menutupi kaki, ketika dicoba dengan kerudung putih wajah sayyi tampak merona, terang bercahaya, memancarkan keindahan ciptaan tuhan.

Resensi: Ma’mun Affany mengambil tema tentang perjuangan seorang perempuan yang harus berpisah dengan keluarga, dan dengan waktu yang cukup lama. Buku ini berisi tentang perjuangan seorang perempuan. Sangat kental dengan nuansa religius kesantrian yang menawarkan cinta dengan pondok pesantren. Banyak kisah yang mengingatkan kita terutama untuk para perantau, mempelajari ilmu di tempat jauh untuk mengajarkan bagaimana merasakan rindu pada orang yang tersayang.

Dalam tokoh utama yaitu, Sayyidatina dan Azmi menghabiskan waktu yang cukup lama di pondok pesantren bahkan sampai menjadi mahasiswa masih di tempat yang sama namun hanya terpisahkan antara pondok putra dan pondok putri. Novel Cemburu di Hati Penjara Suci, merupakan novel yang masih menggunakan unsur budaya lama, seperti kehidupan di pesantren yang dari dulu hanya seperti itu.

Ma’mun Affany menulis sejak di pondok pesantren , sudah banyak saja karya yang diciptakan bahkan sudah sampai ribuan karya, Novel pertamanya, Adzan Subuh Mengempas Cinta. Kedua, Kehormatan di Balik Kerudung. Ketiga, 29 Juz Harga Wanita. Keempat, Satu Wasiat Istri untuk Lelaki. Kelima, Cemburu di Hati Penjara Suci. Keenam, Doa Anak Jalanan, dan yang Ketujuh, Saatu Jodoh Dua Istikharah.

Aktivitas Sehari-harinya dihabiskan untuk mengelola Yayasan Bina Qalam Indonesia sebagai Senior Manager, dai Perkotaan Yayasan Dana Sosial Al Falah, mengeola konsultan media cetak. Tulisan-tulisan singkatnya seputar dunia pra nikah dan keluarga bisa dinikmati. 

Kelebihan dari buku ini tidak lain tidak bukan yaitu sebagai inspirasi perjuangan dari seorang anak perempuan yang ingin dimasukan ke pesantren oleh ayahnya, dalam buku ini juga bercerita juga tentang kasih sayang, cinta serta agama.

(M. Akhsanul Fikri, lebih akrab dikenal Fikri adalah mahasiswa di Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes. Pria kelahiran 10 Desember 2000 ini memiliki hobi menulis, membaca novel, bermain sepakbola. Tinggal di Dukuh Panisihan. Taraban RT:06 RW:01, Paguyangan, Brebes)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita