Kamis, 02/07/2020, 19:16:34
Nasib Mahasiswa Akibat Pandemi Covid-19
Oleh: Elyn Dwi Agustin

Ilustrasi mahasiswa mengikuti kuliah online dari rumah. (Foto: Dok)

VIRUS Corona atau Covid-19 mulai merambah ke Indonesia sejak bulan Februari 2020. Hingga sampai saat ini angka positif Corona masih saja meningkat. Menurut Achmad Yurianto selaku juru bicara Penanganan Covid-19 dalam konferensi pers mengatakan data angka positif Corona per tanggal 1 Juli 2020 mencapai 57.770 kasus. Angka tersebut meningkat dari hari sebelumnya yaitu bertambah sebanyak 1.385.

Masyarakat Indonesia semakin mengeluh akibat adanya pandemi Covid-19. Banyak sekali dampak kerugian yang kian timbul, baik bagi negara, pemerintah, masyarakat, dan pastinya juga para pelajar khusunya Mahasiswa. Sudah sekitar 3 bulan lebih pemerintah menerapkan sistem belajar mengajar di rumah, kampus diliburkan dan mahasiswa dituntut untuk mengikuti perkuliahan secara daring (dalam jaringan).

Tidak bisa dipungkiri bahwa teknologi yang ada sekarang pastinya turut andil dalam hal ini. Semakin canggih teknologi semakin mudah pula kita berinteraksi dengan orang lain tanpa harus bertemu langsung. Begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh mahasiswa dan dosen dalam pandemi saat ini. Tanpa harus tatap muka pun kegiatan perkuliahan tetap bisa berjalan dengan bantuan teknologi yang ada.

Kuliah online yang sedang dijalani oleh para mahasiswa sekarang tentunya menimbulkan banyak keuntungan dan juga kerugian. Yang menjadi keuntungan antara lain, mahasiswa dan dosen punya banyak ruang untuk melakukan kegiatan perkuliahan, yang artinya kegiatan perkuliahan dapat dilakukan di rumah masing-masing.

Media yang dapat digunakan tentunya banyak, baik itu melalui grup WhatsApp, Zoom, Ms Teams, dan lain sebagainya. Hal ini memudahkan mahasiswa dan dosen untuk menggunakan media yang ada sebagai pilihan dalam melaksanakan perkuliahan daring. Mahasiswa dan dosen juga menjadi lebih memanfaatkan teknologi yang ada di zaman modern seperti sekarang ini.

Selain keuntungan diatas, tidak sedikit pula kerugian yang dialami oleh mahasiswa selama melaksanakan perkuliahan. Diantaranya, mahasiswa mengeluhkan penggunaan kuota yang semakin boros. Pengeluaran kuota pastinya bertambah semenjak diberlakukan kuliah secara online. Mahasiswa dituntut agar selalu stay on selama perkuliahan agar tidak tertinggal saat kelas berlangsung.

Penggunaan internet yang semakin sering menyebabkan mahasiswa harus mengeluarkan budget lebih banyak untuk pembelian kuota internet demi tetap bisa mengikuti perkuliahan daring. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan mahasiswa mengeluhkan adanya penerapan kuliah online.

Sinyal susah, menjadi alasan mahasiswa selanjutnya. Terutama bagi mereka yang bertempat tinggal jauh dari perkotaan. Mereka yang tinggal di daerah terpencil terpaksa bergelut dengan sinyal yang ada di daerah tempat mereka tinggali.

Penerapan kuliah online semakin dikeluhkan oleh mahasiswa karena berbagai kendala yang dialami. Terlebih lagi dengan beberapa kampus yang mengharuskan mahasiswanya untuk membayar biaya kuliah secara full, sedangkan mahasiswa tidak merasa menggunakan fasilitas kampus yang ada karena selama pandemi mereka melaksanakan perkuliahan yang tentunya dilakukan di rumah masing-masing.

Pihak kampus yang tidak memberikan keringanan membuat mahasiswa semakin mengeluh. Walaupun pihak kampus juga tentunya mempunyai alasan mengapa tidak memberikan keringanan untuk mahasiswa selama diberlakukannya kuliah online, namun tetap saja mahasiswa tidak bisa menerima keputusan yang ada karena mereka merasa terbebani.

Selain itu, mahasiswa juga mengeluhkan sistem pembelajaran yang kurang efektif. Perkuliahan yang dilakukan secara virtual bagi sebagian mahasiswa dirasa kurang bisa dipahami dengan baik. Perkuliahan yang dilakukan secara langsung atau tatap muka dinilai lebih efektif karena bisa berinteraksi dengan dosen secara langsung tanpa terkendala apapun seperti yang dialami pada saat perkuliahan daring. Cara setiap dosen dalam mengajar tentunya berbeda-beda, begitupun dengan cara mahasiswa dalam memahami materi yang disampaikan oleh dosen mereka masing-masing.

Jenuh dengan keadaan yang terjadi sekarang pastinya semakin kita rasakan, tetapi kita juga harus memikirkan baik dan buruknya. Nasib mahasiswa tergantung dari setiap individu masing-masing, jika kita memikirkan hal ini selalu buruk, maka yang akan terjadi dalam diri kita juga akan buruk seperti apa yang kita pikirkan.

Tetapi, jika kita selalu berfikir positif akan apa yang sudah kita jalani, maka kedepannya juga akan ada nasib baik untuk kita. Tentunya tidak ada satupun dari kita yang menginginkan pandemi ini terjadi.

Apapun yang sedang kita alami sekarang patut kita ambil hikmahnya saja. Dan teruntuk para pelajar di Indonesia khususnya mahasiswa yang sedang merasakan dampak dari penyebaran Covid-19, kita cukup patuhi peraturan pemerintah yang ada dan selalu mengikuti protokol kesehatan dimanapun.

(Elyn Dwi Agustin adalah Mahasiswa Jurusan Farmasi  diUniversitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Tinggal di Dukuh Kramat, Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita